in ,

Cumi Rebus (Calon Suami Rekening Bagus)

Ungkapan ini telah banyak beredar di media sosial. Saya rasa salah satu pemicunya adalah percakapan antara Inul Daratista dan Hotman Paris. Dimana Inul menanyakan pendapat Hotman Paris tentang cewek matre.

Hotman menjelaskan bahwa nggak ada yang namanya cewek matre. Yang ada hanyalah cowok kere yang nggak mampu membiayai ceweknya. Karena itu mereka cowoknya komplain dan menyebut ceweknya dengan cewek matre.

Bicara tentang rekening bagus, masih belum jelas seberapa jumlah saldo yang dikatakan bagus. Kalau kita gunakan rekeningnya Hotman Paris sebagai acuan, tentu sebagian besar dari kita adalah pemilik rekening yang nggak bagus. Kalaupun kita gunakan kata cukup sebagai acuan, tentu, sebagian besar dari kita masih belum merasa cukup atas apa yang kita miliki, bukan? Lalu, seberapa besarkan yang bisa dikatakan bagus itu?

Mungkin acuannya bisa kita simpulkan dari seberapa banyak tuntutan cewek terhadap cowok atau sebaliknya, hingga mereka bisa keluar dari istilah matre tersebut. Jika perbulan dituntut 10juta, maka yang cukup adalah 20 juta. Begitu seterusnya. Ini mungkin lho ya, hanya asumsi saya saja. Bukan patokan resmi, karena belum ada journal akademik atau peraturan perundangan yang bisa dijadikan patokan.

Beberapa kawan saya ada yang berpendapat sama. Ada juga yang berpendapat berbeda. Sebenarnya benang merahnya adalah kemampuan untuk mengelola keuangan. Baik itu cewek ataupun cowoknya, keduanya memiliki peran. Keduanyalah yang bisa menyeimbangkan.

Idealnya sih, semua orang ingin memiliki rekening bagus. Dari pekerja hingga manajer bahkan hingga para bos pun ingin memiliki rekening bagus. Hanya saja, ada yang beruntung mendapatkannya, ada pula yang kurang beruntung. Ada yang kerja sedikit hasilnya banyak, ada pula yang sudah kerja mati-matian tapi hasilnya tetap pas-pasan.

Tidak semua di dunia ini mendapatkan keadilan yang layak sesuai dengan proporsinya, bukan?

Toh, kalau sudah bekerja dan berusaha hasilnya belum bagus, apa mau dikata. Tapi, apakah wajar cewek menuntut lebih dari itu? Tentu enggak. Saya katakan demikian karena memang yang cowok sudah berusaha. Toh, kalaupun kurang, kenapa bukan yang cewek ikut untuk berusaha. Turut serta, paling tidak agar bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Supaya nggak ikut membebani penghasilan cowoknya yang masih belum bagus itu.

Beda jika cowoknya yang banyak menghabiskan waktunya diluar. Kerja seadanya, dan bawa hasil juga seadanya. Tentu wajar ceweknya menuntut. Selain sebagai motivasi agar cowoknya lebih giat bekerja, juga demi kenyamanan hidup berdua. Bahwa hidup harus dimaksimalkan, begitu juga dengan bekerja, harus dimaksimalkan.

Tapi begini, keseimbangan yang dimaksud adalah dengan mengenali potensi masing-masing. Bukan karena dia cowok maka dia harus yang mencari uang, atau sebaliknya. Keduanya bisa saja berjalan sebagai pencari uang. Tergantung keadaan atau tergantung situasinya.

Jadi, sebenarnya, nggak ada itu yang diistilahkan dengan cewek matre, kalaupun ada, seharusnya ada pula cowok matre, kan? Tapi, pada kenyataannya, yang berkembang hanyalah istilah cewek matre.

Mungkin ini adalah salah satu ekpresi cowok untuk menutupi ketidakmampuannya. Karena, kebanyakan cowok enggan untuk dipaksa-paksa. Enggan untuk diperas tenaganya untuk bekerja. Lebih banyak yang suka bersantai. Bukan bersantai seharian, tapi bersantai semacam, berapapun yang dihasilkan ya dicukup-cukupkan, tanpa harus ribet lagi memikirkan cara untuk mencari uang tambahan.

Mungkin, karena paksaan ini munculah istilah cewek matre sebagai negasi atas perempuan yang menuntut soal materi terhadap mereka. Mereka bersembunyi dibalik kamuflase cinta yang seharusnya menerima apa adanya. Padahal sih, cowoknya aja yang belum bisa maksimal.

Tapi ya gitu, bukan cuma satu pihak yang harus berusaha untuk itu. Kedua belah pihak juga hendaknya berpartisipasi.

Bukan cuma jadi cewek yang ribet dalam keluarga. Jadi cowok malah lebih ribet lagi. Stigma yang melekat di masyarakat mau tidak mau memaksa cowok untuk jadi kuat. Cowok harus sanggup untuk jadi tulang punggung keluarga.

Cowok yang bekerja tapi pemasukan sedikit dibilang nggak berguna. Jarang libur karena tuntutan pekerjaan dibilang nggak peduli sama keluarga. Meminta istrinya tinggal dirumah dan urus keluarga dibilang mengekang. Sedangkan ketika dia memilih untuk tinggal dirumah dan istrinya yang bekerja dibilang nggak tau malu.

Nurut sama ibu dibilang anak mami, sedangkan nurut sama istri dibilang suami takut istri. Marah sama anak diiblang galak, sedangkan kalau nggak memarahi dibilang nggak tegas. Hemat dibilang pelit, sedangkan loyal dibilang boros. Dan banyak stigma-stigma lain yang jadi beban cowok dalam kehidupan sosialnya.

Jadi, sebenarnya cewek dan cowok nggak ada bedanya, keduanya memiliki keribetan masing-masing dalam kehidupan sosialnya. Cara terbaik untuk menangkal itu, ya, dengan bekerja sama. Bukan dengan saling membebani satu sama lain. Bukan juga dengan lepas tanggung jawab satu sama lain.

Kalau sudah bekerja sama dengan baik dan mendatangkan hasil yang cukup. Saya rasa, sih, sudah nggak akan ada lagi istilah matre dan yang sejenisnya. Sudah tidak diperlukan lagi istilah itu sebagai negasi satu sama lain. Toh, sama-sama berusaha, sama-sama merasakan susah dan senangnya. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × four =

Horang Kayah

Galau Nonton Bokep