in

Jaja Lukis

Setiap pagi, saya berangkat bersekolah dengan berjalan kaki. Jarak dari rumah ke sekolah, sih, lumayan jauh, sekitar 30 menit berjalan kaki.

Perjalanan ke sekolah ini melewati pasar, dimana orang – orang pada berjibun, berdesak – desakan berbelanja. Bau keringat campur aduk, bau masakan, bau bumbu dsbnya semua bercampur aduk.

Belum lagi saya harus menerobos barikade ibu – ibu yang berbelanja dengan segala barang bawaannya dan segala ocehan penawarannya kepada pedagang. Untuk melewatinya diperlukan sebuah tekad yang bulat dan ketahanan yang kuat.

Bisa saja saya melewati jalan lain, tapi jalannya memutar dan tentu lebih jauh. Jalan di jalur tikus yang lebih singkat aja males, apalagi jalan memutar. Eh, malesnya bukan karena jalannya, tapi karena emang males sekolah aja.

Saya punya kecenderungan malas bersekolah yang sangat akut sejak kecil. Jadi, kalau penyakit malas saya kambuh, selalu ada saja yang saya lakukan untuk menghindari sekolah. Termasuk berusaha untuk terlambat datang ke sekolah.

Karena terlambat sekolah, saya jadi punya alasan untuk diri saya agar nggak ke sekolah. Hanya alasan untuk diri saya sendiri aja, sih. Juga sebagai persiapan kalau nanti bapak saya dipanggil ke sekolah, saya tinggal bilang kalau saya waktu itu terlambat sekolah dan malu untuk masuk sekolah. Gitu aja.

Salah satu yang paling sering saya lakukan agar terlambat sekolah adalah nongkrong di pasar. Tepatnya nongkrongin ibu-ibu penjual jajanan pasar.

Saya masih ingat jajanan favorit saya waktu itu, kalau di Bali disebutnya dengan Jaja Lukis, saya lupa namanya kalau di Lombok. Bahasa Indonesia dari jajanan ini adalah Kue Lupis. Jajanan yang terbuat dari ketan dan ada parutan kelapa plus gula merah diatasnya. Bentuknya segitiga dan dibungkus dengan daun.

Jajanan ini enak, lengket sekaligus manis dan mengenyangkan. Terutama untuk anak kelas 2 SD seperti saya. Rasa kenyang dari jajanan ini bisa bertahan hingga waktunya pulang sekolah. Jadi, saya bisa betah untuk nggak pulang sebelum kawan saya yang lain pulang sekolah.

Uang saku saya waktu itu hanyalah 150 rupiah. Iya, cuma 150 rupiah saja. Tapi, jumlah ini bisa untuk membeli seporsi jajanan yang waktu itu harganya 75 rupiah. Kalau untuk anak SD, biasanya saya dikasi harga 50 rupiah saja. Eh, entah ini adalah harga anak SD atau entah karena seringnya saya membeli jajanan dan nongkrong disana, makanya saya diberi harga lebih murah.

Belakangan saya mulai jarang menikmati jajanan enak seperti Jaja Lukis ini. Kalaupun ada tempatnya juga sangat terbatas. Kalau nggak di pasar ya di tempat-tempat tertentu yang saya sendiri nggak tau.

Rasanyapun nggak senikmat dulu. Entah apa yang dikurangi dari bahannya, Jaja Lukis yang ada sekarang ini kurang greget dibanding Jaja Lukis yang saya nikmati dulu.

Saya menduga, sekarang ini, jajanan lebih banyak diproduksi layaknya industri. Diproduksi dengan jumlah banyak sekaligus. Nggak seperti dulu, dimana jajanan lebih banyak diproduksi secara rumahan. Jumlahnya terbatas dan kualitas dan rasanya juga masih terjaga.

Apalagi kalau kita berbicara parutan kelapa dan rasa dari gula merahnya. Dulu, seingat saya, gula merah itu kental sekali dan rasanya manis. Warnanya begitu pekat, merah mendekati coklat. Perpaduan yang sangat pas dengan rasa jajanannya.

Gula merah yang ada pada jajanan sekarang seperti air, cair sekali. Warnanya juga nggak sepekat dulu. Dan rasa manisnya seperti rasa manis gula pasir yang dicairkan. Gula merah kehilangan cita rasa khasnya sebagai gula merah itu sendiri.

Mungkin, jajanan jaman sekarang ini adalah jajanan galau. Karena, kriteria untuk menjadi jajanan sudah dihilangkan. Jajanan hanya disamakan bentuknya saja tanpa peduli rasanya. Jajanan kehilangan jati dirinya sebagai jajanan.

Rasanya, produk-produk apapun kalau diproduksi secara massal akan menurun kualitasnya. Apalagi produk jajanan yang cepat basi.

Ada target produksi, target penjualan, dan target keuntungan yang membuat jajanan hanya dibuat menjadi sekedar jajanan. Itupun hanya dibuat untuk sekedar laku. Sekedar terjual untuk memenuhi target penjualan saja.

Mungkin, ini mungkin lho ya, di suatu tempat, di suatu pasar sana, ada penjual jajanan yang masih bertahan dengan jajanan dalam bentuk dan rasa yang masih terjaga. Mungkin, saya saja yang kurang update dengan tempat-tempat seperti ini.

Ahhh… seandainya saja saya tau keberadaan mereka. Mungkin, saya akan mengunjunginya secara rutin. Hanya untuk bernostalgia dengan cita rasa yang pernah saya rasakan ketika kecil dulu.

Mungkin, ini yang disebut orang sebagai cita rasa kenangan. Dimana untuk merasakannya kembali sudah tidak mungkin lagi. Hanya bisa diingat-ingat saja, tanpa bisa merasakannya lagi. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen + 8 =

SMS Nyasar

Kafir