in

Batu Yang Sarat Pesan Spiritual

Salahkah orang yang menganggap batu sebagai sesuatu yang mengandung unsur spiritual? Saya rasa jawabannya enggak. Karena, nenek moyang kita adalah penganut Animisme. Mereka percaya setiap benda memiliki kekuatan magis. Termasuk batu itu sendiri. Banyak kok manusia jaman dulu yang memuja batu. Apalagi batu yang berukuran besar. Banyak yang menganggapnya sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan magis.

Lalu, apa yang salah dengan orang yang percaya batu bersusun yang merupakan bagian dari seni instalasi tersebut memiliki unsur spiritual? Salahnya adalah, sekarang ini sudah ada agama yang dijadikan patokan oleh negara. Lebih salah lagi, mempercayai batu memiliki kekuatan magis di tengah maraknya manusia yang merasa paling benar dalam hal beragama. Cuma itu salahnya.

Meskipun negara sudah mengakui adalanya aliran kepercayaan terhadap Tuhan, tapi toh, sebagian orang merasa itu sebagai sebuah kesalahan. Padahal, kebebasan untuk berkeyakinan itu ada dalam dasar negara kita. Tepatnya Pancasila sila pertama dan UUD 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2.

Sulit rasanya membedakan antara prilaku spiritual dan prilaku berTuhan. Apakah seorang spiritualis itu berTuhan? Siapa yang bisa membedakan satu dan lainnnya? Lalu, apakah seseorang yang agamis itu juga berTuhan? Bagaimana cara membedakannya? Lalu, apakah seorang penganut aliran kepercayaan terhadap Tuhan juga berTuhan? Siapa yang bisa menjamin ini?

Pertanyaan yang paling mendasar tentang sikap berkeTuhanan adalah, siapa yang benar-benar tahu kalau Tuhan kita semua sama atau beda? Adakah yang bisa menjawab pertanyaan ini?

Perdebatan demi perdebatan seperti ini hanya akan mengarah pada kebuntuan. Karena, seseorang hanya bisa mendaku pada Tuhan, tanpa ada simbol atau tanda yang melekat pada dirinya yang bisa menunjukkan itu. BIsa saja seseorang berpenampilan spiritualis, lalu apakah begitu keadaan bathinnya? Bisa saja seseorang berpenampilan agamis, tapi, apakah begitu juga bathinnya?

Tuhan sendiri tidak memberi tanda pada diri penganut setianya. Tidak berupa sesuatu yang bisa dilihat orang lain. Yang Tuhan berikan hanyalah ciri-ciri seseorang adalah penganut setianya. Semua berupa prilaku dan tindakan yang memberi manfaat dan kebaikan bagi sekitarnya. Itu saja. Lalu, siapa yang bisa mendefisikan kebaikan dan kebermanfaatan itu? Tentulah masyarakat sekitaranya. Tanpa orang tersebut menyebut dirinya bertTuhan, seharusnya setiap orang yang memberi kebaikan pada lingkungannya adalah penganut setianya, bukan?

Banyaknya manusia yang merasa paling benar. Mereka merasa berhak menjadi orang yang menentukan benar dan salahnya orang lain. Orang-orang seperti itulah yang jadi penyebab keramaian berkeyakinan belakangan ini. Satu pihak merasa benar dengan dasar keyakinannya, pihak lain juga begitu, merasa benar menurut keyakinannya. Bagaimana menentukan salah dan benar kalau kedua belah pihak adalah pihak yang merasa benar? Yang ada, semua saling benar-benaran. Kita semua tau apa yang terjadi jika dua orang merasa benar terlibat perdebatan. Ya, konflik antara kedua orang itu.

Lalu, bagaimana kita berkata bahwa kedua orang itu berTuhan kalau keduanya sendiri berkonflik dan merasa paling benar? Padahal, kalau mereka percaya, yang maha benar ya Tuhan itu sendiri, bukan mereka. Lalu, apakah bisa disebut mereka berTuhan jika mereka sendiri mengingkari bahwa diri mereka bukanlah yang paling benar? Bahwa yang maha benar adalah Tuhan. Bahwa mereka hanyalah bisa berharap kalau mereka benar. Itu.

Perihal Gravity Glue atau Stone Balance dan komunitas pecintanya, saya rasa, kalau memang nggak diijinkan di sungai itu, bisa pindah ke sungai yang lain. Nggak harus di sungai itu, kan. Eh, tapi, kan nggak ada yang tahu siapa anggotanya, kalau mereka robohkan, kan bisa disusun kembali. Toh, menyusun kembali yang sudah roboh adalah kesenangan tersendiri bagi komunitas ini. Lagipula instalasi ini bisa dilakukan di tempat lain, kan? bisa juga di halaman rumah sendiri. Bisa sekalian jadi penghias halaman rumah, kan.

Di Indonesia ini, batu ada banyak jumlahnya, yang percaya kekuatan batu juga banyak, eh, yang nggak suka dengan orang yang percaya kekuatan batu juga banyak. Jadi semua saling banyak-banyakan. Dimana ada batu, disana akan ada orang yang percaya terhadap kekuatan batu. Seiring dengan itu, disana juga akan ada orang yang nggak suka dengan para pemuja batu. Pecinta Gravity Glue hanyalah orang-orang yang kebetulan terjepit diantaranya. Tapi, apakah kegembiraan komunitas Gravity Glue ini harus tergantung pada mereka, nggak juga, kan?

Menurut saya, komunitas ini tetaplah bergembira dimanapun itu. Terlepas dari mereka yang berkonflik, biarkan saja. Toh mereka nggak tau mereka benar atau enggak. haha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 3 =

PeeR (Pekerjaan Rumah)

Gaji Kecil Penjudi Politik