in ,

Bunuh Diri

Bunuh diri bukan perihal keberanian atau kepengecutan. Bahkan, bunuh diri nggak ada hubungannya dengan keinginan atau perasaan. Bunuh diri lebih tepat dikatakan sebagai kecenderungan yang diambil seseorang atas sebuah masalah. Bisa itu masalah dari luar dirinya, bisa juga masalah atas dirinya sendiri.

Orang dengan kecenderungan bunuh diri nggak akan terpengaruh dengan ejekan atau segala segala olok-olok pengecut yang dilontarkan orang. Mereka juga nggak butuh ceramah motivasi atau apalah itu namanya. Nggak, nggak begitu yang terjadi dengan orang bunuh diri.

Nggak juga mereka ingin untuk bunuh diri. Karena, bagaimanapun, dalam kondisi tertentu mereka sangat menikmati kehidupan. Tapi, situasi bisa berubah total dalam kondisi lainnya yang sering disebut dengan trigger atau pemicu.

Pemicunya bisa datang dari banyak hal. Yang saya tahu, paling banyak datangnya dari pikiran atau pemikiran tertentu. Pada beberapa kawan saya, ada yang dipicu oleh suasana.

Eh, ada lho kawan saya yang mau bunuh diri hanya karena menurutnya suasananya sedang tepat untuk bunuh diri.

Ceritanya sudah lama sekali. Seorang kawan saya mempersiapkan bunuh dirinya dengan baik. Karena itu tadi, dia merasa suasananya tepat untuk bunuh diri. Dia membawa segelas Baygon cair ke Bale Gedong. Dia meminum cairan tersebut dan merebahkan dirinya layaknya orang mati.

Kejadian itu cukup menghebohkan keluarganya. Bagaimana tidak, kawan saya nggak ada masalah apa-apa trus tiba-tiba bunuh diri. Tapi, untunglah bunuh diri itu gagal karena keluarganya yang panik melihat busa di mulutnya segera membawanya ke rumah sakit.

Yang lebih menghebohkan lagi adalah ketika kawan saya ditanya alasannya bunuh diri. Dengan entengnya dia menjawab, karena suasananya sedang tepat untuk bunuh diri. Itu saja. Entah bagaimana harus mendefinisikan keadaan kawan saya ini.

Beda dengan kawan saya lainnya yang mencoba bunuh diri karena kalut. Kejadiannya sudah lama sekali. Ketika itu saya sedang setengah mabuk bersama seorang kawan. Kebetulan, dia sedang terlilit hutang. Dia sendiri sudah kehabisan akal untuk melunasinya.

Pada titik inilah dia merasa kalut dan solusi paling tepat yang dia pikirkan adalah bunuh diri. Tapi, bunuh diri ini nggak terjadi. Karena, ketika dia mencoba melakukannya, kebetulan ada saya disana yang mencegahnya.

Yang saya lakukan nggak banyak, cuma menemani kawan saya ngobrol sampai pagi. Iya, cuma ngobrol sambil sedikit membelokkan stang sepeda motor yang dia arahkan ke mobil yang melaju kencang. Setiap ada mobil yang melintas, dia selalu mencoba menabrakkan diri. Dan, saya tepat berada di boncengannya.

Orang kalut seperti kawan saya ini nggak perlu ceramah motivasi atau apalah itu. Yang dia perlukan hanyalah waktu untuk lepas dari kekalutannya. Karena, kalut itu akan mereda dalam jangka waktu tertentu. Bisa satu jam, dua jam, bahkan bisa seharian. Dan, kecenderungan untuk bunuh diri itupun akan menghilang seiring dengan hilangnya kekalutan itu.

Kalut ini bisa juga terjadi karena sebab lain. Yang cukup saya kenali adalah kebingungan untuk bereaksi atas sebuah keadaan. Menurut penjelasan kawan saya, kejadian ini terjadi karena ketidakseimbangan cairan di otak yang banyak dikenal dengan Bipolar.

Pemicunya beragam dan entah dari mana. Datangnya juga nggak bisa diduga-duga. Ketika dia terpicu, terpicu saja, dan berlanjut pada perasaan yang aneh. Kemudian berlanjut pada kebingungan. Fase berikutnya adalah kepanikan dan kekalutan.

Pada titik kalut inilah biasanya muncul kecenderungan untuk bunuh diri. Saya sering mengalaminya, begitu juga dengan beberapa kawan saya yang memiliki kecenderungan yang sama.

Dalam kondisi ini saya cukup paham kalau saya hanya sedang perlu waktu untuk membiarkan kekalutan itu berlalu. Caranya bermacam-macam. Tapi, lebih sering saya menelepon kawan secara acak.

Bukan, saya bukan menelepon untuk meminta nasihat atau motivasi. Saya menelepon untuk ngobrol nggak jelas kesana kemari. Obrolan tanpa manfaat dan hanya buang-buang waktu. Sesuai dengan tujuan saya, hanya untuk menghabiskan waktu.

Saya cukup beruntung memiliki beberapa kawan yang mengerti kondisi ini. Sebenarnya, nggak semuanya mengerti, sih. Kebanyakan memang senang diajak ngobrol dan buang-buang waktu. Haha.

Sekali waktu, saya mengunjungi kawan dengan membawa beberapa botol beer. Sambil minum, sambil ngobrol nggak jelas dan menghabiskan waktu. Iya, kembali, hanya memanghabiskan waktu.

Untuk saya, melakukan hal-hal nggak berguna dan menghabiskan waktu kadang menyembuhkan. Dan mungkin satu-satunya obat yang mujarab untuk saya ketika terpicu oleh hal-hal yang belum saya ketahui saat ini. Paling tidak, membuang waktu bisa menjauhkan saya dari pikiran untuk melakukan bunuh diri.

Di sekitar kita ada banyak orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Dan, ada banyak pula orang yang abai. Lebih banyak lagi orang yang mencoba memotivasi orang-orang dengan kecenderungan bunuh diri.

Disadari atau enggak, motivasi-motivasi semacam ini banyak yang justru menjadi pemicu timbulnya niat untuk bunuh diri. Saya sendiri sering terpicu dengan motivasi semacam ini. Semacam ada perasaan kalau hidup saya nggak ada artinya sama sekali.

Sepengalaman saya, dan sejauh yang saya tahu, kecenderungan bunuh diri hanya timbul dalam jangka waktu tertentu. Yang bisa mengobatinya hanyalah menghabiskan waktu hingga kecederungan itu hilang. Sebab itu hal-hal semacam ini hanya bisa diobati dengan ngobrol dan menghabiskan waktu. Iya, menghabiskan waktu dan melakukan hal-hal nggak berguna. Bukankah hal-hal nggak berguna itu terkadang sangat berguna, bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen + 8 =

Cermin

Ada Bau di Pesawat Lion Air