in

Jadi Bodyguard

Saya memanggil dia dengan sebutan Bik Inah. Dia adalah gadis yang sedang ranum. Tinggal menunggu untuk diperistri oleh sesiapapun yang tertarik padanya. Maklum, di Lombok, tepatnya di Praya, Lombok Tengah, gadis seusia Bik Inah yang baru saja lulus SMA adalah usia yang dibilang terlambat untuk menikah.

Kebanyakan gadis di Lombok menikah setelah lulus SMP, bahkan ada yang menikah setelah lulus SD. Para juragan sawah yang sedang tajir-tajirnya sedang menunggu gadis-gadis yang memasuki usia tersebut untuk dinikahi. Istilah ini yang sering dikenal kebanyakan orang dengan istilah kawin panen. Alias, setiap panen mereka kawin.

Bik Inah, tidaklah demikian. Dia memilih untuk melalui proses berpacaran secara normal. Saya masih ingat, kalau saya adalah bodyguard satu-satunya yang Bik Inah miliki. Jadi, ketika Wakuncar (waktu kunjungan pacar) tiba, saya adalah penikmat berkah yang terselubung didalamnya.

Bagaimana tidak, saya selalu mendapat segala nikmat yang disajikan oleh pacarnya Bik Inah. Ketika mereka memutuskan berpacaran sambil makan es campur, pastilah saya juga dibelikannya. Eh, iya, jaman itu es krim mahal, dan itupun tersedianya jarang-jarang. Apalagi di Lombok, dimana yang namanya es krim hanya terdapat di Mataram, kalau tidak salah.

Yang paling menyenangkan adalah ketika mereka memutuskan untuk berpacaran di bioskop. Saya pasti selalu diajak menonton ketika itu. Seingat saya, pada tahun itu, sekitaran tahun 92an. Film populer yang masuk bioskop di Lombok adalah Sikabayan, Tutur Tinular dan Film Warkop DKI. Bioskop di Praya hanya ada 1 dengan 1 judul film yang tayang.

Untuk anak seumuran saya, bioskop adalah barang mewah. Saya tidak mampu untuk membeli tiket saya sendiri. Terlebih, orang tua saya bukanlah penggemar film. Jangankan ke bioskop, untuk menonton film di TV saja mereka jarang. Karena itu, menonton di bioskop menjadi pengalaman yang menyenangkan buat saya ketika itu. Cerita menonton di bioskop ini selalu saya bagi dengan kawan-kawan di sekolah, juga kawan-kawan di kompleks tempat tinggal saya.

Entah apa yang ada di pikiran Bik Inah ketika itu hingga memutuskan untuk selalu mengajak saya. Saya hanyalah seorang anak yang masih kelas 3 sekolah dasar. Apa yang bisa dilakukan anak seumuran saya? Kalaupun terjadi sesuatu, kecenderungan sesuatu itu terjadi pada saya, bukan pada Bik Inah.

Saya sebenarnya tidak lebih dari sekedar beban ketika dia membawa saya. Bisa dibayangkan, selain memperhatikan pacarnya, dia juga harus memperhatikan saya. Karena dengan mengajak saya, Bik Inah otomatis harus bertanggung jawab atas keselamatan saya pada orang tua saya.

Saya menduga, Bik Inah sedang berusaha menghindari hal-hal yang diinginkan pacarnya. Ini hanya dugaan saya, itupun saya prediksi setelah saya dewasa, setelah saya tahu betapa laki-laki punya banyak akal bulus untuk bisa melancarkan aksi mesumnya terhadap pacar.

Dengan adanya saya disana, Bik Inah jadi punya alasan untuk menghindari prilaku mesum dari pacarnya. Alasan semisal “nggak enak ah, ada anak kecil” atau “nggak boleh gitu, ada anak kecil, nanti dilihat”, dan alasan lain yang sejenis itu.

Secara tidak langsung, saya adalah bodyguardnya Bik Inah. Saya adalah alasan yang bisa melindunginya dari pacarnya. Meskipun tidak secara fisik, tapi keberadaan saya justru membuat pacarnya bepikir ulang untuk melakukan sesuatu terhadapnya. Terutama ketika hendak melakukan sesuatu yang berbau mesum itu.

Cara seperti ini adalah cara lawas, cara yang diajarkan oleh banyak ibu kepada anak perempuannya. Cara ini terbilang efektif untuk mencegah anak perempuannya terjerumus pada rayuan gombal lelaki. Bukankah kalimat populer “jangan berduaan di tempat sepi, nanti setan jadi orang ketiga” mengajarkan tentang ini?

Banyak ibu yang mengajarkan untuk menghindari setan tersebut dengan menggunakan orang lain, semisal anak kecil, keponakan, teman, atau sesiapapun yang bisa menemani. Tapi, lebih baik anak kecil, sih. Karena kalau mengajak teman, kadang temanpun bisa diakali untuk pergi, semisal dengan menyuruh membeli minum yang jauh. Atau, disuruh menjemput seseorang dengan menggunakan alamat palsu agar lama kembali.

Beruntunglah Bik Inah ketika itu, karena bisa selamat dari rayuan pacarnya. Tapi nggak sepenuhnya selamat juga sih, karena, Bik Inah tidak pernah terlihat lagi dan tidak pernah mengajak saya malam mingguan lagi beberapa bulan setelahnya. Bahkan Bik Inah sudah tidak pernah saya lihat lagi. Mungkin Bik Inah memang sudah dinikahi oleh pacarnya. Mungkin lho ya, karena saya nggak diundang ke nikahannya waktu itu. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 15 =

Wajah Yang Tersenyum

Sekolah Bukanlah Koentji