in

Bebotoh Lan Memotoh

“Apa bedane bebotoh lan memotoh?” Tanya Pak Yan Bracuk pada saya pagi itu.

“Bebotoh berasal dari kata bobot dan toh, yang artinya bobot yang dipertaruhkan. Sedangkan memotoh berasal dari kata momo dan toh, artinya momo yang dipertaruhkan” Jelas Pak Yan Bracuk, kalau saya tidak salah ingat.

Bobot adalah bahasa Bali yang berarti bobot, berat, isi. Dalam bahasa yang lebih kekinian, sering juga dibilang sebagai kapasitas atau kemampuan. Sedangkan, toh juga berasal dari bahasa Bali yang berarti taruhan, dipertaruhkan atau bertaruh. Jadi, bobotoh bisa diartikan sebagai mepertaruhkan bobot atau mempertaruhkan kemampuan. Maksudnya adalah, seseorang berani bertaruh karena menilai kemampuan. Ada perhitungan atas kapasitas dan kapabilitas yang dijadikan acuan sebelum bertaruh.

Bertaruh yang dimaksudkan disini bukanlah bertaruh dalam hal judi yang dikenal masyarakat umum. Melainkan bertaruh dalam artian yang berbeda. Semisal, sebut saja Pak Made yang seorang karyawan hotel, dia memutuskan berhenti bekerja untuk memulai sebuah usaha rumah makan. Pak Made dikatakan mempertaruhkan karirnya demi mengejar cita-citanya memiliki rumah makan sendiri. Selain karir, ada pula yang mempertaruhkan satu jabatan demi jabatan lainnya, dan seterusnya.

Momo yang juga berasal dari bahasa Bali berarti tamak. Maksudnya disini adalah bertaruh karena ketamakan. Sumbernya adalah hawa nafsu tanpa mempertimbangkan aspek lain. Dalam artian lain, memotoh berarti bertaruh hanya karena hawa nafsu. Misalnya, hanya karena memiliki uang, Pak Made maju sebagai seorang Bupati. Padahal, soal tata kota pun Pak Made nggak tahu. Apalagi kalau dihadapkan pada urusan tata kelola peraturan daerahnya. Pak Made bisa pusing tujuh keliling.

“Manusa bebotoh nawang saatne suwud, manusa bebotoh nawang bates. Manusa sane memotoh mara nyak suwud yening suba telah kayang ke tegak umahne” Begitu lanjut Pak Yan Bracuk menjelaskan.

Penjelasan Pak Yan Bracuk jadi masuk akal karena, ketika kapasitas dan kapabilitas yang dijadikan acuan, tentu pertimbangan yang diambil menjadi logis dan terukur. Seseorang yang tidak memiliki kemampuan memasak atau tidak memiliki pengalaman mengelola rumah makan tentu nggak akan pernah berani mempertaruhkan karirnya demi mendirikan rumah makan. Begitu juga seseorang yang tidak memiliki bekal ilmu yang cukup mengenai tata kelola kota tentu nggak akan bertaruh demi menjadi Bupati.

Beda halnya dengan orang yang mendasarkan pada hawa nafsu atau ketamakan. Sudah tentu tidak ada patokan yang bisa dijadikan acuan. Sama seperti tidak ada hal yang bisa mematok keinginan seseorang. Bahwa keinginan itu tidak terbatas, iya. Bahwa keinginan itu bisa melebihi dari kemampuan seseorang, juga iya. Seseorang yang tamak bisa melakukan apa saja demi mewujudkan keinginannya. Entah itu cara baik atau cara buruk akan dilakukannya. Batasan ketamakan seseorang pun adanya di ujung langit. Siapa yang bisa mengukur ujung langit itu?

Hidup kita dihadapkan pada banyak sekali pilihan. Secara nggak sadar kita sedang melakuan pertaruhan ketika mengambil pilihan demi pilihan dalam hidup. Tidak mungkin tidak, selalu ada yang dipertaruhkan dalam setiap pilihan. Semisal, waktu, tenaga dan emosi. Kadang kita harus mengorbankan banyak hal penting demi sebuah pilihan. Kita bertaruh karena kita tidak tahu pasti apa yang akan terjadi setelah kita memilih. Kita bertaruh karena tanpa memilih kita tidak akan kemana-mana.

Saya teringat dengan pesan seorang kawan saya beberapa tahun silam. Dia berpesan untuk saya tidak takut mengambil keputusan apapun atau menjalani hidup seperti apapun. Asal, saya mengukur kemampuan saya terlebih dahulu. Paling tidak, saya mengambil keputusan bukan berdasar pada kenekatan semata.

Contohnya begini, ketika ada tawaran pekerjaan di Papua misalnya. Saya tidak perlu merasa takut karena tidak mengenal daerah papua itu seperti apa. Karena, setidaknya saya sudah memiliki pekerjaan ketika saya sampai disana. Perihal mempelajari daerahnya, saya bisa melakukannya sambil jalan. Paling tidak juga, hal-hal pokok seperti makan, pakaian dan tempat tinggal sudah bisa dipenuhi dari pekerjaan itu.

Saya perlu untuk takut dan berpikir ulang jika memutuskan ke Papua untuk mencari pekerjaan. Terlebih, saya tidak mengenal daerahnya. Ini nekat namanya. Ini juga yang dimaksud dengan hanya mengandalkan hawa nafsu tanpa ukuran. Kalau nggak mau dibilang bodoh, ini stupid namanya. hehe.

“Semua kembali pada diri kita sendiri. Mau ikut jadi bebotoh atau orang yang memotoh. Pilihannya ada pada diri kita sendiri. Seperti setiap pilihan lainnya, Hasil dari keduanya bukanlah kepastian. Keduanya nggak menjamin keberhasilan atau kesuksesan itu sendiri. Menjadi salah satu dari keduanya bukanlah kesalahan atau kebenaran. Hanya saja, keduanya mengandung konsekuensi yang berbeda, itu saja” Tutup Pak Yan Bracuk sambil beranjak pergi meninggalkan warung kopi Men Kempli.

“Pak Yan… Pak Yan… Bayah malu kopine” Panggil Men Kempli dengan suara khasnya.
“Ngutang malu…” Sahut Pak Yan Bracuk sambil terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
“Satwa gen mekuah Pak Yan totonan. Ngopi gen nu ngutang” Gerutu Men Kempli sambil merunyut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 − six =

Guru Pukul Siswa Pukul Guru

Tentang Togel