in

Gaji Kecil Penjudi Politik

Ada yang percaya nggak sih kalau gaji pejabat sekelas gubernur itu kecil? Kalau gajinya kecil, kenapa orang berebut untuk merebut jabatan itu? Hanya agar dihormati? atau karena ada sebab lain. Mungkin, ini mungkin lho ya. Gaji yang tercatat yang kecil, tapi, lain-lainnya yang besar. Yang termasuk lain-lain itu adalah… titik… titik… saya juga nggak tau, saya nggak pernah jadi pejabat, je.

Sebagai orang normal, saya rasa nggak masuk akal bagi orang untuk berebut jabatan yang gajinya kecil. Apalagi, konon kabarnya, uang yang dipertaruhkan lumayan besar. Hingga puluhan milyar bahkan ada yang sampai ratusan milyar. Saya sebut ini sebagai pertaruhan karena nggak ada logika yang lebih dekat dengan hal semacam ini selain berjudi.

Dalam berjudi, hanya ada 2 kemungkinan, menang atau kalah. Menang bawa kejayaan, kalah bahwa kehancuran. Yang menang dapat hasil kemenangan, sedangkan yang kalah kehilangan semua yang sudah dipertaruhkan, plus segala resiko kekalahan yang mengikutinya. Dalam berjudi, yang menang tertawa bahagia, sedangkan yang kalah hanya akan tertunduk lesu.

Berjudi hanya mengandalkan kemungkinan. Hitungan yang menjadi dasar para penjudi adalah hitung-hitungan peluang. Seperti kata pepatah di kalangan para penjudi, “kemungkinan menang ada, kemungkian kalah sudah pasti”. Semua hanyalah berdasarkan pada kemungkinan. Miriplah seperti apa yang terjadi dengan proses politik 5 tahunan itu. Mereka bertaruh sekian banyak hanya untuk sebuah kemungkinan. Kemungkinan untuk menang yang diikuti oleh kemungkinan untuk kalah.

Mengamati orang-orang yang suka berjudi, saya memiliki katetori tersendiri tentang penjudi. Setidaknya ada 3 kategori dasar penjudi jika dilihat dari keberaniannya mengambil resiko.

Pertama, penjudi waras. Orang yang masuk dalam kriteria ini adalah orang yang masih hidup dalam kewarasan. Maksudnya, berjudi dengan hitung-hitungan yang masih masuk akal. Selama peluangnya diatas 50 persen, pasti akan bertaruh. Kurang dari itu, lebih baik nggak bertaruh. Banyak juga yang bilang orang-orang seperti ini sebagai penjudi takut kalah. Wajar saja sebenarnya, siapa sih yang mau kalah? Penjudi paling bodohpun nggak akan mau kalah, kan?

Para penjudi waras adalah orang yang nggak mau ambil resiko. Meski ada resiko, tapi mereka berusaha mengambil resiko yang paling minim. Istilah lainnya, main aman.

Kedua, penjudi setengah waras. Yang masuk golongan ini adalah mereka yang tidak hanya mengandalkan hitung-hitungan, tapi, disertai juga dengan keyakinan atau intuisi. Mereka berani mengambil resiko ketika peluang minim, asal ada keyakinan yang kuat didalamnya. Keseimbangan antara hitung-hitungan peluang dan intuisi yang membuat penjudi tipe ini sebagai penjudi yang kerap kali memperoleh kemenangan.

Ketiga, penjudi gila. Mereka yang hanya bermodalkan keyakinan. Tanpa perhitungan. Kadang juga tanpa modal. Hanya karena yakin akan menang, mereka berjudi. Mereka-mereka ini yang dikatakan sebagai penjudi sejati. Bertaruh sepenuhnya, tanpa memikirkan banyak hal. Karena, sejatinya berjudi ya begitu itu. Bertaruh, mempertaruhkan apapun yang bisa dipertaruhkan. Menang kalah urusan nasib, yang penting bertaruh dulu.

Para penjudi gila ini adalah penjudi yang paling banyak ada. Semua diserahkan pada keberuntungan dan nasib. Nggak jarang dari mereka adalah orang-orang yang kehilangan segalanya demi berjudi. Pilihan yang ada di kalangan penjudi ini adalah antara kalah atau kalah, itu saja. Nggak ada peluang menang diantara mereka. Karena, itu tadi, mereka lebih banyak mengandalkan keyakinan yang lebih cenderung pada kenekatan.

Kalau mau dicocokkan, menurut saya, para petaruh politik cenderung pada kategori yang ketiga, yaitu, penjudi gila. Bayangkan saja, mereka bertaruh puluhan milyar hanya untuk jabatan yang gajinya kecil. Ketika menangpun mereka sebenarnya telah kalah. Bagaimana mungkin gaji yang kecil itu bisa mengembalikan modal berataruh mereka? Eh, ini kalau beneran lho gajinya kecil. Beda lagi hitungannya kalau ada gaji lain-lain yang mungkin jauh lebih besar dari gaji yang dikatakan kecil tadi.

Sepertinya sih nggak mungkin kalau orang-orang yang berebut jabatan politik itu adalah orang yang hanya bermodal nekat. Mereka tentu punya perhitungan sebelum bertaruh. Paling tidak, modal yang telah mereka keluarkan minimal harus kembali. Istilah dagangnya, balik modal. Untuk balik modal, tentu ada hal lain yang bisa mereka lihat. Seperti, proyek misalnya, tanda tangan misalnya, kebijakan, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan jabatannya nanti. Ini mungkin lho ya, bukan sesuatu yang pasti, saya juga nggak begitu tahu, saya nggak pernah jadi pejabat, je.

Mau bukti, coba saja amati pejabat yang tertangkap KPK. Uang sitaannya milyaran lho. Beda tipis lah dengan uang yang mereka pertaruhkan ketika berebut jabatan tadi. Itu baru yang berbentuk uang, belum yang berbentuk harta bergerak dan tidak bergerak, bIsa lebih. Istilah lainnya menang banyak bosque.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × four =

Batu Yang Sarat Pesan Spiritual

Menjaga Kewarasan Dengan Bokep