in

Galau Nonton Bokep

Pernahkah kau merasa, jeng.. jeng… jeng… jet (Impersonate Pasha Ungu).

Judulnya, beberapa hari yang lalu saya iseng menjelajah situs-situs dewasa. Jika ada yang bertanya, “kok bisa?”. Tentu saja saya bisa. Kebetulan, saya sedikit memahami tentang proxy dan bypass blokir dari Telkom, jadi saya memiliki akses untuk bertualang ke situs dewasa mana saja. Bukan hanya situs dewasa, situs manapun termasuk deep web yang katanya menyeramkan itu bisa saya akses.

Kebetulan juga saya adalah manusia yang dianugerahi jiwa kepo yang sangat tinggi. Jadilah, pengetahuan yang saya miliki sering iseng saya gunakan untuk mencari hal yang enggak-enggak. Orang bilang sih hal yang nggak bermanfaat. Tapi, bukankah kita sedikit tidak harus tau perkembangan dunia? termasuk dunia bokep, kan? agar paling tidak kita nggak kalah gaya saat ada yang melontarkan topik pembicaraan itu.

Keisengan saya berbuah kegalauan. Ditengah penelusuran, saya menemukan sebuah video yang mirip sekali dengan orang yang saya kenal. Orang tersebut mengambil nama Ratu Durgha Kidul. Setiap hari dia selalu memasang foto seksi dengan eksotisme kulit sebagai daya tarik utama di halaman facebooknya. Nggak begitu cantik, tapi sensual. Foto-foto sensualnya sukses memanen like dan komentar di facebook. Beberapa kali dia memasang video live di facebook dengan adegan joged-joged, tentu dibarengi busana yang memaksimalkan eksotisme kulitnya. Memaksimalkan eksotisme kulit berarti meminimalkan kulit yang tertutupi. Atau, yah begitulah, anda bayangkan saja sendiri.

Saya nggak kaget melihat video Ratu Durgha Kidul yang beredar. Karena, dari gelagatnya sehari-hari saja sudah terlihat kalau dia memang suka mengumbar keseksian. Memang tidak semua seperti itu. Tapi, sejauh yang saya ketahui, rerata orang yang suka mengumbar keseksiannya juga suka mendokumentasikan persenggamaannya. Mungkin malah, yang mengedarkan video tersebut adalah dia sendiri. Ini mungkin lho ya, bukan pasti, bukan juga tuduhan, hanya sekedar dugaan.

Baru beberapa menit saya menyaksikan adegan persenggamaan itu, ada rasa aneh yang ada dalam diri saya. Ada rasa malu untuk melanjutkan menonton. Ada perasaan kikuk. Entah kenapa, karena ini kali pertama saya menyaksikan video persenggamaan orang yang saya kenal. Tapi, ada sisi kepo saya yang menjadi-jadi. Memberontak memaksa dan menekan rasa malu untuk terus menyaksikan.

Semakin saya lanjutkan, kegalauan itu semakin menjadi-jadi. Antara malu dan kepo melebur menjadi satu. Membuat suasana menonton jadi serba salah. Menonton menjadi tidak menyenangkan lagi. Karena sudah tidak menyenangkan, saya akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan. Saya berpikir, apa faedahnya menonton kalau sudah tidak menyenangkan lagi. Lebih baik menghentikannya daripada membuat diri saya tersiksa dalam kegalauan.

Cerita nggak berhenti sampai disana.

Setelah berpikir sejenak, saya menemukan sekelumat jiwa kepahlawan yang muncul dalam diri saya. Tiada cara untuk menjadi pahlawan selain memberitahukan orangnya bahwa video bokepnya telah beredar di internet. Itu saya lakukan dengan tujuan agar orangnya bisa sedikit mawas atau melakukan tindakan yang perlu untuk mencegah beredarnya video itu lebih luas. Tapi, response yang saya dapatkan ternyata berbeda dari ekspektasi saya. Si mbak Ratu Durgha Kidul hanya menyambut dengan emoticon ketawa sambil menjulurkan lidah atas pesan yang saya kirimkan padanya.

Entah itu response yang bagaimana harus saya membalas. Mungkin dia mengira saya berbohong karena saya hanya memberinya tautan. Atau mungkin, dia memang sengaja menyebarkan video tersebut. Sekali lagi ini hanya sebuah kemungkinan, bukan sebuah tuduhan. Tapi, perasaan saya cenderung berat kearah kesengajaan untuk menyebarkannya. Karena, bagaimanapun juga, jika tersebarnya video tersebut merupakan sebuah kecelakaan, pasti sedikit tidaknya si empunya video akan memberi response terkejut dan melakukan sesuatu daripada sekedar mengirimkan emoticon tertawa sambil menjulurkan lidah.

Dari sini saya jadi sedikit berpikiran buruk pada setiap video persenggamaan amatir yang berdar. Terutama yang sering heboh menjadi berita media nasional. Saya curiga ada unsur kesengajaan dalam penyebaran video tersebut. Entah untuk tujuan apa. Mungkin untuk popularitas? mungkin juga untuk tujuan lain. Tapi, sekali lagi, ini hanya sebuah kemungkian, bukan tuduhan.

Ada lho gangguan kejiwaan yang disebut dengan eksibisionis, dimana penderitanya memiliki dorongan terus menerus untuk memamerkan alat kelaminnya. Mereka dikatakan memiliki kepuasan tersendiri atas reaksi orang yang melihat alat kelaminnya. Mungkin rekam merekam adegan persenggamaan ini termasuk pada gangguan kejiwaan ini. Mungkin juga rekam merekam ini termasuk gangguan kejiwaan jenis lain. Atau, mungkin juga, rekam merekam ini bukanlah termasuk gangguan kejiwaan.

Tapi, kalau menurut saya, ada sensasi tersendiri ketika merekam adegan persenggamaan itu. Ada sejenis rangsangan yang berbeda ketika ada kamera yang berada ditengah adegan itu. Apalagi ketika adegan itu ditampilkan langsung pada sebuah layar, beda lagi sensasinya. Eh, saya cerita begini karena saya pernah melakukannya. Tapi, usai merekam dan menyaksikan adegannya saya langsung singkirkan rekaman itu. Kekhawatiran saya atas tersebarnya video itu terlalu besar, makanya tidak saya simpan. Itu hanya sejenis percobaan dan mengobati kepo saya yang agak berlebih itu.

Pada beberapa artikel saya baca kalau ada beberapa orang yang justru terangsang dan mendapatkan kepuasan ketika merekam adegan persenggamaannya. Dan memang benar seperti itulah pengalaman saya. Tapi, untuk sengaja menyebarkannya, saya masih belum seberani itu, belum juga senekat itu. Saya masih memilih untuk hanya melakukannya di tempat terbatas, waktu yang terbatas dan hanya dengan pasangan saja. Masih belum siap untuk menjadi pembicaran publik atas adegan persenggamaan yang tidak seberapa itu.

Kalaupun ada yang ingin merasakan sensasinya, silahkan dicoba dengan hati-hati. Jaman sekarang ini, lengah sedikit saja data pribadi bisa go publik. Nggak enak lho jadi pembicaran publik, apalagi dibicarakan atau bahkan dibuly karena hal yang berhubungan dengan kelamin. Tau sendiri para lelaki, kalau sudah membuli kelamin orang memang jagonya. Padahal untuk menutupi kelamin sendiri yang tidak seberapa itu. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 − one =

Cumi Rebus (Calon Suami Rekening Bagus)

Wajah Yang Tersenyum