in

Ada Bau di Pesawat Lion Air

Perjalanan kali ini adalah perjalanan percobaan untuk menguji asumsi saya mengenai Lion Air, Maskapai yang dicitrakan banyak masalah itu. Soal delay, dan masalah-masalah lainnya saya abaikan saja. Sudah terlalu sering saya dengarkan. Saya juga bukan siapa-siapa untuk terlalu menuntut ketepatan waktu. Yang saya cari tiket murah, je.

Ada kualitas ada harga, begitu hukum ekonominya, bukan? Jadi, saya memilih untuk memberi permakluman sebagai kompensasi atas harga yang saya bayarkan. Memang begitu, kan, ketika bepergian dengan budget minim. Kita harus selalu siap dengan hati yang lapang dan permakluman yang lebih banyak.

Berita terakhir mengenai maskapai ini adalah soal jatuhnya salah satu pesawat di Tanjung Karawang. Hebohnya berita ini sudah kemana-mana. Bahkan cenderung untuk simpang siur. Apalagi ketika berita ini bersinggungan dengan yang namanya netijen yang maha benar. Ah, sudahlah, nggak usah dibahas kalau sudah begini.

Asumsi saya adalah, setiap maskapai akan memperbaiki pelayanan sesaat setelah ada berita buruk yang menerpa mereka. Bukan hanya maskapai saja, hampir semua jenis usaha akan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki citra mereka setelah ada berita buruk. Mereka nggak akan membiarkan citra yang buruk bertambah buruk. Bisa bangkrut mereka. Atas dasar asumsi inilah saya memilih Lion Air untuk terbang ke Semarang. Selain karena harga tiketnya yang memang paling murah saat ini.

Perjalanan ke Semarang ini terbilang perjalanan yang lucu. Menyebalkan, sih, tapi lucu. Mulai dari bandara Ngurah Rai, saya dua kali pindah pintu keberangkatan hanya karena salah dengar informasi. Gimana mau mendengar dengan baik, kalau ditelinga saya menempel headset. Yang menyebalkan sebenarnya bukan pindah pintu keberangkatannya, tapi jalan kakinya. Benar-benar melelahkan.

Belum lagi terminal keberangkatan domestik Ngurah Rai sangat tidak ramah dengan perokok. Jarak antara parkir, pintu keberangkatan, dan ruang merokok bisa membuat anda terkesima, terpana bahkan tercengang. Saya yang menjalaninya langsung tersungkur. haha.

Perjalanan kemanapun ketika menggunakan pesawat saya akan selalu mengeluhkan desain dari Ngurah Rai. Entah siapa penyusun tata letak masing-masing ruangan ini, yang pasti saya berharap orang itu nggak digunakan lagi. Karena, saya nggak mau bandara lain meniru keburukan tata letak dari bandara Ngurah Rai.

Kelucuan berikutnya adalah ketika di dalam pesawat. Begitu pesawat take off dan penumpang dibebaskan dari sabuk pengaman, saya mencium bau enak dan gurih. Bau yang begitu familiar, tapi, saya lupa itu bau apa.

Saya sempat mencurigai itu bau makanan yang biasanya ditawarkan oleh pramugari di dalam pesawat. Tapi, pramugarinya nggak terlihat membawa kereta makanan saat melintas. Atau, jangan-jangan makanan dalam box seperti yang ditawarkan biasanya. Tapi, lagi-lagi saya nggak melihat adanya pramugari mengedarkan makanan dalam box.

Lama saya mencoba mengingat, menggali ingatan, dan mengeksplorasi setiap sudut memori saya. Tapi, saya belum juga menemukan jawaban bau apa itu sebenarnya.

Mungkin, ini mungkin, lho. Karena semesta nggak menghendaki rasa penasaran saya berlarut-larut, akhirnya tersibaklah misteri tentang bau tersebut. Dari celah kursi di depan saya terlihat kalau mbak-mbak yang duduk di depan saya sedang nyemil ayam goreng KFC. Eh, ayam goreng tanpa nasi atau kentang dihitung camilan, lho. Bukan makanan.

Saya cuma bisa cengar-cengir sendiri melihat keadaan itu. Cengar-cengir sambil menahan air liur yang ikut menetes terpicu oleh bau tersebut.

Tega sekali si mbak di depan saya itu. Dia nggak memikirkan perasaan saya. Perasaan tersiksa karena harus menahan air liur dan lapar selama kurang lebih satu jam. Ditambah, si mbak nggak noleh, nggak nawarin juga. Padahal, kan, saya juga mau sebenarnya.

Karena kesal dan dendam. Saya bulatkan tekad untuk makan ayam goreng KFC ketika mendarat nanti. Tidak boleh tidak, saya harus makan yang banyak untuk memuaskan hasrat balas dendam saya. Dada saya bergemuruh ketika mengikrarkan tekad itu. Seperti dendam kesumat yang sudah merasuk dalam dada. Pokoknya setelah mendarat saya harus langsung makan ayam KFC yang banyak.

Dan, setelah mendarat, saya hanya mampu makan dua potong dari tiga ayam yang saya beli. Sisanya saya usahakan untuk menghabiskan karena sayang kalau disisakan. Alhasil, perut saya kembung kekenyangan. Duduk terasa nggak enak, rebahanpun entah mau dimana.

Pengalaman ini menyadarkan saya kalau dendam itu ternyata nggak baik. Ingat, dendam itu nggak baik sodara-sodara. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + twenty =

Bunuh Diri

Yang Waras Ngalah