in

Golkar dan Intimidasi

Waktu kecil, kalau tidak salah usia saya masih 5 tahun. Sekitaran tahun 88-89, Golkar adalah istilah yang tepat untuk mendiskreditkan seorang anak ketika itu. Setiap anak yang di lekatkan dengan istilah “kamu golkar” adalah anak yang di stigmakan negatif. Suka bermain curang, dan nggak baik diajak bergaul.

Maklum saja, komplek tempat saya tinggal, Praya, Lombok Tengah adalah basis pendukung PDI ketika itu. Eh, dulu partai itu namanya PDI, bukan PDI Perjuangan seperti sekarang ini. Partai itu berubah nama setelah ada konflik antara Suryadi dan Megawati, kalau nggak salah sih.

Komplek tempat tinggal saya adalah basisnya PDI. Bisa dibilang, di komplek tersebut berkumpul beberapa keluarga pendukung militannya PDI. Seingat saya, ada seorang anak yang oleh bapaknya dinamai Perdina titik… titik.. saya lupa lengkapnya. Nama itu diberikan karena merupakan singkatan dari PDI.

Si anak kemana-mana memperkenalkan dirinya sebagai PDI. Mulai dari sekolah hingga tetangga, semua memanggilnya dengan sebutan PDI. Padahal, bapaknya sendiri bukanlah tokoh partai, melainkan seorang tukang jahit biasa. Entah apa yang memotivasi tindakan bapak itu.

Satu keluarga lain yang saya ingat adalah keluarga penjual obat. Bukan apotik, tapi obat-obatan sejenis jamu. Istilah populernya sekarang ini adalah obat cina. Nama toko obatnya Segar Waras. Rumah keluarga ini khusus menyediakan tempat untuk berkumpulnya orang-orang partai ketika itu.

Saya kurang jelas mengingat apakah ada rapat atau hal-hal organisasional disana, yang saya ingat hanyalah banyak orang-orang yang berkumpul disana setiap hari. Hanya sekedar ngopi atau nongkrong-nongkrong saja. Tapi, ketika musim kampanye tiba, di tempat inilah orang berkumpul untuk membuat bendera, bahkan logistik kampanye juga dikumpulkan disini.

Jaman dulu masih belum ada sablon. Jadi, ketika musim kampanye tiba, orang-orang berkumpul membawa baju kaos, bendera kosong, dan ikat kepala kosong. Di tempat ini disediakan kertas berlubang untuk kemudian disemprot dengan pilok. Istilah populernya sekarang ini disebut dengan stensil.

Bukan hanya baju atau ikat kepala, bahkan sampai motor atau mobil juga ikut kebagian stensil. Meriah sekali ketika itu. Komplek perumahan tempat tinggal saya mendadak berubah menjadi lautan merah. Ini istilah dramatisnya saja sih, padahal biasa aja. hehe.

Keluarga saya adalah keluarga yang netral, kalau nggak mau disebut pragmatis. Bapak dan ibu saya bukanlah orang yang peduli tentang politik. Mereka hanya akan manggut-manggut saja ketika ada kawan bapak yang datang ke rumah dan membicarakan politik.

Sisi pragmatisme keluarga saya terlihat ketika ada kawan mereka yang membawakan baju. Semua jenis baju mereka terima. Nggak banyak sih, cuma 3 baju. Karena, ketika itu hanya ada 3 partai, Golkar, PDI dan PPP. Padahal, ikut kampanye pun mereka enggak. Cuma bajunya saja yang mereka terima.

Seingat saya, ketika itu hanya Golkar dan PDI saja yang seperti musuh bebuyutan. Pendukung kedua partai saling nyinyir satu sama lain. Bukan nyinyir yang berhadapan sih, tapi nyinyir dibelakang. Mirip-lah seperti warganet sekarang ini.

Karena di komplek itu adalah basisnya PDI, maka disana setiap hari akan terdengar percapakan tentang segala stigma negatif yang melekat pada Golkar. Entah apa yang dilakukan oleh Golkar ketika itu, saya nggak ingat. Yang pasti, Golkar adalah lambang kecurangan bagi mereka, dan ini dibawa hingga ke anak-anak di komplek itu.

Sebagai anak kecil yang tidak mengenal partai-partaian, saya hanya cengar-cengir saja ketika dikatakan sebagai Golkar. Toh saya tidak mengerti artinya, buat apa juga ditanggapi. Tapi, cuek saya berubah ketika seorang kawan menceritakan asal muasal istilah Golkar itu dilekatkan pada saya.

Entah darimana asosiasi ini bermula, tapi ketika itu anak-anak di komplek menyepakati istilah ini. Siapapun yang berbuat curang pada sebuah permainan dijuluki si Golkar dalam waktu yang cukup lama. Saking melekatnya, istilah ini sangat intimidatif. Bahkan, ada beberapa anak yang mengancam menjuluki anak lain sebagai Golkar kalau tidak menuruti apa yang dia suruh.

Julukan ini pun pernah melekat pada saya. Bukan karena saya curang, tapi karena saya menolak untuk disuruh oleh anak lain. Kebetulan anak yang menyuruh saya adalah anak pemiliki toko obat Segar Waras itu.

Bukan hanya menolak disuruh, saya juga menolak diintimidasi dengan julukan Golkar tersebut. Tolakan tersebut bukan saya sampaikan lewat mulut, tapi lewat pukulan. Saya memukul hingga anak itu nangis. Dari sanalah julukan Golkar itu dilekatkan pada saya melalui anak lain yang merupakan teman-temannya.

Asumsi saya sih karena dia nggak berani membalas, karena itu dia menyebarkan gossip tentang saya ke teman-temannya. Ini hanya asumsi saya, asumsi anak kecil ketika itu.

Tapi begini, entah ini dimulai dari saat julukan Golkar itu dilekatkan pada saya, atau sebelum itu, atau mungkin setelah itu, saya jadi tahu kalau prilaku orang-orang yang suka mengintimidasi orang lain harus dilawan.

Mereka hanya akan mengintimidasi orang-orang yang mau tunduk. Mereka tidak akan mengintimidasi orang-orang yang berani melawan. Keberanian melawan itu adalah senjata utama untuk menghadapi mereka. Sebenarnya, nggak perlu untuk takut pada mereka, satu hal yang tidak mereka miliki adalah keberanian, karena itu mereka mengintimidasi.

Prilaku ini juga banyak saya lihat sekarang ini. Banyak yang membentuk penampilan mereka seseram mungkin, sebesar mungkin, sekekar mungkin agar ditakuti orang. Tujuannya nggak lain agar bisa mengintimidasi orang lain. Karena, mungkin, satu hal yang tidak mereka punya, yaitu keberanian.

Berani nggak harus menang, tapi setidaknya berani melawan. Kalahpun nggak apa-apa, yang penting sudah berani melawan. Karena, sekali lagi, tidak semua orang punya keberanian itu. Eh, tapi, jangan juga jadi orang yang terlalu polos yang melawan semua orang. Tetap saja melawan memerlukan sedikit kecerdikan agar nggak babak belur sia-sia. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + nine =

Perubahan

Wiraswasta Tubuh