in ,

Guru Pukul Siswa Pukul Guru

Waktu SD kelas 2, ada satu peristiwa penting yang terjadi di sekolah saya. Seorang guru olahraga bernama Pak Basuki, tetiba dipindahkan. Pemindahan itu terjadi karena blio emosi melihat 2 orang anak bermain saat upacara bendera. Karena emosi, batang sapu bulu pun mendarat di pantat kedua orang siswa tadi.

Tapi, naas bagi Pak Basuki. Si anak yang dia hukum adalah teman sekelas saya yang juga anak pemilik yayasan. Anak yang dipukulnya adalah anak horang kayah sekaligus orang yang cukup berkuasa di sekolah. Karir Pak Basuki pun berakhir di sekolah itu dengan satu kali rapat.

Eh iya, SD tempat saya bersekolah adalah SD semi swasta. Saya juga kurang paham maksudnya apa. Yang masih saya ingat adalah sekolah itu tergolong sekolah negeri, tapi masih dipegang oleh yayasan. Mungkin yang dimaksud adalah sejenis akreditasi jaman sekarang ini. Tapi, sekolah itu telah menyandang gelar negeri kok jaman itu. Buktinya, sekolah itu bernama SD N…. N nya berarti negeri. Mungkin, karena sekolah ini awalnya adalah sekolah swasta yang dikelola oleh yayasan, itulah kenapa jadi semi swasta. Mungkin lho ya, saya juga kurang paham. Maklum, waktu itu saya masih anak SD dan ingatan saya hanya menjangkau segitu. haha.

Jaman dulu bukanlah jaman sekarang ini. Di tahun 89-an itu, peristiwa pukul memukul sudah biasa terjadi. Bukan memukul dalam artian membuat siswa terluka atau cedera. Bahkan lebampun tidak. Memukul dalam artian hanya membuat sakit sementara. Itupun hanya membekas merah. Sepulang sekolah juga sakitnya pukulan itu menghilang dengan sendirinya. Jangankan sepulang sekolah, selepas bermainpun rasa sakit pukulan itu sudah hilang.

Jaman itu juga belum ada Komnas Perlindungan Anak, jadi belum ada istilah kekerasan terhadap anak. Kalaupun ada, istilah tersebut masih belum umum ketika itu. Undang-undang perlindungan anak juga baru lahir jauh setelahnya, di sekitaran 2014 kalau nggak salah. Jadi, belum ada orang yang mengenal istilah kekerasan terhadap anak atau perlindungan terhadap hak anak.

Sebenarnya bukan peristiwa pukulan oleh Pak Basuki yang dipermasalahkan oleh orangtua kawan saya. Tapi, lebih kepada rasa dipermalukannya orang tua karena anak diperlakukan demikian. Didepan umum pula. Yang lebih parah lagi, si anak nggak mau bersekolah ketika itu. Bisa dibilang dia trauma karena hukuman yang diberikan Pak Basuki terhadapnya. Jadi, bukan peristiwa pukulannya yang bermasalah, tapi anaknya yang menurut saya menye-menye yang menyebabkan orangtuanya harus bertindak. Tau sendirilah bagaimana sikap orangtua yang punya kuasa ketika itu.

Tapi begini, jaman itu, seberapa keraspun perlakuan guru terhadap siswa, belum pernah saya dengar ada tindakan kekerasan terhadap guru. Belum pernah saya dengar istilah guru yang dihukum siswanya. Entah kenapa, saya nggak berani melakukan tindakan sebaliknya terhadap guru. Mungkin ini yang disebut sikap menghormati guru. Mungkin lho ya, karena saya belum bisa mendefinisikan sikap itu sebagai takut atau sikap menghormati.

Bukan hanya di jaman itu. Ketika bersekolah di STM N Denpasar, sekarang SMK N 1 Denpasar, pun kejadiannya sama. Ada 2 orang guru yang terkenal galak di sekolah. Keduanya adalah guru olahraga. Satunya bernama Pak Alit, satunya lagi Pak Gabriel. Keduanya khas dengan kata-kata kasar dan tendangan.

Blio berdua adalah legenda di sekolah. Tidak ada siswa yang nggak kenal sama blio berdua. Apalagi anak yang bandel, lebih kenal lagi. Setidaknya satu kata makian dan satu tendangan pernah mendarat di pantat masing-masing. Terutama yang sering telat atau lupa memasukkan baju ke celana ketika itu. Istilah lainnya adalah mereka yang nggak disiplin, pasti kenal mereka.

Tetap saja, seberapapun keras perlakuan mereka, saya nggak pernah dengar ada yang memusuhi mereka. Bahkan ketika bertemu dijalan pun nggak pernah terbersit rasa dendam, kesal atau apa. Malah semua baik-baik saja, seolah semua nggak pernah terjadi. Nggak pula pernah ada masalah dengan orang tua dan guru ketika itu. Semua malah biasa-biasa saja. Mungkin ini adalah bagian dari hormat itu. Sekali lagi, mungkin lho ya, saya sendiri nggak tau harus memilah ini sebagai rasa takut atau hormat.

Kalau dibilang karena takut nggak naik kelas, saya rasa enggak. Karena, setelah lulus pun saya nggak merasakan benci, permusuhan atau dendam terhadap perlakuan itu. Malah, ketika membicarakan itu dengan kawan-kawan seangkatan, yang ada hanyala canda dan tawa. Cerita itu memang cerita yang cukup menggembirakan jika diceritakan sekarang ini.

Entah kenapa, belakangan, hubungan guru dan siswa banyak menjadi sorotan. Terutama di media sosial. Kalau guru pukul siswa, timeline media sosial pasti ramai. Begitu juga sebaliknya, jika siswa pukul guru, juga akan ramai di media sosial. Eh, tapi, media sosial kan selalu ramai. Kalau nggak ramai, bukan media sosial namanya.

Mungkin karena disana tempat berkumpulnya orang-orang ahli yang bisa mendefinisikan suatu kejadian atas satu sudut pandang saja. Tanpa mencari latarbelakang atau sebab suatu kejadian itu terjadi. Istilah lainnya, mereka ribut tanpa menerima informasi yang berimbang.

Satu yang menjadi catatan saya adalah, belum ada saya baca atau dengar tentang seorang siswa yang dipukul gurunya hingga meninggal. Seperti penjelasan saya tadi, pukulan seorang guru nggak akan menyebabkan siswa terluka atau cedera, bahkan lebampun tidak. Berbeda dengan yang belakangan ini terjadi, seorang siswa menganiyaya gurunya hingga meninggal. Ini adalah kali pertama profesi guru mengalami hal seperti ini.

Yang jadi pertanyaan adalah, ada apa dengan hubungan guru dan murid yang sudah puluhan tahun baik-baik saja itu? Kenapa hubungan guru dan murid bisa seperti sekarang ini? Seolah mereka bukanlah rekanan yang baik.

Menurut saya, guru dan murid adalah rekanan. Keduanya perlu saling menghormati agar tercipta kerjasama yang baik. Tanpa kerjasama yang baik tidak akan lahir murid-murid mumpuni yang bisa berbicara di dunia atau melahirkan perubahan dunia. Siapapun orangnya, profesi apapun yang dilakoninya, seseorang pernah menjadi murid.

Bahkan para tokoh terkenal sejagat raya itupun adalah seorang murid dulunya. Guru yang ada sekarangpun adalah seorang murid dulunya. Istilah lainnya adalah nggak ada murid tanpa guru, dan nggak ada guru tanpa murid. Pun nggak akan ada tokoh dunia tanpa seorang guru.

Apapun penyebab dan bagaimana nanti hukuman yang akan ditimpakan kepada siswa pelaku pembunuhan terhadap guru, itu sudah menjadi urusan kepolisian. Yang saya rasa perlu pemahaman lebih lanjut adalah apa yang terjadi dengan guru dan murid itu. Bisakah mereka berbaikan kembali seperti dulu. Mungkin saya salah data, Yang saya lihat adalah ketidakharmonisan hubungan keduanya semakin marak. Sekali lagi, ini cuma menurut saya lho, bisa dipercaya bisa juga tidak. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + twenty =

Ulang Tahun

Bebotoh Lan Memotoh