in

Hidup Lebih Hidup

Saya sering terusik ketika terlibat pembicaraan tentang “spiritual” dengan beberapa kawan. Karena, ujung dari semua pembicaran itu adalah perihal kematian, perihal bagaimana kita menghadapi kematian dan bagaimana bisa diterima dengan baik oleh kematian itu sendiri.

Bahkan, beberapa orang dengan semangat menceritakan apa yang akan mereka tempuh setelah kematian itu nantinya. Seolah, mereka adalah orang-orang yang berpengalaman perihal kematian, padahal mati saja belum pernah.

Apa mungkin alam kematian itu ada? Mungkin saja ada, tapi dengan apa kita bisa mengetahuinya sedangkan semua indra kita sudah nggak ada? Badan dan seluruh indra kita sudah terkubur atau hangus jadi debu. Lalu, dengan apa semua deskripsi tentang alam kematian itu bisa kita buktikan?

Dengan apa pula perjalanan di alam kematian itu akan kita tempuh? Kaki kita sudah nggak ada. Mungkinkah dengan terbang melayang? Lalu apa yang terbang melayang itu? Roh? Apakah roh mempunyai kaki? Apakah juga roh mempunyai mata untuk melihat? dan apakah roh juga memiliki otak untuk berpikir dan memilih jalan yang sebaiknya ditempuh?

Lalu, Bagaimana sebenarnya cerita-cerita tentang kematian itu ada? Apakah ada orang yang pernah mati kemudian kembali hidup untuk menceritakannya? Pun ketika benar-benar ada yang pernah mati dan kembali untuk menceritakannya, dengan apa mereka melihat, mendengar, merasakan apa yang terjadi di alam kematian itu? Badan mereka, kan, sudah mati.

Apa mungkin kita masih bisa melihat, mendengar dan merasakan tanpa semua organ yang ada di tubuh kita? Apa mungkin juga semua kejadian itu bisa direkam tanpa otak kita? Sepertinya, sih, nggak mungkin.

Ketiadaan badan atau fisik kita adalah hal-hal yang lupa untuk dipertimbangkan ketika mendeskripsikan tentang kematian. Banyak yang membayangkan kematian seolah ketika mati wujud kita akan tetap seperti sekarang. Padahal, badan ini sudah terkubur atau hangus dibakar ketika itu terjadi.

Pembahasan demi pembahasan tentang kematian itu hanya akan menemui jalan buntu karena banyak pertanyaan hanya bisa dijawab dengan “katanya”. Cuma satu yang pasti dari cerita kematian, bahwa yang bercerita belum pernah mati, jadi, buat apa mempercayai cerita dari orang yang nggak pernah mengalaminya? Mirip seperti mendengar kisah-kisah romantis dari orang yang bahkan punya pacar saja belum.

Saya menganalogikan kematian itu sebagai tanda titik, tanda berhenti. Nggak ada yang bisa dibahas lagi setelah tanda titik itu karena semua memang sudah berhenti. Hal-hal setelah tanda titik adalah urusan lain yang tentu memerlukan perspektif lain untuk mengerti.

Seperti halnya membahas dua ruangan, satunya terang dan satunya lagi gelap. Membahas ruangan yang terang tentu sebaiknya menggunakan perspektif terang, begitupun ketika membahas ruangan yang gelap. Akan rancu jadinya ketika kita mencampur kedua perspektif itu. Lebih rancu lagi ketika kita membahas gelap dari perspektif terang, dan begitu juga sebaliknya.

Menurut saya, yang banyak orang lakukan adalah membahas kematian dari perspektif kehidupan dan merasa perspektif itu tepat. Padahal, pembahasan itu rancu. Dan, satu yang saya pelajari dari seorang kawan, yaitu, nggak ada guru sehebat apapun yang bisa memberi penjelasan yang paling tepat tentang kematian karena mereka sendiri belum pernah mati.

Lagipula, cerita tentang kematian nggak jauh dari kesuraman dan ketakutan. Buat apa menenggelamkan diri pada kesuraman itu?

Daripada larut dalam kerancuan itu, saya memilih menyederhanakan kematian sebagai akhir, titik. Dan kehidupan adalah tempat sebanyak-banyaknya kita melakukan apapun yang diinginkan. Lebih sederhananya lagi, nggak perlu ada pembahasan soal kematian lagi. titik. Imbalan apapun atas perbuatan saya setelah mati nanti pun sudah nggak perlu pembahasan lagi. Karena, nggak ada yang tahu apa yang akan saya terima nantinya.

Dari pemikiran ini, saya merasa lebih menikmati apapun yang saya lakukan sekarang ini. Saya merasa lebih hidup karena beban-beban kematian itu sudah saya tanggalkan. Patokan atas apa yang saya lakukan hanyalah manfaat bagi diri saya dan orang di sekitar saya. Itu saja. Dengan begini, semua yang saya lakukan menjadi lebih sederhana, lebih ringan.

Hidup adalah alam yang harusnya dibahas dengan perspektif kehidupan, dan beban hidup harusnya adalah kehidupan itu sendiri. Semisal biaya jalan-jalan, biaya makan, biaya rumah tangga dan lain sebagainya. Beban lain diluar beban hidup itu hanyalah pemberat yang nggak perlu dan biarlah menjadi urusan nanti. Dengan begini, saya rasa hidup akan berjalan semakin ringan dan akan terasa lebih hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve + 3 =

Tutorial Bermimpi

Nonton Joker, Biasa Aja