in ,

Kafir

Kata ini bukanlah kata baru bagi saya. Karena, sejak berusia 8 tahun, sekitaran tahun 89-90an, saya sudah sering mendengar kata ini disematkan pada saya. Kata ini sering dilontarkan pada saya terutama ketika kawan saya kalah bermain. Entah itu main kelereng, main layangan, dan permainan lainnya.

Pernah satu kali kata ini dikeluarkan oleh orang dewasa. Kalau nggak salah diucapkan oleh bapaknya kawan saya. Karena, anaknya menangis ketika kalah berkelahi melawan saya. Bapaknya menyebut saya kafir sebagai umpatan kekesalan.

Saya sebenarnya nggak tau arti dari kata ini. Tapi, karena seringnya kata ini keluar ketika mereka kesal, saya menganggap kata ini hanyalah kata umpatan. Nggak lebih seperti umpatan nama-nama binatang yang dikeluarkan orang-orang ketika kesal. Nggak lebih pula dari sekedar ejekan oleh satu anak kepada anak lainnya.

Kata-kata yang sering dijadikan umpatan sebenarnya jarang saya mengerti artinya. Ada banyak yang saya dengarkan sejak kecil. Saking banyaknya, saya nggak ingat sama sekali. Bahkan nggak berminat untuk mengingatnya. Saya lebih sering mengabaikannya saja.

Saya sering juga diidentikkan dengan penjajah. Anak-anak di komplek tempat tinggal saya menyebut saya sebagai penjajah. Entah cerita darimana mereka mengidentikkan saya sebagai orang bali sama dengan penjajah.

Mungkin karena jaman dahulu raja Karangasem pernah menginvasi Lombok. Tapi, anehnya, saya malah diidentikkan dengan penjajah belanda. Bukan penjajah Bali atau yang sejenisnya.

Masa kecil banyak saya lewati dengan hal-hal yang sekarang ini disebut sebagai bully. Kebanyakan bentuknya adalah bully secara lisan yang dikenal juga dengan istilah verbal bullying. Eh, tapi, dulu istilah bully itu belum ada. Bahkan, istilah itu belum didefinisikan. Makanya, prilaku bullying jaman dulu lebih sering disebut sebagai kenakalan anak-anak.

Jadi, sebenarnya, saya bukanlah korban bully, karena istilah bully itu belum ada. Bahkan, saya sebenarnya bukan korban apa-apa. Karena, saya lebih sering mengabaikan semua perlakuan nggak baik dari orang-orang di lingkungan saya.

Mereka mau mengatai saya seperti apapun juga, saya masih baik-baik saja. Karena, seperti yang saya jelaskan diatas, saya nggak tau arti dari kata-kata yang mereka ucapkan. Saya nggak mau tau dan nggak mencari tau. Bagaimana bisa sesuatu yang nggak saya tau bisa menyakiti saya?

Mungkin, karena sikap seperti ini saya bisa melewati masa-masa itu dengan baik. Mungkin juga, karena sikap acuh tak acuh seperti ini yang membuat saya nggak begitu terpengaruh saat orang menyebut saya kafir.

Kafir sebenarnya kata yang unik. Karena, meskipun hanya dimengerti oleh penganut agama Islam, tapi, justru disetujui dan bisa mempengaruhi emosi penganut agama lain. Lihat saja bagaimana orang tersinggung ketika dikatai kafir. Padahal, kata itu bukan kata yang mereka pahami artinya. Bukan pula kata yang berlaku pada agama yang mereka anut.

Bukankah sedikit aneh ketika seseorang menyetujui yang diluar dari keyakinannya sendiri? Lebih aneh lagi, banyak yang justru mencari tau arti dari kata tersebut. Ibaratnya mencari tau arti dari sesuatu yang nggak mereka yakini. Setelah tau, masih harus ditambah dengan perasaan tersinggung pula.

Bukankah lebih mudah untuk mengabaikan? Toh, nggak akan ada yang berubah jika kita mengabaikannya.

Mungkin, ini mungkin lho ya. Banyak orang memang kurang kerjaan hingga harus mencari-cari alasan untuk tersinggung. Mungkin biar ada yang diributkan. Mungkin juga hidupnya hampa kalau nggak ada yang diributkan. Ibarat oposisi tanpa nyinyir, kurang greget gimana gitu.

Tapi, semua kembali pada pilihan masing-masing. Mau hidup selow ya abaikan saja kata-kata yang bermaksud merendahkan apapun bentuknya. Kalaupun perlu ditanggapi, ya ditanggapi dengan selow juga.

Nggak perlu terlalu serius menanggapi segala hal, sudah terlalu banyak orang yang hidupnya serius dalam segala bidang. Yang populasinya kurang di dunia ini adalah orang dengan gaya hidup selow. Jadi, mari kita lestarikan gaya hidup selow, agar orang-orang selow semakin banyak di dunia ini. begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + six =

Jaja Lukis

Gay-Gay-an