in ,

Cadar

Saya bukan orang yang anti cadar, atau anti dengan penampilan apapun yang ditampilan oleh seseorang. Menurut saya, penampilan seperti apapun adalah hak individu setiap orang. Mereka berhak untuk tampil seperti apapun yang mereka mau. Mereka bebas mengekspresikan diri seperti apa yang mereka inginkan. Terbuka maupun tertutup. titik.

Saya juga bukanlah orang yang percaya kalau penampilan adalah identitas. Penampilan hanyalah soal gaya dan selera, bukan bagian dari identitas seseorang. Mengasosiasikan pakaian dengan identitas seseorang adalah salah satu kekeliruan cara berpikir yang sedang trend belakangan ini. Banyak yang mencoba menonjolkan identitas yang nggak mereka miliki melalui pakaian.

Salah satu yang banyak diasosiasikan orang dengan agama tertentu adalah cadar. Bercadar sendiri bukanlah sebuah masalah. Bercadar juga adalah pilihan pribadi seseorang. Tapi, bercadar kemudian menjadi masalah ketika banyak aksi teror yang justru memanfaatkan perempuan bercadar.

Perempuan bercadar memiliki modal utama untuk melakukan aksi teror. Pertama, mereka perempuan dan meminimalisir kecurigaan polisi atau aparat keamanan. Kedua, mereka berpakaian longgar dan tertutup yang memungkinkan untuk menyembunyikan bahan peledak atau senjata untuk melakukan aksi teror dalam pakaiannya. Kedua hal inilah yang dimanfaatkan para teroris.

Menyetujui pengasosiasian perempuan bercadar sebagai teroris juga keliru. Tapi, mau tidak mau, hal itu telah melekat seiring dengan makin banyaknya pelaku teror bercadar. Asosiasi semacam ini bukanlah hal baru dalam lingkungan sosial kita. Apalagi ketika berkenaan dengan keamanan.

Tatoo pernah diasosiasikan dengan kriminal. Dan orang bertatoo haruslah hidup dalam kecurigaan banyak orang. Eh, jangan salah, orang bertatoo pernah hidup dalam tindasan pemerintah, lho. Banyak orang bertatoo yang kalau selamat akan berakhir di penjara, kalau enggak, ya, mati hanya karena bertatoo.

Rambut gondrong juga pernah, diasosiasikan dengan kriminal. Bukan karena banyak pelaku kriminal yang berambut gondrong, tapi karena kesan urakan yang mengiringinya. Ada opini publik yang dibentuk pemerintahan Soeharto waktu itu untuk mengesankan orang-orang berambut gondrong sebagai kriminal.

Bayangkan jika anda bertatoo dan berambut gondrong. Tentu mudah sekali orang mengasosiasikan anda dengan berbagai tindak kriminal. Itulah yang terjadi pada saya.

Suatu hari saya sempat digeledah karena diduga sebagai kurir Narkoba. Kebanyakan kurir Narkoba yang sedang menjadi incaran Polisi berpenampilan seperti saya. Karena itulah saya turut terseret arus curiga itu.

Saya tentu tersinggung karena saya bukanlah pengguna Narkoba. Saya bahkan nggak tahu menahu perihal Narkoba. Tapi, ketersinggungan saya toh nggak akan digubris oleh Polisi. Mereka akan tetap menggeledah saya sesuai dengan prosedur kerja mereka.

Kalau ketika itu saya melawan, tentu persepsi bahwa orang bertatoo dan berambut gondrong sebagai pelaku kriminal akan semakin kuat. Melawan tentu akan menjadi sia-sia untuk orang dalam posisi saya ketika itu.

Nggak ada cara lain untuk mematahkan persepsi sekaligus membuktikan bahwa nggak semua orang bertatoo dan berambut gondrong adalah pelaku kriminal selain dengan membiarkan Polisi melakukan penggeledahan. Biarkan saja mereka melakukan pemeriksaan hingga ke lubang terkecil sekalipun. Toh, saya nggak merasa menyembunyikan apa-apa.

Begitu juga yang saya pikirkan tentang kondisi perempuan bercadar sekarang ini. Menurut saya, cadar sedang digunakan oleh kelompok teroris sebagai salah satu kamuflase untuk melakukan aksinya. Perempuan bercadar pun memang sedang menjadi sorotan atas aksi-aksi terorisme belakangan ini.

Nggak ada salahnya jika menerima dengan baik setiap pemeriksaan yang dilakukan terhadap tas, barang bawaan, bahkan jika ada pemeriksaan di sekitar badan kita. Kesediaan untuk diperiksa bukan berarti menerima bahwa kita sedang dituduh sebagai teroris, melainkan sebagai bantahan kalau kita bukan teroris. Sedangkan melawan atau menolak pemeriksaan sama dengan mengamini kalau kita memang bagian dari teroris tersebut.

Logikanya sama dengan ketika saya digeledah tadi. Kalau saya melawan, otomatis kecurigaan bahwa saya adalah salah satu kurir Narkoba seolah dibenarkan. Kesediaan untuk diperiksa sekaligus sebagai bantahan atas tudingan saya sebagai kurir Narkoba. Karena, nggak mungkin, kan, ada penjahat yang mau diperiksa dengan sukarela?

Ada yang masih ingat dengan kalimat “Kalau bersih kenapa harus risih”? Sederhananya, kalau nggak merasa berbuat salah, kenapa harus menolak diperiksa? Lebih sederhana lagi, cuma penjahat yang melawan kalau diperiksa. Karena, cuma mereka yang hendak berbuat jahat yang takut kejahatannya terbongkar kalau diperiksa, kan.

Memang, nggak sesederhana itu untuk mematahkan stigma yang sudah kadung melekat. Hingga kini, masih ada saja orang yang beranggapan kalau rambut gondrong dan tatoo adalah pelaku kriminal. Tapi, setidaknya, sudah lebih banyak orang yang mengerti kalau tatoo hanyalah bagian dari ekspresi dan seni.

Begitu juga dengan cadar. Saya yakin kalau di kemudian hari orang-orang akan mengerti kalau cadar hanyalah bagian dari gaya busana seseorang, bukanlah bagian dari organisasi teroris atau apa yang dipikirkan orang belakangan ini. Perjalanannya masih panjang untuk membuat orang bisa mengerti. Sementara itu terjadi, diperlukan kesabaran dan usaha yang terus menerus untuk membuktikannya.

Bukan nggak mungkin dengan semakin kerasnya reaksi atas pemeriksaan yang dilakukan Polisi akan semakin mengesankan sebagai bagian dari teroris itu sendiri. Kesan yang timbul justru ada sesuatu yang disembunyikan oleh perempuan bercadar hingga menolak untuk diperiksa.

Terlebih, banyak perempuan bercadar yang justru memberi dukungan terhadap aksi teror. Glorifikasi terhadap aksi teror semacam ini hanyalah akan memperburuk stigma terhadap perempuan bercadar itu sendiri.

Tanpa ada pengimbang atas stigma buruk itu, mustahil rasanya orang akan mengubah pandangannya terhadap perempuan bercadar. Jadi, untuk yang peduli, sebaiknya memang menunjukkan bahwa perempuan bercadarpun bisa bergaul dan berpikiran terbuka seperti perempuan lainnya. Nggak semua perempuan bercadar itu berpikiran tertutup apalagi menganut ideologi tertutup. Nggak semua perempuan bercadar itu bagian dari teroris. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + six =

Penjahat Pencari Mati

Pura-Pura Mabuk