in

Bertemu Di Perempatan

Cuaca sore yang cerah ditemani segelas kopi dan sepotong donat adalah teman yang pas untuk berbicang. Perbincangan yang terjadi antara dua orang yang pernah saling berbagi banyak hal dalam hidupnya. Dua orang itu adalah saya dan dia.

Kami pernah menjalin cerita bersama untuk waktu yang cukup lama. Meski perpisahan nggak bisa dihindari, tapi, hingga hari ini kami masih berhubungan baik. Masih bisa berbicara baik-baik sebagai seorang teman.

Saya mendefiniskan cerita ini sebagai dua orang yang kebetulan bertemu di perempatan. Kalimat lebih sederhananya adalah dua orang dimana ceritanya saling bersinggungan dan bersilangan satu sama lain.

Kami mengambil jalan yang berbeda, tapi setelah setahun lamanya, kami bertemu kembali di suatu perempatan. Disanalah kami memilih untuk saling menyapa, daripada berpura-pura tidak saling mengenal. Pilihan yang tidak mudah untuk sebagian orang, piihan yang lebih baik juga untuk sebagian orang lainnya. Cerita masing-masing disusun masing-masinglah. Siapalah saya yang berhak mengatur cerita orang lain.

Kembali, disadari atau tidak, kita semua memang menulis cerita kita sendiri-sendiri. Tapi, dalam setiap cerita, kita tidak pernah sendiri. Selalu saja setiap cerita itu melibatkan orang lain, orang yang ada di luar diri kita untuk kita sangkutkan. Untuk kita ajak bersama dalam cerita tersebut.

Ini yang mungkin sering dilupakan banyak orang. Bahwa setiap orang yang bersinggungan cerita dengan kita telah memasuki alam kenangan, bukan lagi alam ingatan. Karena kenangan bukanlah hal yang bisa kita lupa. Ada istilah “lupa ingatan”, tapi belum ada istilah “lupa kenangan”, bukan?

Seberapa pedihpun cerita yang pernah terjadi, mengenangnya selalu membuat saya tersenyum. Padahal, seingat saya, ketika cerita itu terjadi, saya sedang galau tingkat dewa. Masih ada yang ngerti nggak sih arti ungkapan galau tingkat dewa ini? atau saya gunakan saja ungkapan yang lebih baku, gundah gulana.

Ketika cerita itu terjadi, saya sedang gundah gulana. Tapi begitu kenangan itu muncul dan diceritakan kembali, malah menghadirkan senyum dan tawa. Inilah ajaibnya sebuah kenangan.

Saya teringat dengan sebuah film yang berjudul The Notebook. Film yang diperankan oleh Ryan Gosling (Noah) dan Rachel McAdams (Allison) di kisaran tahun 2004 silam. Satu fragmen dalam film ini sukses mengeksploitasi kenangan sebagai sesuatu yang melampaui ingatan manusia.

Dan seperti yang sudah saya jelaskan diatas bahwa ingatan berbeda dengan kenangan. Kita bisa ingat ketika kita pernah memiliki sapu tangan, tapi apakah sapu tangan tersebut menyimpan kenangan, belum tentu.

Begitu juga yang terjadi pada Noah dan Allison dalam film The Notebook. Allison yang mengidap Dementia memang sedang terganggu ingatannya, tapi tidak dengan kenangannya. Kenangan itu masih ada pada diri Allison. Noah mencoba membangkitkan kenangan ini setiap harinya melalui cerita yang dia bacakan. Cerita-cerita yang mereka lalui bersama.

Ketika kenangan itu kemudian bangkit dan Allison kembali pada ingatannya. Disanalah mereka berdua hidup. Disanalah Noah dan Allison merasakan kembali kebahagiaan mereka. Momen itu tidak berlangsung lama, mungkin tidak sampai 1 jam untuk kemudian kembali kepada keadaan semula setelah itu. Allison kembali kepada Dementianya dan Noah kembali pada usaha membangkitkan kenangan melalui ceritanya.

Begitulah juga kehidupan kita. Kenangan itu ada dan berlangsungnya sekejap. Tapi, ada sekelumat kegembiraan dan canda tawa ketia dia bangkit. Ada secuil kosong yang terasa penuh ketika momen sentimental itu bangkit. Ada canda, tawa dan segudang kebahagiaan ketika saling berbagi cerita.

Ada orang dengan luka masa lalu yang bisa sembuh ketika mereka berbagi kenangan. Ada pula dendam yang sembuh ketika dua orang saling terbuka dan berbagi cerita. Tapi, tidak lantas kita larut dalam kenangan itu, bukan?

Setiap cerita adalah kenangan itu sendiri. Dan setiap kenangan adalah cerita itu sendiri. Kita tersusun oleh banyak cerita yang menyusun cara berpikir kita sekarang ini. Kita tersusun atas kepingan-kepingan cerita itu. Kepingan yang setiap saat bisa kembali ketika dipicu oleh apapun yang terkait pada cerita itu.

Nggak heran jika banyak orang sangat menikmati hal-hal yang membangkitkan kenangan mereka. Kenangan yang pernah terjadi pada hidup mereka. Entah itu melalui lagu, melalui percakapan, atau sekedar bernostalgia ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi di masa lalu.

Beruntunglah setiap orang yang dilimpahkan banyak sekali cerita dalam hidupnya. Beruntunglah mereka yang memiliki banyak kenangan dalam hidup mereka. Setiap kenangan itu adalah cerita penuh tawa dan gembira di masa depan dimana setiap orang yang terlibat bertemu lagi di sebuah perempatan jalan mereka. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + nine =

Berpikir Kreatif

Sapu Tangan