in

14 Jam Denpasar-Malang

Beberapa waktu lalu, saya melakukan perjalanan dari Denpasar ke Malang dengan menggunakan Shuttle Bus. Nama kerennya, sih, shuttle bus, tapi orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan naik travel. Entah kenapa disebut travel, mungkin karena dulunya hanya travel agent yang mengelola shuttle semacam ini. Mungkin, lho ya. Saya juga nggak tau pastinya gimana.

Perjalanan ini adalah perjalanan tanpa rencana. Bekal pas-pasan, nggak tau tujuannya kemana, bahkan nggak tau mau tinggal dimana setelah di Malang nantinya. Modal saya cuma satu yaitu kenekatan. Eh, nggak benar-benar nekat juga sih, karena saya juga pegang uang cadangan untuk modal darurat nantinya.

Perkiraan waktu yang ditempuh dari Denpasar ke Malang sekitar 14 Jam, mungkin lebih. Kebanyakan yang terjadi memang lebih dari 14 jam, bisa sampai 18 jam-an.

Nggak ada yang menarik dari perjalanan panjang melalui darat seperti ini. Nggak ada pemandangan yang bisa dinikmati. Gimana mau menikmati pemandangan, perjalanannya malam semua, je.

Yang ada hanya berusaha duduk diam dan melewati waktu dengan berbagai cara yang memungkinkan untuk membunuh kebosanan. Saya sudah mencoba berbagai cara mulai dari mendengarkan musik, nonton youtube, baca buku, main game, scrolling sosial media, semua nggak bisa membunuh kebosanan dari perjalanan yang panjang itu.

Eh, tapi, ada satu cara yang paling efektif yang dilakukan banyak orang untuk perjalanan semacam ini, yaitu tidur. Dan, saya bermasalah dengan ini. Saya nggak bisa tidur dalam perjalanan. Seberapapun saya mencoba memejamkan mata, tetap saja pikiran saya nggak membiarkan saya tertidur.

Perjalanan ini memberikan setidaknya tiga kali kesempatan untuk beristirahat. Eh, bukan beristirahat juga, sih, lebih pada keluar mobil untuk melegakan panasnya pantat dan pinggang karena kelamaan duduk. Dan, bagi perokok seperti saya, kesempatan ini adalah sebaik-baiknya kesempatan untuk merokok.

Kesempatan untuk merokok adalah sebuah privilege, karena nggak setiap saat datangnya. Itupun harus disertai dengan keterbatasan waktu. Belum lagi harus disertai dengan rasa sungkan karena harus melewati penumpang lain yang sedang tertidur. Nggak enak kan bangunin orang tidur hanya karena ingin merokok? Tapi, karena keterdesakan hasrat, tetap saya lakukan juga.

Penyedia jasa perjalanan menyertakan satu kali kesempatan untuk makan malam. Eh, bukan makan malam seperti biasa yang ada di rumah atau warteg dimana nasi dan lauk lebih beragam dan memancing selera. Makanan yang disediakan hanya sepiring nasi dengan 2 pilihan lauk, ayam goreng dan telur atau ayam goren dan perkedel. Sayurnya bebas, tapi… yah begitulah.

Susah rasanya untuk tidak melahap makanan ini, karena memang nggak ada pilihan makan lain dan perut saya terlalu lapar. Cuma triknya, perbanyak sambalnya biar paling nggak rasanya nggak terlalu aneh.

Perjalanan darat ini memang banyak sekali menguras tenaga, lelahnya berasa banget. Belum lagi badan yang pegal-pegal di sana-sini, masuk angin karena angin malam, dan mata sepet karena kurang tidur. Dorongan kopi-pun nggak cukup untuk membantu memperbaiki keadaan.

Tapi, dalam menjalani perjalanan ini, saya menyaksikan ada banyak sekali orang-orang kuat yang sanggup untuk melalui perjalanan seperti ini secara rutin. Ada supir yang menghabiskan hari-harinya untuk mengantarkan orang demi menafkahi keluarganya.

Saya yang cuma penumpang aja merasakan lelahnya, apalagi supirnya yang harus terjaga selama perjalanan. Nggak terbayang seberapa energi yang dimiliki oleh supir ini untuk bisa melakukan perjalanan panjang seperti ini berulang kali. Dia harus melawan ngantuk, lelah, dan kebosanan tanpa bisa melakukan apa-apa selain terjaga di depan setir.

Ada bapak yang mengantarkan anaknya ke sebuah pesantren, ada ibu-ibu yang ditunggu anaknya di ujung perjalanan, ada seorang pemuda yang kembali dari liburannya, ada juga pacar yang ditunggu kekasihnya di ujung sana.

Ada banyak wajah-wajah kuat yang sanggup menjalani perjalanan melelahkan ini tanpa keluh kesah, tanpa harus pamer sana-sini, tanpa label apa-apa. Mereka melakukannya karena cinta mereka pada orang-orang yang sedang menunggu di ujung sana. Mereka melakukan apa yang mereka bisa untuk orang-orang yang mereka sayangi.

Nggak pakai luxury-luxury-an. Cuma melakukan yang terbaik yang mereka bisa. Mungkin begitulah yang dimaksud dengan mencintai dengan cara sederhana. Mencintai dengan apa yang mereka bisa, tanpa harus banyak teori. Mencintai dengan rela melakukan perjalanan yang melelahkan. 14 jam bukanlah apa-apa dibanding dengan manisnya kasih sayang yang sedang menunggu di ujung sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − five =

Menanam Jagung

Tutorial Bermimpi