in

Cerita Berseri

Apa yang saya jalani sekarang saya yakini sebagai sebuah cerita berseri. Setiap hal yang berjalan dalam hidup saya adalah satu seri cerita dari sekian banyak seri cerita yang telah saya lewati semenjak kecil. Semua hanya sebatas cerita satu untuk dilanjutkan menuju cerita lainnya.

Seperti yang dilukiskan oleh God Bless dalam lagunya Panggung Sandiwara. Iya, Semua memang hanya sebatas panggung sandiwara dimana saya mengambil peran di dalamnya.

Saya sering berganti peran, tergantung cerita apa yang sedang saya jalani. Hingga umur ini, saya telah menjalani berbagai peran. Kecuali satu, peran mati.

Peran dimana saya sudah tidak ada dalam cerita itu lagi. Peran dimana keberadaan saya dalam cerita itu dihapuskan. Penentu kapan saya harus berperan seperti itu bukanlah saya, karena saya hanyalah seorang aktor, seorang pemain. Penentu kapan saya harus berperan mati ditentukan oleh sang sutradara. Entah siapa itu, entah dimana keberadaannya. Saya sendiri nggak pernah tau.

Ada banyak cerita yang menggambarkan keagungan dan kebesaran sang sutradara. Tapi, hingga kini belum ada yang bisa membuktikan keberadaannya. Kecuali, hanya dalam cerita dan teks kuno dimana katanya orang-orang jaman itu sangat dekat keberadaannya dengan sang sutradara.

Mereka seperti kenal dekat, sangat dekat hingga setiap saat mereka bisa menemukan keberadaan sang sutradara. Hingga setiap apapun yang mereka jalani mereka mendapat tuntunan langsung dari sang sutradara.

Sebagai aktor yang baik, saya berusaha untuk menyesuaikan diri pada peran yang sedang saya jalani. Termasuk ketika ketika saya menyakiti seseorang. Saya bukanlah berkehendak untuk menyakiti siapapun. Melainkan itu hanyalah bagian dari peran yang saya jalani. Begitu juga kalau mereka yang saya sakiti memahami. Mereka tidaklah benar-benar tersakiti, melainkan hanyalah berperan sebagai orang yang tersakiti.

Begitu juga dengan segala perasaan kecewa, sedih, tersinggung, marah, dan segala peran yang menyangkut perasaan lainnya. Disadari atau tidak, semua itu hanyalah bagian dari peran yang mereka jalankan ketika menjalani cerita bersama saya.

Tidak lantas semua peran itu dijalankan terus menerus. Melainkan, peran itu berubah seiring dengan cerita baru yang mereka jalani. Tentu, ketika peran berubah, jalan cerita berubah, perasaan itu berubah pula, bukan?

Sayapun begitu. Setiap memasuki cerita baru, setiap memasuki peran baru, saya menanggalkan peran lama dan perasaan yang terpaut pada cerita lama. Cerita itu sudah berakhir, begitu juga peran itu. Tidak layak rasanya peran lama itu dibawa bawa lagi pada cerita yang ada sekarang ini.

Karena, bagaimanapun itu, mengingat peran lama hanya akan menggangu objektifitas kita pada peran baru yang sedang kita jalani. Tanpa objektifitas atas peran baru, mustahil rasanya kita bisa menjalankan peran itu dengan baik.

Sebuah cerita bisa hidup tentu harus dengan perasaan, harus dengan penjiwaan. Tanpa melibatkan perasaan itu, mustahil rasanya sebuah cerita itu bisa hidup dan berkesan. Tapi, sebagai aktor, tentu kita seharusnya memahami kapan harus beranjak dari satu perasaan ke perasaan lainnya. Kita dituntut untuk bisa memilah perasaan yang mana yang paling sesuai dengan peran kita saat itu. Tidak lantas kita hanya berkutat pada satu perasaan itu-itu saja untuk kita gunakan pada semua peran.

Celakanya adalah, nggak semua dari kita paham kapan kita memasuki cerita baru atau masih berkutat pada cerita lama. Banyak dari kita memilih untuk berperan sama terus menerus. Mungkin, karena kita sedang merasa menjalani cerita yang sama. Mungkin juga karena kita menganggap semua cerita sama. Mungkin juga kita sedang memilih untuk berada pada cerita yang sama karena enggan berpindah pada cerita lainnya.

Saya menganggap hidup ini sebagai sebuah cerita berseri. Sebuah cerita besar yang disusun atas serial kecil. Tidak tentu berapa episode untuk setiap serinya. Kadang panjang, kadang juga pendek. Bahkan kadang, ada episode yang berlangsung hanya sekejap. Iya, hanya sekejap. Nggak lebih dari satu kedipan mata. Dan satu kedipan mata itu kadang adalah bagian penting untuk memahami satu seri cerita yang sedang kita jalani.

Dibalik sang sutradara tentu ada penulis cerita. Saya lupa bilang kalau sang sutradara juga merangkap penulis cerita. Mungkin begitu, mungkin juga enggak. Saya juga kurang paham. Karena, baik sang sutradara maupun penulis ceritanya belum pernah saya temui. Atau jangan-jangan, kitalah sang penulis cerita, dan sang sutradaranya adalah kita sendiri. Mungkin. Tergantung darimana kita memahami setiap cerita yang kita pernah kita jalani. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 15 =

Berlian

Amati Internet