in

Badeng

Adik saya memiliki indukan anjing ras berjenis Shitsu Pom. Anjing itu telah ada di rumah suaminya entah sejak kapan. Tahun 2016 lalu anjing tersebut hamil dan memiliki 5 ekor anak yang 3 betina dan 2 jantan. Kebetulan, ibu saya suka memelihara anjing. Karena kelucuan anjing tersebut, maka tertariklah ibu saya untuk memeliharanya. Sebagai anak yang berbakti pada orang tua, adik saya mau tidak harus merelakan anjing itu dipindahrumahkan.

Di rumah ada sekor anjing asli Bali yang dipelihara oleh ibu saya. Anjing itu dinamainya Badeng yang artinya hitam. Penyebabnya sudah pasti karena warnanya yang hitam legam tanpa bercak, tanpa ada warna lain selain hitam. Katanya, anjing yang warnanya hitam itu adalah penjaga rumah yang baik. Disamping menjaga rumah dari manusia, juga menjaga rumah dari makhluk tak kasat mata.

Eh, tapi, kalau makhluk itu tak kasat mata, lalu bagaimana cara orang melihatnya? Kalau ada orang yang pernah melihatnya, seharusnya namanya kasat mata, kan? Mungkin, sebaiknya saya sebut dengan makhluk gaib saja. Biar nggak jadi bias arti.

Ibu saya mengetahui perihal menjaga dari makhluk gaib ini dari seorang pemangku. Blio menjelaskan, kalau Badeng bisa menjaga rumah dari makhluk gaib. Terlebih, ketika diperiksa lebih detail, Badeng ternyata memiliki bercak hitam di lidahnya. Bercak yang saya rasa lebih mirip tahi lalat. Tapi, memangnya ada tahi lalat di lidah? Mungkin memang ada. Tapi, saya lebih suka menyebutnya dengan bercak daripada tahi lalat. Bercak ini adalah tanda bahwa si Badeng bisa melihat dan menggonggong ketika ada makhluk gaib datang.

Entah benar atau tidak. Tapi, malam-malam si Badeng sering menggonggong nggak jelas. Tiba-tiba saja menggonggong kepada ruang kosong. Karena, ketika saya cek, memang nggak ada apa-apa disana.

Saya sering kaget-kaget ketika malam. Masalahnya, ketika Badeng menggonggong, pikiran saya selalu tertuju pada kemungkinan ada manusia lewat atau mencoba masuk rumah. Lebih buruk lagi, saya takut ada pencuri yang masuk rumah. Alhasil, ketika si Badeng menggonggong, saya selalu keluar kamar untuk mengecek.

Badeng adalah anjing rumahan. Seperti anjing rumahan di Bali pada umumnya, Badeng dilepas begitu saja, nggak dimasukkan dalam kandang. Jatah makannya hanya diberi pagi dan sore. Makan seadanya, apa saja yang ada akan dicampurkan ibu ke nasi untuk makanan si Badeng. Itupun kalau anjingnya ada, kalau nggak ya urusan si anjinglah mau makan dimana. haha.

Si Pompom beda lagi. Eh, iya, Pompom adalah nama anjing yang diminta ibu dari adik saya. Pompom ditempatkan di kandang. Ibu saya takut, kalau dilepas, Pompom bisa dilarikan orang. Maklum saja, anjing ras harganya mahal. Harga ini mengundang orang untuk mencurinya. Banyak berita tentang pencurian anjing di luar sana. Motifnya ya itu, uang itu tadi.

Makanan Pompom juga berbeda dengan Badeng. Jika Badeng makan seadanya, maka Pompom mawajibkan ibu saya untuk merebus hati ayam atau daging ayam setiap harinya. Pompom hanya mau makan nasi campur hati atau daging ayam. Selain itu, tidak. Pernah ibu saya menyamakan makan mereka, tapi Pompom memilih untuk mogok makan seharian. Karena khawatir Pompom sakit, ibu saya pun selalu menyempatkan merebus hati ayam setiap harinya.

Kakek saya selalu bilang, kalau Pompom hidupnya lebih enak dari blio. Karena, blio sendiri makan seadanya, sedangkan Pompom makan hati dan daging ayam. Sungguh perlakuan yang sangat istimewa untuk ukuran keluarga saya. Ini yang sering dikatakan sebagai hewan peliharaan lebih istimewa dari pemiliknya.

Tapi, menurut saya nggak begitu keadaannya. Pompom bukan diistimewakan, melainkan karena nggak mau makan yang lain. Rasanya nggak baik setelah meminta anjing tersebut dari adik saya lalu sampai rumah nggak diurus. Mungkin, lebih tepat jika dikatakan sebagai bagian dari tanggung jawab.

Pompom hanya bertahan 3 bulan di rumah saya. Tanpa masalah, tiba-tiba Pompom nggak mau makan. Kejadiannya cepat sekali. Jam 11 pagi nggak mau makan, lalu, agak siang pup darah. Kemudian, nggak sampai 1 jam berikutnya Pompom meninggal. Bahkan tanpa sempat dokter yang hubungi datang untuk mengecek.

Menurut penjelasan dokter, Pompom terkena virus parvo atau virus parvorius. Virus yang katanya sangat rentan untuk anjing ras. Lalu saya tanya, kok Badeng nggak apa-apa? kalau Pompom kena, kan harusnya Badeng juga kena, kan? Dokternya bilang enggak. Karena anjing lokal Bali adalah anjing yang kuat dan tahan terhadap virus. Mungkin karena sudah menjadi habitatnya dan sudah melalui proses evolusi yang sangat panjang, itulah kenapa anjing lokal seperti si Badeng lebih kebal terhadap penyakit. Padahal, secara pemeliharaannya lebih terawat si Pompom.

Badeng bisa bertahan karena telah mengadaptasi lingkungan. Dia membentuk dirinya kebal terhadap berbagai macam penyakit yang ada pada habitatnya. Sedangkan Pompom adalah pendatang baru. Keterlambatan proses adaptasinya terhadap lingkungannya membuatnya kurang tahan terhadap virus. Seberapa cepat proses adaptasi itu berlangsung, tergantung dari diri mereka masing-masing. Bisa saja proses genetika berperan dalam proses adaptasi ini.

Beberapa waktu yang lalu, si Badeng terkena kudis istilah Balinya kliskisan. Entah ditulari anjing tetangga yang mana. Saya coba hubungi dokter hewan, kemudian disarankan untuk disuntik. Setelah suntik, seminggu kemudian kudisnya belum juga hilang. Akhirnya saya mencoba berbicara pada beberapa kawan mengenai ini. Sebagian besar kawan saya menyarankan untuk membiarkannya. Nanti juga sembuh sendiri.

Benar saja, setelah dibiarkan, kudisnya hilang begitu saja. Entah karena obat dari dokternya yang baru menampakkan hasil, atau karena Badeng punya kekebalan tubuh untuk sembuh dari penyakitnya. Tapi, asumsi saya, Badeng memang memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi. Asumsi ini didukung oleh perkataan beberapa kawan saya yang bilang kalau anjing Bali memang tidak memerlukan perawatan khusus. Mereka memang terbentuk kuat oleh habitatnya.

Dari sini saya mulai berpikir. Orang bisa kuat dan bertahan bukan karena faktor fisik yang kuat. Melainkan daya adaptasi yang tinggi. Tanpa daya adaptasi yang tinggi, rasanya sulit untuk seseorang bisa bertahan pada suatu lingkungan tertentu. Bukan hanya terkait alamnya, tapi orang-orangnya. Imune yang terbentuk dari proses adaptasi itu bisa membuat kita bertahan dari berbagai macam penyakit. Bukan hanya penyakit fisik, tapi penyakit dalam pikiran.

Banyak kawan saya yang masih memandang perubahan sebagai sebuah momok dalam masyarakat. Sulit rasanya memahami apa yang mereka inginkan dari dunia tanpa perubahan. Mungkin karena mereka terlalu nyaman dengan apa yang pernah mereka miliki. Mereka enggan untuk belajar lagi tentang hal-hal baru yang selalu datang seiring dengan perubahan itu. Mereka merasa apa yang ada sekarang sudah cukup untuk mereka. Tapi, apakah cukup untuk mereka berarti cukup untuk orang lain? atau apakah yang cukup sekarang itu juga cukup untuk generasi selanjutnya?

Tidak mungkin rasanya sebuah lingkungan bergerak statis. Hampir semua tempat bergerak dinamis. Alam bergerak dinamis, begitu juga pikiran manusia, selalu bergerak dinamis. Dalam arti, semua cenderung berubah seiring waktu. Bukankah yang abadi di dunia ini adalah perubahan itu? Lalu, dengan apa kita bertahan kalau bukan dengan mengadaptasi setiap perubahan itu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four + 13 =

Menjaga Kewarasan Dengan Bokep

Ribet Masalah Nama