in ,

Hantu Perempuan

Benarkah hantu itu ada? Pertanyaan macam ini telah beredar dimana-mana, termasuk, telah ada penelitian yang mencoba membuktikan keberadaannya. Tapi, ada yang sadar nggak sih kalau hantu didominasi oleh perempuan?

Dari beragam jenis hantu yang beredar di masyarakat, 90 persennya adalah perempuan. Ada Kuntilanak, Suster Ngesot, Sundel Bolong, Wewe Gombel, dan lain sebagainya. Coba deh amati film-film horor Indonesia. Kebanyakan hantu yang menuntut balas atas kematiannya digambarkan sebagai hantu perempuan. Padahal, kan, bisa juga lelaki yang melakukan hal yang sama. Semisal, seorang lelaki dibunuh oleh selingkuhan istrinya kemudian gentayangan menuntut balas. Bisa saja, kan.

Lalu, darimana bisa dibedakan kalau hantu itu perempuan atau lelaki? Padahal, setahu saya, perempuan dan laki-laki itu dibedakan oleh kelaminnya. Dan, setahu saya juga, belum ada, tuh, hantu yang terekspose jenis kelaminnya. Belum ada, skandal seksual antara hantu perempuan dan laki yang bisa menegaskan bahwa hantu A adalah perempuan, sedangkan hantu B adalah lelaki. Belum ada juga orang yang berhasil menangkap dan menggagahi hantu untuk menegaskan jenis kelaminnya.

Kalaupun hantu memang dibedakan atas perempuan dan lelaki, seharusnya, kan, ada drama percintaan diantara mereka. Semisal ketika para pemburu hantu itu menjelajah dunia perhantuan, ada saatnya sesekali mereka menemukan Kuntilanak bercinta dengan Buto Ijo. Atau, mereka pernah nge-gap Sundel Bolong lagi mojok bareng Pocong, dan lain sebagainya. Tapi, kan, semua itu nggak pernah terjadi. Yang ada mereka hanya kejang-kejang dan ngomel nggak karuan, kan.

Atau, jangan-jangan pembeda hantu atas perempuan dan laki bukanlah dari jenis kelamin. Soalnya, belakangan ini kelamin sudah nggak menjadi patokan, yang jadi patokan adalah gender. Orang bisa saja bervagina tapi bergender lelaki. Begitu juga sebaliknya, orang bisa berpenis tapi bergender perempuan. Karena, gender bukan lagi tersangkut kelamin, melainkan kecenderungan cara bersikap, berpakaian, dan berinteraksi di tengah masyarakat.

Kuntilanak dikatakan sebagai perempuan karena digambarkan mengenakan daster, padahal, banyak tuh lelaki berdaster. Lihat saja di TV sana. Kalau dipikir-pikir, emang beneran Kuntilanak bentuknya seperti apa yang digambarkan film-film itu, ya? Saya, kok, sedikit meragukan kebenaran penggambaran Kuntilanak dalam film itu.

Jangan-jangan, sekali lagi, ini bukan menuduh lho ya, Kuntilanak hanya digambarkan sebagai perempuan untuk menunjukkan bahwa perempuan bisa semengerikan itu ketika menyimpan dendam. Jika pada definisi gender itu sendiri perempuan digambarkan kemayu, lembut, dan penuh kasih sayang. Akan tetapi, bisa mengerikan ketika marah dan penuh dendam.

Nah, penggambaran ini yang susah saya cari padanannya pada kehidupan sehari-hari. Soalnya, perempuan yang saya tahu malah nangis kalau marah dan mendendam. Mereka lebih banyak menggunakan air mata daripada kemarahan yang digambarkan oleh kuntilanak ataupun hantu-hantu dalam film itu. Mungkin saja memang ada perempuan di daerah lain yang ketika marah atau mendendam bahkan sanggup untuk membunuh. Ini mungkin lho ya, karena saya juga nggak tau kebenarannya.

Eh, tapi, ngomong-ngomong soal dendam, bukannya dendam nggak mengenal jenis kelamin atau gender? Siapapun bisa mendendam dan bisa berubah mengerikan ketika menyimpan dendam. Lalu kenapa harus perempuan?

Saya mengira, penggambaran hantu sebagai perempuan yang mengerikan hanya untuk memancing kontradiksi semata. Hanya untuk menunjukkan seseorang yang baik dan lemah lembut bisa juga berubah menyeramkan kalau dijahati. Perempuan bisa saja melakukan hal-hal yang tidak terduga ketika marah dan mendendam, bahkan sanggup membunuh siapapun.

Kembali, semua yang digambarkan dalam film mungkin sebenarnya nggak pernah ada. Penggambaran tersebut hanya bagian dari marketing semata untuk memancing ketertarikan orang untuk menontonnya.

Coba saja perhatikan, jika ada film dengan judul yang sama, semisal “Pembunuh Berdarah Dingin”. Lebih tertarik mana orang menonton jika pembunuh dalam film tersebut diperankan oleh perempuan atau lelaki? Tentu jawabannya adalah perempuan. Karena, ada sisi yang memancing tanya di benak penonton yang ingin menyaksikan bagaimana seorang perempuan yang lembut itu bisa menjadi pembunuh.

Begitupun dengan hantu-hantu yang lain. Saya kira mereka digambarkan sebagai perempuan hanya untuk menarik minat penonton saja. Padahal, mungkin hantu itu nggak pernah ada. Kalaupun ada, mungkin nggak ada orang yang tau jenis kelaminnya apa. Bahkan nggak ada yang tau gendernya apa. Hanya karena jamak digambarkan sebagai perempuan akhirnya segala identitas perempuan seperti rambut panjang, daster dan suara perempuan pun dilekatkan padanya.

Beda cerita kalau kita membahas hantu-hantu yang menjadi legenda masyarakat. Mereka banyak digambarkan sebagai perempuan hanya untuk menegaskan agar kita patuh terhadap seorang ibu. Ada ibu baik yang ada dirumah, dan ada ibu seram yang berupa hantu yang bisa saja menculik atau menyakiti kita. Karena itu kita dinasehati untuk selalu patuh terhadap nasehat ibu kita sendiri. Kalau nggak patuh, siap-siap saja nanti kita diculik oleh Wewe Gombel dan dijadikan anak olehnya.

Kalaupun semua cerita hantu dalam masyarakat kita tersebut adalah sebuah nasehat, berarti hantu tersebut nggak pernah benar-benar ada, dong? Mereka hanya ada untuk menakuti kita agar kita patuh dan taat terhadap orang-tua, terutama ibu kita. Mereka nggak ada dan nggak seperti apa yang kita bayangkan selama ini, kan.

Ini hanya asumsi saya saja. Saya nggak punya bukti dan nggak berniat membuktikan keberadaan hantu baik yang digambarkan oleh film maupun cerita dalam masyarakat kita. Ngeri sangat untuk membuktikan itu. Bagaimana enggak, saya harus menelusuri tempat-tempat gelap dan menyeramkan hanya untuk mencari keberadaan mereka. Ngerinya bukan karena bertemu hantu, tapi ngeri karena bisa saja disana ada ular, buaya, harimau, dan binatang buas lainnya. Takut dimakan, je.

Terlebih, saya nggak tertarik dengan buru memburu hantu seperti yang ada di TV itu. Takut nanti dirasuki oleh roh buaya, yang ada saya nggak bertingkah seperti buaya, tapi saya bertingkah seperti buaya darat yang secara spontan merayu semua perempuan yang terlibat dalam acara tersebut. Ini ngeri. Punya satu pacar perempuan aja sudah berat, apalagi punya pacar lebih dari satu, dan berada dalam satu lokasi pula. Benar-benar kengerian yang sangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + fourteen =

Ngartis Sosmed

Ribet Ribut Melali