in

Berjudi Itu Hiburan, Bukan Hal Lain

Pada suatu hari, saya sebut pada suatu hari, karena saya lupa harinya. Sekitar tahun 2003-2004-an saya diperkenalkan pada perjudian. Kalau tidak salah, waktu itu ada kegiatan upacara 3 bulanan anak dari seorang kawan saya. Seperti biasa, pada malam sebelum hari H, seluruh warga desa datang ke rumah si empunya acara. Mereka membawa entah itu gula, beras, bisa juga anyaman daun kelapa atau buah kelapa.

Sekaligus, sebagian warga desa diwajibkan untuk bergadang di rumah si empunya acara. Biasanya bergadang hingga jam 4 pagi, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan babi, baru kemudian tugas itu selesai. Kebiasaan warga di desa saya, ketika bergadang mereka melewatinya dengan berjudi. Bukan berjudi sungguhan. Kalau diskalakan dari taruhan, judi ini termasuk judi kecil-kecilan. Taruhan paling besar 5.000-an. Nggak begitu besar nominalnya. Tujuannya hanyalah untuk melewati malam dan mengobati rasa kantuk sekaligus untuk bergembira. Orang-orang di desa saya menyebut ini dengan “ngibur” atau menghibur diri.

Ketika itu, Kawan saya mengajarkan judi Qiu-Qiu. Judi ini menggunakan kartu domino. Dimana, setiap pemainnya mendapatkan bagian 4 lembar kartu untuk di padukan menjadi angka tertinggi yang memungkinkan. Keempat lembar kartu tersebut, kemudian dibagi menjadi 2 bagian. Setiap bagian memiliki nilai yang merupakan penjumlahan dari nilai masing-masing kartu.

Penghitungan nilai dari tiap bagian pun hanya menggunakan hitungan satuan. Jika hasil penjumlahan dibawah 10, maka nilai tiap bagian adalah hasil penjumlahan itu sendiri. Tapi, jika lebih dari 10 maka yang diambil hanya nilai satuanya. Untuk 10 memiliki nilai 0 (nol), 11, memiliki nilai 1, dan seterusnya.

Nilai tiap bagian inilah yang akan diadu dengan pemain lain. Kemenangan hanya didapat untuk orang yang memegang kartu dengan nilai tertinggi pada kedua bagian. Sedangkan kalau satu bagian lebih kecil dari pemain lain dan satu bagian lainnya lebih besar, maka akan dihitung seri. Eh, kok tulisan ini jadi tutorial berjudi. Ah, anggap saja intermeso, toh, kalau bukan penjudi, nggak akan ngerti apa yang saya bahas. hehe.

Sebenarnya, saya bukanlah seorang yang penjudi. Saya mungkin masuk pada kategori penjudi iseng. Tujuan saya, sih, hanya sekedar tahu cara bermain. Soal menang kalah, saya tidak terlalu peduli. Karena, menurut saya, berjudi itu adalah bergembira bersama kawan. Karena, ketika berjudi, ada banyak canda dan tawa yang tumpah. Itu yang ada dalam benak saya waktu itu. Sehingga, saya mengikuti kawan saya untuk diajari cara berjudi yang baik dan benar.

Bimbingan belajarpun berjalan lancar tanpa kendala. Saya bisa berjudi dengan lancar hanya dalam waktu kurang dari 5 menit. Mungkin karena saya adalah murid yang cerdas atau mungkin karena bakat itu sendiri telah ada dalam diri saya. Bakat terpendam inilah yang berbahaya. Sekali tergali maka akan keluar membabi buta.

Mungkin inilah yang terjadi pada saya saat itu. Saya seperti larut dalam suasana dan kehilangan batas-batas yang saya tetapkan sejak awal tadi. Bergembiranya hanya datang di awal saja. Makin malam, suasana berjudi sudah nggak dipenuhi canda tawa lagi. Semua terlihat penuh ketegangan. Suasana semakin memanas. Taruhanpun semakin nggak terkendali. Sudah bukan uang receh lagi. Perjudian itu tetiba menjadi perjudian skala menengah kalau ditakar dari besarnya uang taruhan.

Bukan hanya saya, semua peserta juga terlihat memasang raut wajah serius. Ada raut emosi yang tersirat dari semua wajah yang ada disana. Hanya sedikit yang bersuara dibarengi dengan suara gesekan meja dengan tangan dan kartu saja. Sepertinya semua sedang mencoba menahan emosi agar tidak meledak dan terjadi perkelahian.

Tanpa terasa,hampir setengah gaji saya telah habis di meja judi. Inipun baru saya sadari setelah tidak ada uang lagi yang tersisa di dompet saya. Dengan terpaksa akhirnya perjudian itu saya hentikan. Bukan karena saya ingin berhenti, melainkan karena sudah tidak ada uang untuk saya pertaruhkan lagi. Kalau saya menuruti emosi saya waktu itu, mungkin seluruh uang gaji akan saya pertaruhkan. Tapi, untung, masih ada sedikit kesadaran yang tersisa, hingga niat itu saya urungkan.

Tidak ada yang tersisa dari saya waktu itu, kecuali dompet kosong, perut lapar dan emosi yang masih di ubun-ubun. Benar-benar perasaan yang nggak enak. Kalau digambarkan rasanya seperti kesal melihat perseteruan cebong dan kampret. Kesal, iya, tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa dilakukan hanyalah menelan kekesalan itu. Belum lagi membayangkan harus berpuasa agar gaji bisa cukup hingga akhir bulan. Ada banyak pengeluaran yang harus dipangkas untuk bisa bertahan. Paling tidak, hingga gajian berikutnya. Pusing, iya. Trauma, mungkin juga. Tapi, namanya pengalaman, minimal harus ada yang dipelajari dari sana, kan?

Pelajarannya adalah, judi itu memabukkan. Nggak seperti alkohol, judi itu cenderung nggak berbatas dan susah dihentikan. Yang bisa menghentikannya hanyalah ketika taruhannya sudah habis. Selama belum habis, mabuk itu akan terus berlanjut. Banyak cerita yang menggambarkan orang yang kehilangan seluruh harta bendanya karena berjudi. Yudhistira yang terkenal dengan kebijaksanaannya pun tak lepas dari kemabukan atas perjudian ini. Sampai-sampai, blio kehilangan kerajaannya karena kalah taruhan dari Duryodhana di meja judi. Saya sudah merasakan ini. Masih untung waktu itu saya nggak membawa seluruh uang yang saya miliki. Kalau tidak, bisa habis semua. Bukan nggak mungkin bisa berujung pada hutang.

Yang membuat judi memabukkan adalah rasa penasaran yang diciptakannya. Ketika kalah, kita dibisikkan akan kemungkinan menang. Ketika menangpun kita dibisikkan kemungkinan untuk menang lebih banyak. Dari sinilah tumbuh rasa penasaran itu. Penasaran yang nggak berujung. Belum lagi ketika diiming-imingi kalimat “mungkin inilah hari keberuntungan saya”. Kalimat ini mampu membawa rasa penasaran memuncak. Ketika itu semua ditambahkan dengan ego nggak mau kalah. Sudah, habislah sudah penjudi itu. Dia Nggak akan pulang sebelum semuanya habis di meja judi.

Nggak banyak orang yang bisa mengendalikan diri di meja judi. Hanya segelintir orang yang bisa. Kebanyakan orang akan larut dan kehilangan banyak hal. Mungkin karena ini judi itu dilarang. Karena kebanyakan orang belum bisa mengendalikan dirinya. Mereka mudah mabuk dan larut dalam perjudian. Perlu beberapa waktu untuk saya mengerti dan belajar mengendalikan diri ketika berjudi. Itupun setelah satu pengalaman pahit yang saya ceritakan tadi. Istilahnya, saya mengerti karena saya mengalami sendiri.

Saya belajar mengendalikan diri dengan belajar ikhlas. Mungkin, istilah yang lebih sederhana adalah berjudi dengan ikhlas. Kendalinya ada pada pikiran, bukan perasaan. Malah diusahakan agar jangan sampai perasaan mendominasi. Jika memungkinkan pula, jangan menggunakan perasaan sama sekali. Intinya adalah batas, bisa menggunakan jumlah uang atau waktu.

Misalnya, kalau kita punya uang 100 ribu. Kalah menang, nggak usah ngeluarin uang lagi. Batasnya hanyalah ketika uang 100 ribu itu habis. Ketika menang ya lanjut terus sampai capek. Tapi, ketika kalah, ya, dicukupkan 100 ribu itu saja. Ikhlaskan 100 ribu itu saja. Hitung-hitung untuk menghibur diri dan tertawa bersama kawan. Harga 100 ribu untuk sebuah hiburan itu sudah tergolong murah menurut saya. Bukan sok kaya, tapi, memang standarnya begitu sekarang ini.

Dengan memberi batas-batas pada diri saya, kejadian tidak mengenakkan karena berjudi sudah tidak pernah terjadi lagi. Saya berhasil mengembalikan judi pada faedahnya, yaitu sebagai hiburan semata. Bukan hal lain. Apa lagi hal-hal yang berujung pada habisnya harta benda, bahkan bisa menimbulkan hutang. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 − eight =

Ayu

Sabuk Kekebalan