Semua mungkin hanya sebatas khayalan atau angan-angan dari seorang lelaki yang menikah muda untuk mengalami saat-saat dimana anak pertamanya lahir. Ini mungkin yang terjadi pada bapak saya ketika malam itu air ketuban ibu saya pecah.

Dengan persiapan yang serba minim harus bergegas untuk membawa ibu saya ke rumah sakit terdekat. Kejadian itu terjadi malam hari sekitar pukul 21.00 wita di sebuah desa terpencil di lombok tengah, tepatnya di desa praya dimana rumah sakit berjarak sekitar 3 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Sebagai seorang kepala rumah tangga pemula, pada tahun 1983, dimana motor adalah barang mewah. Motor hanya bisa dimiliki kalangan orang yang terbilang kaya. Sedangkan bapak saya hanya sebatas tukang jahit biasa. Motor bukanlah barang yang mampu dia beli.

Untung saja ada tetangga baik hati yang meminjamkan kendaraan. Bukan dipinjamkan sih, tepatnya disewakan. Kendaraan yang disewakan ketika itu sejenis mobil pickup tapi ada tutup pada bak belakangnya. Tempat duduk kecil tipis memanjang di ruas kiri dan kanannya.

Ibu saya di rebahkan beralaskan tikar diantara kedua tempat duduk dalam pickup tersebut. Saking kecil dan tipis tempat duduknya, nggak memungkinkan untuk ibu saya duduk atau bersandar. Ibu saya seorang calon ibu muda yang pada waktu itu kira-kira berusia 21 tahunan.

Kala itu adalah kehamilan pertamanya dan kebetulan yang dikandung adalah saya. Nggak seperti calon orangtua lainnya, ibu dan bapak saya hidup jauh dari orang tua sehingga nggak ada bimbingan dalam proses kelahiran itu. Bisa dibilang kedua orang tua saya menjalani masa-masa itu secara otodidak alias belajar dengan improvisasi sendiri.

Satu jam perjalanan menuju rumah sakit, ibu saya sudah tidak kuat menahan sakit. Tapi menurut saya sih waktu itu saya yang sudah tidak tahan untuk berlama-lama di dalam perut ibu. Apalagi kejadiannya waktu itu ibu saya di rebahkan di alas tikar yang kalau di perjelas lagi, dibawah tikar itu ada permukaan yang terbuat dari baja dan nggak rata. Coba saja bayangkan, siapa yang betah buat berlama-lama berada dalam situasi tersebut.

Alhasil ibu saya nggak bisa meneruskan perjalanan hingga ke rumah sakit. Bapak saya mengambil inisiatif untuk bertanya pada penduduk sekitar dan kebetulan waktu itu ada dukun beranak yang tinggal tidak jauh dari sana. Dengan bergegas bapak saya dan sopir membopong ibu saya menuju tempat persalinan mbah dukun. Eh, waktu itu bidan cuma ada di rumah sakit. Nggak seperti sekarang ini dimana bidan delima sudah ada dimana-mana. Jadi, kalau nggak bisa ke rumah sakit, maka dukun beranaklah yang mengambil peranan.

Menurut cerita bapak saya, si dukun itu adalah ahli dalam hal persalinan. Nggak berapa lama perut ibu saya dipegang oleh si dukun, saya lahir tanpa halangan dan kekurangan suatu apapun. Ciri-ciri saya lahir dengan baik adalah tangisan yang keras. Katanya sih, tangisan saya waktu itu sampai membangunkan beberapa tetangga dari si mbah dukun.

Membayangkan suasana waktu itu, saya bisa melihat wajah sumringah terpampang dari bapak saya. Karena fase awal mejadi seorang suami telah dia lewati. Setidaknya dia pikir semua akan menjadi lebih mudah setelah saya lahir. Saya rasa, seorang suami pemula rata-rata berpikiran demikian. Saya rasa, nggak satupun dari mereka yang tahu kalau kelahiran saya adalah awal dari mereka untuk bekerja tanpa henti. Awal dari mereka harus mencari uang lebih untuk satu lagi perut yang harus mereka kenyangkan.

Mitosnya, bayi baru lahir itu menangis karena kegirangan. Kalau secara medis bayi itu menangis untuk berkomunikasi dengan orang tuanya karena hanya itu yang bayi tahu untuk berkomunikasi. Tapi menurut saya, waktu itu saya menangis karena ketakutan sama mbah dukunnya.

Coba saja dibayangkan terlahir di desa agak terpencil, gelap, dan yang kamu lihat pertama kali adalah wajah nenek-nenek dengan gigi hitam dan masih ada sisa sirih di mulutnya. Jangankan bayi baru lahir seperti saya, anak umur 10 tahun juga kalau melihat itu akan menangis ketakutan. Tapi yang namanya orang tua, mereka nggak akan pernah mengerti apa yang anak mereka rasakan, mereka hanya tau kalau mereka bahagia karena anaknya sudah lahir.

Media komunikasi yang paling mumpuni untuk mengabarkan pada keluarga tentang kelahiran saya hanyalah selembar kertas telegram. Eh, waktu itu telegram adalah media komunikasi yang paling mahal. Biayanya dihitung perkata. Telegram yang dimaksud adalah telegram dalam bentuk surat, bukan telegram aplikasi seperti sekarang ini.

Jangankan aplikasi, jaman itu, telepon hanya dimiliki oleh orang kaya dan penting. Kalaupun mau cari telepon umum, masih belum ada. Apalagi wartel, tambah nggak ada lagi. Meski paling mahal, telegram waktu itu hanya bisa disampaikan dalam hitungan hari. Paling cepat satu hari.

Pada setiap kelahiran seorang anak, keluarga saya mewajibkan ari-ari atau tali pusar si anak untuk dibawa pulang ke rumah tua atau rumah asal bapak saya. Tepatnya, ari-ari saya dibawa pulang ke Bali untuk diupacarai. Berhubung waktu itu keadaan serba sulit, akhirnya diputuskan untuk menyimpan sementara ari-ari saya untuk dibawa ke Bali setelah kakek saya datang menjemputnya.

Menurut mitosnya, nggak boleh sembarang orang memegang ari-ari bayi. Apalagi kalau yang lahir adalah anak pertama dan laki-laki. Karena, menurut ceritanya, ari-ari bisa digunakan oleh penekun ilmu gaib untuk menyakiti bahkan membunuh si bayi. Bisa juga, ari-ari tersebut digunakan untuk membuat ramuan yang mujarab untuk menambah kesaktian seseorang.

Kedengarannya sedikit mustahil untuk dunia modern seperti sekarang ini. Jangan lupa, kejadian itu terjadi pada tahun 80-an dimana orang masih kuat keyakinannya atas hal-hal mistis semacam itu. Tapi, di keluarga saya, terutama kakek saya, masih kuat sekali keyakinannya akan hal-hal mistis semacam itu. Sulit rasanya untuk nggak percaya pada hal semacam itu di negara kita ini. Karena, belum ada yang bisa benar-benar membuktikan ada atu tidaknya hal-hal mistis itu. Jadi, untuk amannya, sebaiknya saya percaya saja. Daripada nanti berujung nggak baik. Ya, kan?

Mitos yang lebih seram lagi adalah saya cucu pertama dari anak pertama dan berjenis kelamin laki-laki. Menjadi bayi yang terlahir dalam keadaan itu adalah satu ujian maksimal yang dimulai semenjak kelahiran saya. Karena, menurut keyakinan keluarga saya, kondisi saya itu menyebabkan saya menjadi sasaran favorit para penekun ilmu gaib.

Mungkin, ini cuma mungkin lho ya, karena saya sendiri nggak tau yang sebenarnya. Mungkin saja, kalau berhasil mengerjai seorang anak seperti saya mereka akan mendapatkan kenaikan tingkat keilmuan. Ibaratnya, saya adalah ujian kenaikan tingkat bagi mereka.

Tapi, sayang seribu sayang, mungkin banyak dari mereka yang harus kecewa karena gagal lulus ujian. Buktinya, saya masih hidup hingga sekarang ini. Eh, ini kan harusnya jadi cerita tentang kelahiran saya, tapi kok jadi cerita gaib-gaiban sih. Duh, kalau dilanjutkan sepertinya tulisan ini akan berubah menjadi cerita dunia lain. Jadi, lebih baik saya akhiri saja sampai disini. Terima Kasih.