in

Bebas

Ada satu masa dimana setiap orang ketika duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) mendeklarasikan diri sebagai orang bebas. Sayapun begitu, entah bebas yang seperti apa yang saya cari waktu itu, yang saya tau hanyalah saya ingin bebas. Nggak ingin diatur sama apapun atau siapapun.

Padahal, waktu itu yang mengatur cuma jam sekolah dan waktu sekolah saja. Nggak ada yang lain. Orang tua juga nggak membebani saya dengan aturan apapun, bahkan cenderung nggak mengatur sama sekali. Satu-satunya aturan yang mengikat ketika itu hanyalah aturan sekolah. Itupun hanya aturan mengenai jam sekolah, seragam, dan hal standar anak sekolah lainnya. Tetap, meskipun nggak ada aturan yang terbilang menindas, saya tetap menginginkan kebebasan itu. Kebebasan yang entah wujudnya seperti apa.

Fim yang berjudul Bebas yang disutradarai Riri Riza mengingatkan saya kembali akan hal itu. Cita rasa kebebasan dibawa oleh lagu-lagu yang dijadikan sountrack dari film ini. Sebut saja lagu seperti Bebas-nya Iwa K, Kebebasan dari Band Singiku, Siti Nurbaya-nya Dewa 19, dan beberapa lagu lain yang saya lupa judulnya memang sedang hits ketika saya SMA dulu. Lagu-lagu ini yang banyak memberi ide tentang kebebasan itu sendiri. Kebebasan yang sebenarnya hanya kata-kata. Mungkin, karena menjadi bebas itu sedang trend makanya saya ikut-ikutan ingin bebas meski sekali lagi saya nggak tau artinya apa.

Alur cerita dalam film ini sebenarnya bukan alur cerita baru dimana beberapa sahabat yang tergabung dalam geng remaja bertemu kembali ketika mereka sudah dewasa. Salah satu dari mereka adalah perempuan sukses yang menderita kanker dan sedang dalam ujung perjuangannya melanjutkan hidup. Merasa hidupnya nggak akan lama lagi, muncul ide dalam benak salah seorang dari mereka untuk mengumpulkan seluruh anggota geng-nya ketika remaja dulu. Dari sini cerita berlanjut dengan banyak cerita seru khas nostalgia tahun 90-an.

Mungkin memang ada kejadiannya di dunia nyata, tapi saya belum pernah menemukan hal yang sama dimana seorang kawan yang kaya banget mau membagikan hartanya untuk kawan lainnya ketika dia meninggal. Nggak juga pernah saya temukan ada seorang perempuan cantik dan kaya raya hidup sendiri tanpa keluarga. Belum juga pernah saya temukan ikatan pertemanan yang begitu kuat yang masih bertahan bahkan ketika sudah terpisah selama 23 tahun lamanya.

Kebanyakan yang terjadi sekarang ini adalah semua kawan sudah berjalan dengan jalannya masing-masing. Entah gimana hidup mereka sekarang ini, saya udah nggak pernah ketemu mereka kecuali melihat dari feed di social media aja. Hanya beberapa kawan SMA saja yang pernah saya temui secara langsung. Itupun hanya beberapa kali karena ketidaksengajaan bertemu dijalan. Belum pernah ada ide untuk sengaja berkumpul dan bernostalgia kembali.

Mungkin, ini salah satu dampak dari social media. Semua orang merasa sudah bertemu meski hanya via social media. Pertemuan secara langsung dirasa sudah nggak diperlukan lagi. Padahal, di jaman sekarang ini, pertemuan secara langsunglah yang memiliki nilai. Tanpa pernah bisa bertemu secara langsung, ikatan apapun nggak bisa dikatakan bernilai. Coba deh liat orang-orang yang memiliki ratusan bahkan ribuan teman di social media, ada berapa dari mereka yang pernah bertemu secara langsung? Nggak terlalu banyak sepertinya.

Belakangan, jarang saya temukan film dengan aroma nostalgia seperti ini. Mungkin karena pasarnya yang terlalu segmented atau mungkin karena hal lainnya, saya kurang mengerti. Kecuali untuk mereka yang pernah mengalaminya, film-film seperti ini nggak terlalu relate dengan umumnya kehidupan jaman sekarang. Cara berpikir dan alur ceritanya nggak masuk dalam benak anak-anak jaman sekarang. Entah karena apa.

Sepanjang film ini, saya dibuat senyum-senyum sendiri. Sesekali juga ngerasa geli banget mengenang tingkah pemeran yang ada di dalamnya. Serasa pas banget dengan tingkah ketika SMA dulu. Pas aja dengan alur tingkah khas remaja 90-an. Nggak rugi-lah kalau nonton film ini, hitung-hitung kembali mengenang masa-masa pencarian atas kebebasan yang entah bagaimana wujudnya dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + six =

Nonton Joker, Biasa Aja

Uang SPP Henny