in

Ayu

Ayu adalah perempuan dengan pemikiran yang sangat sederhana. Dia memilih untuk mewiraswastakan tubuhnya daripada pacaran. Karena, menurut dia, pacaran itu ribet. Yang ada, semua hasil kerja kerasnya habis sia-sia karena pacaran. Mungkin, karena pengalaman buruk itulah si Ayu enggan berpacaran. Menurut dia, rerata laki-laki kalau dikasi hati mintanya jantung. Sudah disayangi, sudah dikasi perhatian eh malah minta uang terus.

Lagian, menurut Ayu, yang dicari ketika orang pacaran itu apa sih? cuma seks semata kan? bukan hal lain. Jadi, omong kosonglah yang namanya itu cinta-cintaan atau romantis-romantisan. Toh, semua juga berujung pada seks. Lebih baik seperti sekarang ini. Selain dapat kenikmatan bercinta dan berganti-ganti orang. Bisa juga dapat uang, lumayan untuk ditabung untuk bekal nikah nanti. Dan yang penting, nggak ribet karena harus ngurusin pacar yang cuma bisa bikin sakit hati.

Sesederhana itu cara berpikir Ayu. Dari kesederhanaan inilah dia mencoba mewiraswastakan tubuhnya. Pasar yang dipilih adalah pasar online. Dia menawarkan dirinya di media sosial, tepatnya twitter dan facebook. Ayu menawarkan kenikmatan 1 jam dengan tarif 350 ribu all in. Artinya, pelanggan tinggal datang bawa diri saja. Masalah penginapan dan segala tetek bengek urusan senggama itu di sediakan oleh Ayu.

Ayu adalah anak tunggal. Sehari-harinya dia bekerja sebagai marketing sebuah perusahaan properti. Gaji yang dia terima terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Kedua orang tuanya sudah berpisah, tapi nggak bekerja. Biaya bulanan keduanya dia yang tanggung. Beban orang tuanya ini adalah salah satu alasan untuk Ayu mencari penghasilan tambahan.

Beberapa tempat di Facebook memang menjadi ajang berkumpulnya para PK (penjahat kelamin). Isinya para lelaki hidung belang yang suka mencicipi berbagai bentuk perempuan. Mulai dari cabe-cabean usia 19 tahunan, hingga tante-tante usia 40 tahunan. Mereka padu dalam satu ruang untuk saling tukar kontak. Kemudian ada chat whatsapp dan berlanjut pada Kopdar (kopi darat) untuk memadu syahwat dengan tempat dan tarif yang sudah ditentukan.

Rerata para PK adalah lelaki yang sudah beristri. Mereka kebosanan dengan suasana rumah. Mereka perlu tempat sekedar mengalihkan jenuh mereka akan istri. Bisa dibilang mereka ingin main-main yang aman. Mereka nggak mau punya pacar. Karena, bisa runyam urusan dengan istri mereka. Apalagi pacar yang suka cemburu, bisa-bisa rumah tangga berantakan. Memiliki simpanan pun rasanya akan tambah runyam, apalagi simpanan yang tuntutannya macam-macam. Apalagi jaman sekarang ini, punya simpanan itu ngeri.

Selain itu, ada juga lelaki yang ingin mencicipi sensasi berbeda. Sensasi berbagai macam gaya yang belum bisa dilakukannya dengan istri. Fantasi mereka terbangun dari hasil menonton film porno. Mereka ingin mencicipi semua gaya yang ditawarkan itu. Terutama untuk sensasi 3 some, baik itu dengan 2 perempuan dan 1 laki, atau 2 laki satu perempuan. Yang mana, sensasi semacam ini tidak mungkin bisa mereka lakukan terhadap istri mereka dirumah. Belum lagi berbicara tentang sensasi yang lebih asoy, semisal bercinta dengan perempuan montok, kurus, kecil, hingga perempuan hamil.

Eh, ada lho para lelaki yang suka sekali berhubungan dengan perempuan hamil. Entah mereka cuma bisa terangsang dengan kehamilan atau yang lainnya. Tapi, setahu saya, mereka merasakan kenikmatan tersendiri ketika melakukannnya. Semakin tua usia kehamilannya, semakin nikmat menurut mereka. Entah ini bisa dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan atau enggak. Yang pasti, mereka ada dan penyedia jasanya juga ada.

Kita belum berbicara tentang kesepian para lelaki paruh baya yang ingin merasakan lagi sensasi manja-manjaan. Sensasi yang pernah mereka rasakan ketika muda dulu. Belum lagi ada beberapa orang yang hanya ikut-ikutan. Hanya ingin membanggakan diri bahwa dia bisa mencicipi sekian banyak perempuan. Atau, ada juga anak muda yang ingin mengecap manisnya pengalaman bercinta dengan para profesional.

Satu lagi, Ada juga lho jasa perempuan bule atau perempuan impor. Mereka menawarkan jasanya mirip dengan yang dilakukan oleh Ayu. Penawaran mereka lakukan melalui sebuah aplikasi chat. Mereka akan sebutkan dimana lokasi dan waktu mereka menawarkan jasanya. Banyak kok lelaki yang berani mengeluarkan uang hingga 1,5 juta bahkan lebih untuk pelayanan 1 jam dari mereka. Untuk menikmati sensasi jasa dari mereka.

Ayu ada dalam lingkaran para lelaki itu. Wajahnya tidak begitu cantik, tapi nggak bisa juga dibilang jelek. Biasa saja. Tapi, yang Ayu tawarkan adalah pelayanan yang memuaskan. Ayu adalah perempuan Siaga (siap melayani gaya apa saja). Memang begitulah Ayu dikenal dalam komunitas PK itu. Jadi, kalau ada yang mau cari sensasi bercinta ala film porno dengan sensasi semua gaya, mereka akan mencari Ayu. Dengan jadwal dan tempat yang sudah ditetapkannya.

Menjalani profesi seperti Ayu tidaklah mudah. Saya nggak setuju dengan mereka yang mengatakan pekerjaan Ayu itu mudah. Uang yang mereka dapatkan sebenarnya nggak sebanding dengan resiko pekerjaannya. Mereka bisa saja berhadapan dengan orang-orang jahat yang nggak segan-segan melakukan kekerasan terhadapnya. Belum lagi resiko penyakit menular seksual bahkan HIV/AIDS. Belum lagi resiko tertangkap polisi dan dipermalukan secara sosial jika ketahuan oleh keluarganya.

Belum kita berbicara tentang mengatur perasaan ketika harus bertelanjang dengan berbagai macam orang. Nggak mudah lho melakukan ini. Normalnya, setiap orang merasakan ketertarikan terlebih dahulu untuk kemudian bisa menikmati hubungan seksual itu. Bayangkan, tanpa ketertarikan, tapi harus melakukan hubungan badan dengan orang. Sering kali Ayu harus menahan sakit pada vaginanya. Sebabnya nggak lain karena cairan pelumas yang diproduksi oleh vaginanya nggak keluar karena dipaksakan berhubungan seksual. Ada banyak hal dalam dirinya yang harus dia lawan untuk bisa menjalani profesinya.

Penawaran jasa secara freelance atau pekerja bebas seperti yang dilakukan oleh Ayu telah banyak ada. Bukan hanya dilakukan oleh Ayu. Melainkan oleh banyak perempuan lainnya. Dukungan teknologi yang ada sekarang ini justru membuat semua bisa berjalan lebih aman. Tanpa terendus oleh pihak keamanan. Toh tidak ada yang dirugikan dalam hal ini. Mereka hanya sedang terlibat pertukaran jasa. Sama seperti jasa lainnya. Jasa yang mereka tawarkan dibayar dengan uang, itu saja. Meski, dibalik itu semua ada tipun menipu yang dilakukan oleh oknum tertentu, itu biasa. Karena, hampir setiap bidang pekerjaan toh ada oknum penipu didalamnya.

Tapi begini, Ayu ada karena kebutuhan pasar. Maksudnya, karena ada banyak lelaki yang membutuhkan jasanya. Tentu dengan bayaran tertentu. Selain Ayu, masih banyak perempuan lain yang menawarkan jasa serupa, hanya dengan sensasi yang berbeda. Bahkan, ada penyedia jasa pramugari untuk yang menginginkan service ala pramugari. Ada juga jasa model, sekretaris, dan lain sebagainya. Semua itu adalah bagian dari cara mereka menjual pelayanan yang melibatkan tubuh mereka. Jasa yang melibatkan fantasi syahwat dari lelaki.

Ayu hanyalah satu dari pemain kecil dalam bisnis wiraswasta tubuh ini. Orang-orang seperti Ayu hanyalah remah-remah diantara para pemain besar lainnya. Teman-teman seprofesi Ayu kebanyakan adalah bekas pekerja spa plus-plus, cafe remang, atau ladies companion untuk karaoke dan bisnis hiburan malam lainnya. Kebanyakan dari mereka ada karena pasar yang cukup menjanjikan. Disamping juga karena harga atas jasa mereka dihargai cukup tinggi.

Jika saja kebutuhan pasar sudah tidak ada, saya cukup yakin kalau pewiraswasta tubuh seperti Ayu dan lainnya akan berhenti dengan sendirinya. Mereka akan hilang dengan sendirinya. Tapi, jika kebutuhan pasar semakin tinggi, tentu, mereka akan tetap ada dan mungkin semakin banyak. Lalu, apa yang sebenarnya bisa menghentikan bisnis wiraswasta tubuh ini? Entahlah. Toh, dari sejak ratusan tahun yang lalu mereka telah ada. Bahkan telah menjadi salah satu profesi tertua di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × three =

Meja Bundar

Berjudi Itu Hiburan, Bukan Hal Lain