in

Bermain Perempuan

“Kar Pesu malu luh, ada urusan di Denpasar” Kata De Poyok berpamitan pada istrinya sembari menuntun motornya yang terparkir rapi di garasi.

“Sing makan malu bli, darang nasi suba lebeng, ada jukut dedemenan bline masih gaenang iyang” Kata istrinya menawari De Poyok makan.

“Sing, binjep gen meli nasi di bypasse” Sahut De Poyok kemudian menyalakan motornya dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya.

Setiap jumat, De Poyok selalu berpamitan pada istrinya untuk pergi ke Denpasar. Alasannya selalu sama, ada urusan di Denpasar. Padahal, De Poyok ke Denpasar untuk urusan lain. Urusan perempuan yang selama ini dia dekati via Medsos. Jumat ini adalah kali pertama mereka bertemu, setelah jumat lalu, Poyok menemui perempuan lainnya yang juga dia dekati via Medsos.

Biasanya, perempuan yang ditemui De Poyok adalah perempuan yang memiliki kebutuhan khusus. Sama-ama penyuka kasual seks dengan orang yang berbeda. Sama-sama mengerti kalau hubungan mereka hanyalah sebatas seks, nggak lebih dari itu. Istilah De Poyok, sih, perempuan yang nggak Baperan atau perempuan yang nggak apa-apa dibawa perasaan.

Jalur perjalanan De Poyok sudah terpetakan dengan baik. Berangkat jam 10 pagi, kemudian singgah di sebuah warung soto babad di daerah kota Tabanan. Habis itu, Poyok melanjutkan perjalanannya ke Denpasar. Di Denpasar, Poyok punya kawan seorang penjual jamu yang menurutnya mujarab. Apalagi kalau bukan jamu kuat pria. Kebiasaan Poyok sebelum bertemu perempuan ya, itu, mampir ke warung jamu milik kawannya, itu.

Setelah dari warung jamu, barulah Poyok melanjutkan perjalanannya untuk menemui perempuan yang dia ajak janjian. Biasanya sih janjian ketemunya di sebuah restaurant cepat saji di Denpasar. Selain untuk menutupi jejak, kalau-kalau ada kawan atau keluarga baik itu keluarganya Poyok atau istrinya yang kebetulan lewat. Juga untuk memudahkan akses, karena, dibelakang restaurant cepat saji tersebut ada sebuah penginapan yang bisa disewa short time.

Kalaupun De Poyok nggak mendapatkan teman melalui Medsos, ada jalur lain. Di buku teleponnya sudah tersimpan daftar perempuan yang bisa dibayar perjam untuk menemaninya. Tarifnya standarlah untuk kemampuan De Poyok. Nggak terlalu mahal, nggak juga bisa dibilang murah. Paling nggak, kegiatan rutin De Poyok setiap jumat tersebut nggak pernah terdengar mengganggu rumah tangganya.

Ini yang unik dari De Poyok. Meski kegiatan rutinnya adalah bermain perempuan, tetap saja rumah tangganya baik-baik saja. Ada sih pertengkaran kecil disana sini, tapi semua masih terbilang berjalan baik. Yang lebih unik lagi, istrinya nggak pernah sekalipun curiga akan kegiatan Poyok. Asumsi saya, sih, karena semua kebutuhan rumah telah dipenuhi dengan baik oleh Poyok. Terutama, kebutuhan seksual istrinya. Karena, biasanya kecurigaan istri berpangkal dari masalah keuangan dan seksual.

Banyak lelaki seperti Poyok yang rumah tangganya berantakan karena nggak bisa menyeimbangkan antara rumah tangga dan hoby. Eh, menurut Poyok, kegiatannya setiap hari jumat itu adalah hoby. Entah darimana dia bisa mendefiniskan itu sebagai hoby. Tapi, kalau ditelaah lebih dalam, memang sama seperti hoby mancing, motor, dan lain sebagainya. Sama-sama perlu biaya, dan sama-sama bertujuan untuk meredakan stress karena rutinitas. Yang dirugikan juga nggak ada, lah, dilakukannya atas dasar suka sama suka dan mau sama mau.

De Poyok memang terbilang rapi dalam menjalankan hobynya. Bukannya dia nggak mau berhenti, tapi, dia memang nggak bisa berhenti. Ada dorongan dalam dirinya untuk terus menjalankan apa yang dia sebut hoby tersebut. Pernah dia mengistirahatkan dirinya dari hobynya. Tapi, yang terjadi malah keluarganya semakin berantakan. De Poyok sering marah-marah nggak karuan. Sering marah tanpa sebab. Seringkali pula istrinya yang menjadi sasaran kemarahannya.

Pernah juga De Poyok mencoba menjalankan hoby lain seperti memancing. Tetangganya, Yan Rugya, adalah seorang penghoby mancing. Malah lebih parah, hampir dua malam sekali harus keluar rumah untuk memancing. Tanpa itu, kasusnya mirip seperti poyok. Keluarga berantakan dan marah-marah nggak jelas. Beberapa kali De Poyok mengikuti Yan Rugya memancing. Hanya sebagai pengalihan agar nggak mumet dirumah. Tapi, tetap saja De Poyok nggak bisa menikmati hoby barunya tersebut.

Dari Yan Rugya lah De Poyok paham bahwa hobynya itu memang susah digantikan. Tinggal bagaimana cara menyeimbangkan keduanya. Yan Rugya memang gila memancing, tapi nggak lantas mengabaikan keluarganya. Kebutuhan rumah tangganya dia penuhi dengan baik. Khusus untuk istrinya, biasanya kebutuhannya dipenuhi sebelum berangkat mancing, atau ketika Yan Rugya nggak berangkat mancing. Malah, sesekali Yan Rugya mengajak istrinya ikut memancing, agar istrinya tau bahwa Yan Rugya benar-benar memancing, bukan yang lain.

“Iraga anak suba uling cerik demen memancing. Yen jani tembahange memancing, jelas iraga bakalan stress. Iraga tusing ngelah ubad stress lenan teken memancing. Cuma, eda pesan nyen semena-mena. Mentang-mentang iraga anak muani lantas iraga bertindak seenaknya. Luwungan asane ngorta ajak kurenane. Baang iya penjelasan apang ngerti. Disubane ngerti, mara lantas ngalih solusi ane luwung apang iraga tusing stress, kurenane masih jumah luwung. Yen cara Mario Teguhe ngorahang, kewajiban jalan hoby masih jalan” Kata Yan Rugya pada De Poyok.

Rupanya, penjelasan dari Yan Rugya memberi sedikit titik cerah atas masalah De Poyok. Tentu, De Poyok nggak mungkin bisa menjelaskan tentang hobynya segamblang Yan Rugya menjelaskan kepada istrinya. Masih ada yang ditutupi, untuk kebaikan rumah tangganya.

Dari sinilah kegiatan rutin yang sudah dijalaninya selama 3 tahun terakhir ini berawal. Awalnya memang terasa sulit, karena semua harus serba diatur dan diperhitungkan secara presisi. Beberapa kali De Poyok mengalami masalah dengan istrinya hanya karena ada tetangga yang melihatnya sedang berduaan dengan perempuan lain. Tapi, dalih kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan istrinya yang tercukupi cukup ampuh untuk meredam pertengkaran tersebut.

Semakin lama, De Poyok semakin paham cara bermain yang aman. Semakin lama, semakin baik pulalah perjalanan Poyok dengan hobynya. Dan, semakin lama, semakin pula Poyok mengerti bahwa setiap orang punya kegilaan sendiri. Ada yang mampu mengendalikannya, ada pula yang enggak. Sekarang, tinggal bagaimana cara mengataasi masalah yang ditimbulkan oleh kegilaan tersebut. Kebanyakan orang-orang nggak tau dan nggak mampu mencari solusi atas masalah hobynya. Disanalah timbul masalah baru, stress dan tekanan yang menumpuk hingga berimbas pada rumah tangganya.

Nggak ada yang namanya memilih antara rumah tangga dan hoby, yang ada adalah penyeimbangan keduanya. Mungkin nggak semua orang mengerti akan hal ini. Tapi, sekali lagi, nggak perlu juga semua orang mengerti. Yang diperlukan hanyalah pengertian dari satu orang terdekat, bisa istri, bisa pacar, bisa siapa saja yang akan diajak mengarungi hidup ini bersama nanti. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve + 3 =

Kulit Itu Penting

Dedarinan