in

Cermin

Ketika kita bercermin, apa yang terlihat? Tentu bayangan kita seutuhnya. Apapun yang ada di diri kita, itulah yang tergambar dalam cermin. Begitu juga ketika kita menilai orang lain. Kita nggak sadar ketika menilai orang lain, kita hanya melihat cerminan diri kita dalam wujud orang lain. Kita hanyalah menempelkan atribut-atribut yang kita tau pada orang lain.

Padahal, siapa kita untuk menilai orang lain? Kita bukanlah siapa-siapa untuk mengerti atas apapun pilihan yang diambil orang lain. Kita nggak secuilpun paham apa yang telah dialami orang lain untuk sampai pada titik berdirinya sekarang ini. Terlebih, kita bukanlah siapa-siapa diantara belantara limbah moral yang berserakan di dunia ini.

Manusia Mencari informasi, memproses informasi kemudian mengambil keputusan atas dasar informasi tersebut. Meski keputusan yang diambil sama, belum tentu dasar pengambilan keputusannya sama. Begitu juga sebaliknya, meski dasar pengambilan keputusannya sama, belum tentu juga keputusan yang diambil sama.

Pernah, suatu hari seorang kawan berbicara tentang melihat apa adanya. Awalnya saya berpikir melihat apa adanya hanya sebagi melihat apapun sesuai dengan adanya. Misalnya melihat batu sebagai batu dan segala atribut yang menyertainya. Begitu juga ketika melihat manusia sebagai manusia dengan segala atribut yang menyertainya.

Perlahan saya mulai paham. Melihat apa adanya berarti melihat tanpa menilai, melihat tanpa menjustifikasi. Misalnya, ketika kita melihat batu, kita hanya melihat batu, titik. Tanpa perlu membubuhkan atribut apapun terhadap batu tersebut. Begitu juga ketika kita melihat seorang manusia, cukupkan dengan melihat manusia, Nggak perlu ditambahkan dengan atribut ini dan itu.

Karena, atribut apapun yang kita pasangkan terhadap orang lain hanyalah apa yang kita tau dengan menyampingkan apa yang mereka tau. Belum tentu, kan, apa yang kita tau lebih baik dari apa yang mereka tau?

Kita sering begitu mudah menuduhkan sesuatu pada orang lain. Dan tanpa kita sadari, tuduhan kita sebenarnya adalah reaksi kita jika dihadapkan pada masalah yang sama. Tanpa kita sadari, setiap tuduhan hanyalah cermin dari sikap kita jika berada pada kondisi yang sama. Yang berarti ketika kita menuduhkan sesuatu secara tidak langsung kita telah mendefinisikan diri kita sendiri.

Saya banyak mengenali orang dari tuduhan-tuduhan yang mereka alamatkan pada orang lain. Sederhananya, saya mencocok-cocokkan kondisi yang terjadi dengan apapun yang mereka tuduhkan. Apa yang mereka katakan, itulah mereka.

Pada banyak situasi, saya sering melakukan yang sama. Saya sering memberi tuduhan ini dan itu pada orang lain. Saya bahkan sering memberi atribut ini dan itu pada orang yang baru pertama kali saya temui. Hanya saja, saya tidak mengeluarkannya dalam bentuk kata-kata. Saya hanya menyimpannya dalam hati.

Segala atribut dan tuduhan yang saya berikan pada orang lain biasanya memudar seiring dengan cerita demi cerita yang saya dengarkan. Mungkin lebih tepatnya, atribut dan tuduhan itu memudar seiring makin banyak informasi yang saya terima dari orang yang bersangkutan.

Kita banyak lupa untuk mendengarkan sebelum menuduh. Kita sering lupa untuk menahan diri sebelum menuduh. Seringkali pikiran kita mengambil kesimpulan terlalu dini atas orang lain tanpa memberi jeda pada cerita-cerita lain yang mungkin sangat jauh dari apa yang kita simpulkan semula.

Yang paling sering kita lupakan adalah kita, dia, kamu, mereka, kalian adalah manusia. Sebagai manusia, nggak ada satupun dari kita yang sempurna. Kita semua bisa saja berbuat salah. Nggak ada satupun dari kita yang lebih benar dari orang lainnya. Siapa kita untuk merasa lebih benar dari orang lain?

Sebagai manusia, selayaknya kita memberi ruang pada cerita-cerita yang orang lain tanpa memberi atribut atau tuduhan apapun atas cerita tersebut. Sebagai manusia selayaknya kita melihat manusia lainnya sebagai manusia. titik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four + 13 =

Ruang Untuk Cerita Baru

Bunuh Diri