in

Hari Raya Kemenangan

“Buin mani rahinan galungan. Rahinan kemenangan dharma lawan adharma” Kata Pak De Dimpil sambil menatap jauh ke langit. Tatapannya mengisyaratkan dia sedang merenung.

“Yening iraga ane merayakan, artine iraga jak makejang ane menang. Men, nyen ane kalah? Men, nyen ane sebenarne madan adharma to?” Lanjut Pak De Dimpil.

Kopi pahit dan langit yang begitu cerah memberi Pak De Dimpil satu pemikiran yang cukup kritis ditengah banyaknya orang jaman sekarang yang latah. Banyak orang yang hanya ikut-ikutan merayakan tanpa mengerti atas apa yang dirayakan. Banyak yang hanya larut dalam selebrasinya tanpa paham maknanya.

“Galungan ento dirayakan sebagai perayaan kemenangan rakyat Bali ngelawan inan raksasa ane madan Mayadenawa. Ane maksudange pihak dharma to rakyat Bali, trus, ane madan pihak adharma to Mayadenawa” Jawab saya sambil menyalakan sebatang rokok.

“Perang ento kan suba ratusan tahun ipidan. Kar ngudiang jani nu….” Belum sempat Pak De Dimpil menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara menyela.

“Awake peddidi” Sahut Pak Yan Bracuk yang sedari tadi memunggungi kami.

“Galungan ento hari raya kemenangan diri sendiri ngelawan diri sendiri. Ane madan dharma ento diri sendiri, adharma masih diri sendiri” Lanjut Pak Yan Bracuk menjelaskan.

Menurut pemahaman Pak Yan Bracuk, setiap manusia memiliki 2 kecenderungan sifat. Satunya adalah Daiwi Sampad atau sifat yang mendorong manusia berprilaku dharma atau kebaikan. Banyak juga yang mengatakan sifat ini sebagai sifat kedewataan. Sedangkan, satunya lagi adalah Asura Sampad atau sifat yang mendorong manusia berprilaku adharma atau tidak baik. Sifat ini juga sering disebut dengan sifat keraksasaan. Kedua sifat yang saling bertentangan satu sama lain ini selalu mencoba untuk mempengaruhi manusia. Setiap keputusan, setiap pilihan yang diambil oleh seorang manusia adalah cermin dari dominasi salah satu sifat ini.

Jika kalian pernah menyaksikan film dimana seseorang sedang dibisiki oleh 2 makhluk kecil. Makhluk kecil satunya biasanya berpakaian serba putih, trus di atas kepalanya ada sejenis lingkaran. Makhluk ini umumnya kita kenal dengan sebutan malaikat dan makhluk kecil lainnya biasanya berpakaian serba merah, hingga wajahnya juga sering di gambarkan berwarna merah. Diatas kepalanya ada 2 buah tanduk, mirip seperti tanduk kambing yang masih bayi. Makhluk ini umumnya kita kenal dengan sebutan setan.

Begitulah adanya perang antara kedua sifat itu. Perang yang terjadi dalam pikiran setiap manusia. Perang ini berlangsung terus menerus tanpa henti. Kemenangan salah satu dari keduanya itu bisa dilihat dari prilaku si manusia itu sendiri. Wujudnya adalah pilihan yang diambil oleh seorang manusia dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidupnya.

Contohnya, saat kita sedang terjepit masalah keuangan. Disadari atau tidak, ada 2 kecenderungan penyelesaian masalah yang muncul dalam pikiran kita. Cara satunya adalah dengan menghubungi keluarga atau kerabat untuk meminjam uang. Bisa juga dengan meminjam di bank untuk kemudian dikembalikan kemudian hari. Cara lainnya adalah dengan menipu, mencuri atau merampok. Ini hanya salah satu contoh yang bisa kita lihat. Masih banyak contoh lain yang tidak bisa kita lihat. Karena, terjadinya pada pilihan pribadi seseorang.

Dua kecenderungan itu adalah produk dari pikiran kita. Kedua kecenderungan itu saling berebut satu sama lain untuk mempengaruhi tindakan kita. Belumlah bisa terlihat mana yang menang sebelum diwujudkan dalam sebuah tindakan. Belumlah salah satu pihak baik itu dharma maupun adharma bisa dikatakan menang sebelum terwujud dalam tindakan atau perbuatan.

“Teked dini suba ngerti?” Tanya Pak Yan Bracuk.

Saya dan Pak De Dimpil hanya bisa mengangguk sambil terus mencoba mencerna penjelasan Pak Yan Bracuk.

Peperangan masing-masing orang berbeda antara satu orang dan lainnya. Karena, masalah setiap orang berbeda-beda. Kita tidak bisa menilai orang lain telah memenangkan peperangannya atau tidak. Yang bisa kita nilai hanyalah peperangan kita sendiri. Pertanyaannya adalah, sudahkan kita mendasarkan hal baik pada setiap pilihan yang kita ambil dalam hidup kita?

Tidak ada kemenangan yang abadi, tidak pula ada kekalahan yang abadi. Setiap orang berproses secara terus menerus hingga kematiannya. Karena itu kita diingatkan setiap 6 bulan Bali atau setiap 210 hari sekali melalui Hari Raya Galungan. Jika kamu merasa telah memenangkan peperanganmu, maka rayakanlah dengan bersujud bhakti ke hadapan Tuhan.

“Men, yen perang to berlangsung terus menerus, ngudiang iraga merayakan setiap 6 bulan. Sing perayaan kemenangan semu adane to? Sing pura-pura menang adane yen keto unduke?” Celetuk Pak De Dimpil.

Jika kita mau sedikit merenung, upacara keagamaan Hindhu Bali adalah perenungan yang terus menerus diulang. Mulai dari 7 hari sekali, 210 hari sekali, hingga 1 tahun sekali. Peringatan adalah perenungan. Kita diingatkan kembali untuk merenungi diri kita dan perbuatan yang telah kita lakukan.

“Jeg megenep bakat renungang, ne hutang bensin 2 liter renungang malu” Sela Men Kempli.

“Adi bisa ngutang bensin, Iraga sing taen ngaba motor, uling dija tekane ada hutang bensin?” Jawab Pak Yan Bracuk sambil bingung.

“Ento panak Pak Yan, I Gede dibi nyemak bensin meken mejalan masuk. Iya ngorang Pak Yan kone ane mayah” Jawab Men Kempli.

“Beh, bangkrut iraga yan kene unduke. Makejang iraga orahine mayah. Nah, catet gen malu Luh, mani cepok bayah” Kata Pak Yan Bracuk sambil berdiri dan beranjak pulang.

“To suba lebihan merenung, telah bakat renungang, kanti engsap teken hutang. Yen 10 te ada cara Pak Yan Bracuk, jeg enggal bangkrut warung tiange” Gerutu Men Kempli sambil merunyut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − four =

Koin

Vegetarian