in

Arak yang Istimewa

Belakangan ini, banyak sekali orang yang secara sadar atau tidak menganggap arak buruk untuk kesehatan. Padahal, jangankan untuk mengerti, mengenalpun mereka tidak. Jangankan mengenal, mencicipinya pun mereka belum pernah. Tapi, mereka begitu mudah melabeli arak sebagai sesuatu yang buruk. Seolah-olah nggak ada manfaat yang didatangkannya. Seolah arak hanya mendatangkan masalah bukan yang lain. Seolah arak adalah perusak kesehatan dan masa depan generasi muda.

Padahal, kalau kita telisik lebih dalam. Kesehatan dan masa depan generasi muda bukanlah tergantung dari ada atau tidaknya arak. Logikanya sederhana, arak telah lahir sebelum generasi sekarang ini ada. Arak telah ada sejak lawas, saking lawasnya, nggak ada yang tau kapan arak pertama kali ada dalam kehidupan masyarakat Bali. Lalu, apakah generasi muda terdahulu rusak? Atau generasi mana yang masa depannya rusak karena arak?

Memang, meminum arak secara berlebihan yang dilakukan setiap hari bisa mengakibatkan gangguan kesehatan. Tapi, itu adalah efek samping dari begadang dan kurangnya istirahat, bukan karena arak itu sendiri.

Belum lagi orang yang minum dan lupa makan, sudah pasti kesehatannya terganggu karena asupan gizi untuk tubuh yang kurang. Kombinasi kurang istirahat dan kurang gizi adalah penyebab utama gangguan kesehatan itu, tapi tetap, araklah yang bersalah atas itu semua.

Ada banyak pemberitaan yang seolah menyudutkan arak sebagai penyebab dari berbagai masalah. Ada orang ribut dan saling bunuh, arak yang disalahkan. Padahal, penyebab mereka saling bunuh adalah masalah pribadi mereka.

Kemudian ada yang saling cincang antara suami istri, arak juga yang disalahkan. Padahal, arak bukanlah sesuatu yang menjadi pemicu dari masalah tersebut.

Kebetulan arak lebih sering berada pada tempat yang salah, hingga selalu menjadi kambing hitam atas banyak konflik yang terjadi di masyarakat. Arak kerap hadir pada manusia yang sedang galau jiwanya. Arak kerap menjadi pelarian dari orang-orang yang bermasalah.

Dia bisa meredakan tegangan atas sebuah masalah. Paling tidak, arak kerap kali membantu untuk memberi sedikit jeda pada diri seseorang atas masalah yang sedang membebaninya.

Saya sering meminum arak. Minuman tradisional yang menurut saya lahir untuk membantu orang bergembira. Ada cita rasa kegembiraan yang hadir setiap kali arak itu ada. Ada canda tawa, ada nyanyi-nyanyi dan ada banyak kisah lucu yang membawa kegembiraan. Hal-hal yang justru membuat arak itu istimewa dalam lingkungan pergaulan saya.

Bisa saja arak diganti dengan minuman beralkohol lainnya, tapi, untuk kami, kualitas kegembiraan yang dihadirkan arak justru berbeda. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat arak tidak mungkin dihilangkan dari keseharian orang Bali. Terlepas dari segala pro dan kontra atas kehadirannya.

Saya masih ingat, ketika dulu kelas 2 SMA, sekitar tahun 99-2000an. Ada satu kaset yang dibawa seorang kawan saya dari Karangasem. Kaset itu adalah kaset genjek. Ketika itu, istilah genjek terdengar asing bagi saya. Tapi, begitu diperdengarkan, saya merasa ada keunikan tersendiri pada kesenian ini.

Genjek adalah kesenian tradisional yang mirip dengan akapela. Beberapa orang berkumpul dan duduk melingkar sambil bernyanyi. Ada yang mengeluarkan bunyi-bunyian mirip gamelan, ada yang menyanyi dan menyuarakan lagunya. Semuanya dipadukan menjadi sebuah lagu yang unik. Mirip seperti lagu yang dinyanyikan secara akapela. Umumnya genjek menggunakan bahasa Bali dengan logat Karangasem. Logat unik yang sangat khas dengan menyertakan kisah-kisah lucu dalam lagunya. Rerata lagu genjek adalah lagu lucu yang merupakan realita di masyarakat.

Menurut cerita kawan saya, genjek ada sebagai bagian dari budaya minum arak. Tanpa arak, para penyanyi genjek seperti kehilangan suara. Mereka dikatakan kurang percaya diri. Setelah beberapa teguk arak, secara otomatis genjek hadir dalam kumpulan itu. Kebanyakan lagu-lagu yang dinyanyikan adalah hasil improvisasi saat itu juga. Tanpa lirik yang dicatat atau dihafalkan, tapi langsung dinyanyikan saat itu juga. Karena keunikan lirik dan lagunya, kemudian genjek ini direkam dalam bentuk kaset.

Cerita kawan saya yang lain berbeda lagi. Tersebutlah di desanya. Saya lupa nama desanya. Ada seorang bapak tua yang sehari-harinya bertani. Umurnya sudah lebih dari 60 tahun, bahkan menuju 70 tahun. Setiap harinya blio menegak paling tidak 3-4 gelas arak sebelum berangkat ke sawah. Tanpa arak, blio tidak produktif, bahkan seperti tanpa gairah untuk menggarap sawahnya. Tapi, begitu ada arak, produktifitas blio di sawah justru lebih baik.

Sehari-harinya semua dilakoni begitu. Makan pagi, trus minum arak, kemudian berangkat ke sawah. Pernah karena kelangkaannya, arak tidak tersedia di pasaran. Alhasil si bapak tua tadi tidak kesawah, bahkan berhari-hari blio tidak menggubris sawahnya. Hingga kemudian semua kembali normal saat arak mulai tersedia di pasaran.

Ada lagi cerita kawan saya yang lain. Seorang kawan yang begitu cemerlang berbicara perihal spiritualitas ketika arak itu ada. Banyak filsafat yang disederhanakan dengan bahasa yang membumi ketika dia bersentuhan dengan arak. Banyak pemikiran mendalam yang justru jadi sederhana olehnya ketika meminum arak.

Ada banyak cerita istimewa tentang keberadaan arak dalam kehidupan masyarakat Bali. Tapi, cerita burukpun banyak menyertainya. Perkelahian berdarah, saling bunuh satu sama lain, kecelakaan karena berkendara dalam keadaan mabuk, hingga pertengkaran dalam rumah tangga karena kemabukan dan mudahnya ketersinggungan itu terjadi.

Kita sering lupa bahwa arak adalah minuman, sama seperti minuman lainnya. Arak tidak memiliki kontrol atas diri kita. Kontrol sepenuhnya ada pada diri kita sendiri. Baik dan buruk perbuataan kita ada pada kontrol kita sendiri. Banyak cerita gembira dan menyenangkan yang selayaknya tidak kita lupakan. Cerita dimana orang berkumpul dan bergembira ketika meminum arak. Cerita dimana canda, tawa dan kisah-kisah lucu terjadi diatasnya.

Orang-orang tidak bertanggung jawablah yang menggunakan arak sebagai kambing hitam atas perbuatannya. Orang-orang yang nggak paham bahwa arak itu ada untuk bergembira, bukan untuk menjadi masalah. Lalu, apakah kita harus menghilangkan arak karena orang-orang nggak bertanggung jawab itu? Apakah kita akan selalu menyalahkan arak atas segala prilaku buruk orang-orang lemah yang tidak bisa mengendalikan dirinya itu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 − one =

Wiraswasta Tubuh

Theist dan Atheist