in

Berpikir Kreatif

Lebih kreatif mana, ikan yang menyelam atau kodok yang menyelam? Kalau pertanyaan itu terlalu susah untuk dijawab, berarti anda memang kurang kreatif. Jawabannya bisa saja ikan, bisa juga kodok. Perihal alasannya, disanalah perlunya kreatifitas. Jawaban apa saja yang masuk akal akan berterima, sekalipun bukan hal nyata.

Satu pertanyaan lagi, lebih kreatif mana, anak yang belajar menari atau anak yang main mobil-mobilan? Kebanyakan orang akan menjawab lebih kreatif anak yang belajar menari. Karena, dalam pikiran mereka kreatifitas melekat dengan berkesenian. Padahal, kreatifitas bukan melulu mengenai kesenian. Kreatifitas adalah permainan akal. Bermain-main dengan akal untuk menyelesaikan persoalan.

Beberapa hari yang lalu, di depan rumah ada seorang kawan menunjukkan sebuah “tiing mepetuk” atau bambu dengan ranting saling berhadapan. Bisa juga dibilang dengan bercabang bolak balik. Dia membawa beberapa batang bambu yang sama. Padahal, setahu saya, bambu jenis itu susah sekali dicari. Kalaupun ada, ukurannya tidaklah sesuai dengan apa yang dia bawa.

Oh iya, “tiing mepetuk” itu adalah salah satu jenis bambu yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Entah bentuk magisnya seperti apa. Entah pula kegunaannya untuk apa. Saya mengasumsikan benda itu untuk keberuntungan. Karena, ketika itu, kawan saya hendak berangkat memancing bersama kawan lainnya. Tapi, ada juga yang mengatakan bambu itu mampu menangkal ganguan magis. Entah gangguan magis itu yang dimaksud itu seperti apa.

Seorang kawan saya lainnya pernah mengenali bentuk asli dari bambu tersebut. Dia tertarik untuk memeriksa keasliannya. Setelah dilihat, diraba dan diterawang, kawan saya menyimpulkan kalau bambu itu palsu.

Merasa dituduh, si pemilik bambu itu tidak terima. Dia bilang kalau dia membeli bambu itu dari seseorang yang dipercayanya. Tentu kawan saya juga tidak terima dikatakan asal menuduh. Dia mengajukan pengujian. Akhirnya pengujian pun disepakati. Saya dan beberapa kawan lain sebagai saksi. Ini mirip seperti sidang, ada penuduh, ada terdakwa dan ada saksi. Pengadilannya menguji fakta, bukti dan pembelaan dari terdakwa.

Pengujian dilakukan dengan merebus benda tersebut selama kurang lebih 15 menit. Dengan sigap kawan saya menyiapkan teko yang setiap harinya digunakan untuk merebus air untuk kopi. Isi air kemudian colokkan ke listrik. Jadilah bambu itu direbus. Setelah 15 menit, benda itu kemudian dikeluarkan untuk di plintir antara cabang satu dan lainnya ke arah berlawanan. Tanpa disangka, ternyata kedua ranting bambu yang saling berhadapan itu terpisah satu sama lain.

Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa, bambu itu adalah hasil rekayasa. Pengerjaannya sangat rapi, bahkan bisa mengelabui banyak orang. Lihat saja kawan saya yang bahkan rela mengeluarkan uang untuk membelinya. Dua batang bambu digabung menjadi satu untuk membentuk apa yang dikatakan dengan istilah “tiing mepetuk”. Tujuannya sejak awal sudah jelas untuk menipu. Motifnya nggak jauh dari ekonomi, karena bambu tersebut memang untuk dijual.

Darimana orang tersebut bisa mendapatkan ide untuk membuat “tiing mepetuk” tersebut? Saya bahkan tidak mampu untuk berpikir sejauh itu. Tidak terbersit untuk mengakali bambu hingga bisa membentuk yang sedemikian rupa. Hingga bambu yang terbuang bisa laku terjual, bahkan dengan harga yang jauh lebih mahal.

Bukankah apa yang dilakukan penjual bambu tadi adalah bentuk kreatifitas? Bentuk dari permainan akal. Lebih sederhananya bisa dibilang sebagai akal-akalan. Memang, ini bentuknya adalah penipuan, karena ada yang dirugikan. Bentuk positif dari tindakan si penjual bambu tadi adalah dengan membuat hal berguna dari bambu. Bukan untuk menipu, tapi untuk membantu orang lain atau memberi keuntungan kedua belah pihak, antara penjual dan pembeli.

Sering kita mendengar istilah akal-akalan. Mungkin hampir di semua bidang ada yang namanya akal-akalan. Saya paling sering mendengar istilah ini di kalangan montir atau bengkel. Biasanya istilah ini digunakan untuk mengakali onderdil motor atau mobil agar layak guna dengan biaya yang lebih murah. Akal-akalan ini digunakan untuk memperpanjang usia pemakaian onderdil. Biasanya karena si empunya masih belum cukup uang untuk menggantinya, sedangkan kendaraan tersebut masih diperlukan.

Akal-akalan itu susah lho, nggak semudah kedengarannya. Saya pernah bersekolah di STM sekarang namanya SMK. Jurusannya otomotif pula. Untuk bisa melakukan perbaikan dalam taraf akal-akalan, seseorang harus paham dulu cara kerja motor dan fungsi dari onderdil tersebut. Tanpa memahami ini, seorang montir tidak akan bisa mengakali onderdil tersebut untuk bisa digunakan lagi. Jadi, akal-akalan itu kelasnya diatas mengganti. Banyak yang mengatakan kalau seorang montir yang bisa memperbaiki mesin dengan akal-akalan kecerdasannya melebihi montir yang bekerja di bengkel resmi.

Mengganti onderdil itu mudah, tapi mengakali onderdil itu lebih rumit. Kalau saja si empunya motor bisa membeli onderdil baru, tentu lebih mudah untuk langsung menggantinya. Tapi, ketika si empunya tidak memiliki biaya atas itu, disanalah akal-akalan itu sangat membantu.

Akal-akalan itu sumbernya dari kreatifitas, kreatifitas itu sendiri muncul dari pemahaman yang detail. Jadi, lebih kreatif mana antara anak yang belajar menari atau anak yang main mobil-mobilan? Jawabannya ya sama. Keduanya memerlukan kreatifitas. Hanya saja, bentuk kreatifitasnya berbeda. Keduanya tentu memberi manfaat yang berbeda pada diri tiap anak. Nah, masalah baik dan buruknya, tergantung si anak nantinya. Dia hendak menggunakan kreatifitasnya untuk membantu atau merugikan orang. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 4 =

Sabuk Kekebalan

Bertemu Di Perempatan