in

Dedarinan

De Poyok, seorang duda beranak satu tengah kasmaran. De Poyok tengah kepincut dengan seorang perempuan asal Jawa Barat. Kita sebut saja namanya Bunga. Mereka bertemu di sebuah kafe remang di pinggiran Kota Tabanan. Bunga adalah salah satu waitress yang bekerja disana.

Menurut cerita beberapa kawan, semenjak pertama kali bertemu dengan Bunga, De Poyok langsung menghilang dari peredaran. Dia sudah nggak bisa lagi ditemui di tempat-tempat nongkrong biasanya. Kabarnya, De Poyok tinggal di tempat kostnya Bunga. Kita sebut saja sebagai tempat kostnya Bunga. Padahal, udah ketebak kalau De Poyoklah yang menyewa tempat itu agar bebas bersama Bunga.

Sebagai lelaki Bali tulen, De Poyok nggak bisa sembarangan membawa perempuan tinggal di rumahnya. Apalagi ketika orang tahu situasi pekerjaan dan penampilan Bunga. Bisa-bisa De Poyok menjadi bahan pergunjingan satu desa. Untuk De Poyok sih nggak apa-apa. Tapi, untuk orang tuanya, bisa-bisa kabar itu membuat mereka mati berdiri.

“De Poyok nak sedang dedarinan” Kata Men Ranji.

“Beh, Yen suba dedarinan, nak sing kar inget teken apa. Tolih je I Kadek delod umahe. Kayang ke jani cara nak buduh. Engsap teken natah ulian cewek kafe. Panakne, sing ada ane ngerunguang. Kurenane suba kadung sakit hati, suba pepes nagih mulih dogen” Sahut Men Ratni.

“Liu pesan dingeh anake ane metunangan ajak cewek kafe jeg benyah latig jumahne. Ada ane sakit, ada ane sing mulih-mulih, ada masih ane nampi hutang” Sambung Men Rina.

“Kenken kaden kar nasibne De Poyok. Yen suba kalahin kurenan, jani metunangan ngajak cewek kafe. Sing taen beneh asane ngalih nak luh” Kata Men Ranji.

De Poyok bercerai dengan istrinya karena hal sepele. Istrinya merasa De Poyok bukanlah lelaki perkasa. Dia hanya bisa bertahan nggak lebih dari 10 menit, sedangkan istrinya mengharapkannya untuk bertahan minimal 30 menit. Nggak jarang istrinya mencari kepuasan ke tetangga sebelah. Beberapa lelaki memang mengakui sering diajak kencan oleh istrinya De Poyok. Hingga kasus terbesarnya adalah, istrinya nggak pulang 3 hari karena terlalu betah tidur bersama kawan dekatnya De Poyok.

Perceraian itu sebenarnya bukanlah keinginan De Poyok. Melainkan, istrinya yang memaksa. Itupun setelah istrinya De Poyok menghilang selama sebulan karena De Poyok nggak memenuhi tuntutan cerainya. Karena terpaksa, akhirnya De Poyok menceraikan istrinya.

Selang 3 tahun setelah perceraian itu, De Poyok akhirnya merasakan gairah hidupnya kembali. Tepatnya, setelah De Poyok bertemu Bunga.

Bunga baru sebulan tinggal di Bali. Sebelumnya, dia tinggal berpindah-pindah. Saya masih kurang paham bagaimana rotasi penempatan pekerja seperti Bunga. Tapi, menurut cerita, sebelum di Bali, dia pernah bekerja di Surabaya dan Jakarta. Kesemuanya adalah kafe remang. Awalnya saya mengira ada agent yang mengelola perkerja seperti mereka. Tapi, entahlah, agentnya nggak jelas, yang membawa dan memindahkan merekapun nggak jelas siapa orangnya.

Saya cukup paham kenapa Bunga ini spesial di mata Poyok. Bunga mampu menutupi kelemahan Poyok. Meski De Poyok hanya mampu bertahan 10 menit di ranjang, Bunga nggak pernah mempermasalahkannya. Malahan Bunga nggak pernah menuntut apapun dari Poyok. Sikap inilah yang membuat De Poyok jatuh hati padanya. Dia merasa seperti lelaki normal. Segala kekhawatirannya selama ini karena masalah seksualnya terhapuskan begitu saja.

Poyok merasa layak untuk memperjuangkan Bunga dengan segala yang dia miliki, bahkan lebih. Segala keperluan Bunga dia penuhi. Meski penghasilannya kurang, Poyok nggak segan-segan untuk meminjam uang ke bank. Bahkan, Poyok rela menjual dan menggadaikan apa yang dia punya hanya untuk memenuhi keperluan Bunga, meski Bunga nggak pernah meminta. Poyok juga siap meninggalkan keluarganya jika Bunga menghendaki.

Tiga bulan lamananya kisah asmara itu berlangsung. Hingga pada suatu hari, Bunga berpamitan pada Poyok. Bunga minta ijin untuk pulang kampung karena ada kabar kalau orang tuanya sedang sakit. Mau nggak mau Poyok harus mengijinkan Bunga untuk pulang. Toh nggak seberapa lama, begitu pikirnya. Nggak lupa juga Poyok menyelipkan bekal sekaligus biaya pengobatan untuk Bunga. Nggak seberapa banyak sih, tapi cukuplah kalau dihitung-hitung untuk biaya pengobatan sebulan.

Sudah hampir satu tahun cerita itu terjadi, hingga kini, Bunga belum juga kembali. De Poyok sekarang telah kembali pada kebiasaannya. Bekerja seperti biasa, nongkrong seperti biasa, mabuk seperti biasa dan nggak lupa mengunjungi kafe remang seperti biasanya.

Meski kisah asmaranya dengan Bunga sudah berlalu. Kenangan Poyok atas Bunga masih membekas hingga kini. Terutama, ketika debt kolektor datang menagih cicilan hutangnya. Judul baru perjalanan De Poyok adalah “Ku selalu terbayang padamu ketika debt kolektor itu datang”. De Poyok terlalu tergila-gila pada Bunga hingga lupa kalau meminjam uang di bank perlu untuk dikembalikan, perlu untuk dicicil tiap bulannya. Untung saja De Poyok masih memiliki pekerjaan. Kalau enggak, bisa-bisa De Poyok gila.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − fifteen =

Bermain Perempuan

Ngartis Sosmed