in ,

Kata Kasar

Namanya Ibu Marsitta Saragi, blio adalah guru Bahasa Indonesia ketika saya bersekolah di SMK N 1 Denpasar. Blio yang mengajarkan pada saya bahwa belajar bahasa bukanlah untuk menjadi seorang sastrawan, penyair, dan lain sebagainya. Belajar bahasa adalah belajar mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita dalam lisan atau tulisan dengan baik.

Belajar bahasa sekaligus juga belajar adab. Terima nggak terima, tiap kata dalam bahasa memang nggak netral. Mereka melekat pada konotasinya masing-masing. Mungkin karena itulah kata sering dikelompokkan pada halus dan kasar atau sopan dan nggak sopan. Ini mungkin, lho, ya. Saya bukan ahli bahasa, je. Saya cuma remah-remah dalam belantara blogger sejagat raya yang terbilang hebat kemampuan berbahasanya.

Dari Ibu Marsitta juga saya belajar kalau kata termudah untuk dipelajari adalah kata kasar. Saya nggak tau alasannya secara teori. Tapi, disadari atau enggak, kata kasar memang mudah sekali melekat di telinga. Sering saya cobakan, kok. Dan, memang benar kalau kata kasar lebih mudah untuk saya ingat dibandingkan kata yang lebih halus. Entah, hanya saya saja atau gimana, tapi silahkan dicoba masing-masing.

Eh, tapi, coba deh dilihat perkembangannya sekarang ini. Saya rasa orang lebih banyak mengenal kata kasar daripada kata yang lebih halus. Nggak percaya? Berselancarlah di facebook, bertebaran, kok, kata kasar itu. Bahkan, nggak jarang saya membaca status atau komentar orang-orang yang bikin saya bertanya, yang punya akun beneran manusia apa bukan, sih.

Nah, yang lebih ajaib lagi adalah, berkata kasar di facebook disertai dengan salah eja. Sedih ngeliatnya. Saya copaskan satu komentar yang saya temukan di sebuah status di facebook. Komentarnya begini, “Anjing U akun flopokator jangan mancing2 agama….”. Saya sampai bingung harus berekspresi seperti apa dengan komentar itu. Inginnya marah karena dia berkata kasar, tapi kok ya salah ejanya bikin lucu. Kalaupun mau tertawa, tapi orangnya sedang memaki masak harus saya tertawai, kan nggak lucu.

Mengerti kata kasar dari setiap daerah yang saya kunjungi membawa keuntungan tersendiri bagi saya. Salah satunya adalah untuk menjaga diri dan nggak mudah diperdaya. Terutama oleh orang-orang yang suka berkata kasar secara halus. Bahasanya lembut dan penuh senyum, tapi kata yang dia lontarkan adalah makian. Agak susah, sih, kalau dilukiskan dalam tulisan. Karena, penekanannya pada intonasi yang halus sedangkan kalimat yang diucapkan kasar.

Sudah menjadi pakem di banyak wilayah untuk mengungkapkan ketidaksukaan atau ketidakterimaan mereka atas kita dalam bahasa daerah mereka masing-masing. Saya sering pura-pura nggak ngerti bahasa mereka dan hanya berbahasa Indonesia hanya untuk tau bagaimana mereka memandang kita. Kawan saya mengistilahkannya sebagai berpura-pura jadi turis. Cara ini sering bekerja dengan baik. Sering juga gagal. Tapi, lebih sering gagalnya, sih. Tampang saya nggak ada turis-turisnya, je.

Di Malang, ada kebiasaan membalikkan kata. Saya lupa istilahnya. Mereka kerap membalikkan kata untuk menyembunyikan pembicaraan. Anggaplah sejenis kode rahasia yang sudah nggak rahasia lagi. Contohnya, malang dikatakan ngalam, senok dibilang kones, mangan dibilang nangam, dan seterusnya. Kata kasar kerap disembunyikan menggunakan cara ini. Hanya agar bisa ngatain orang tanpa orangnya tau. Sejenislah dengan bisik-bisik padahal berteriak tadi.

Beda lagi kalau kita bicara game online. Segala macam bahasa binatang bertebaran disana. Segala macam kata kasar, mulai dari kata yang berasal dari bahasa daerah hingga bahasa Indonesia, bertebaran tanpa sensor yang memadai.

Saya sendiri takjub dengan kata-kata yang ada di game online. Game yang notabene banyak sekali anak ada didalamnya. Anehnya, semua tampak biasa aja. Mungkin karena sudah jadi kebiasaan. Atau, mungkin karena game online nggak memunculkan wajah, karena itu, semua usia terlihat setara. Paling tidak, mereka menganggap orang-orang yang ada dalam game online tersebut seumuran. Padahal, banyak lho, orang-orang yang sudah berumur yang masih main game online.

Saya adalah salah satu orang yang percaya kalau berbahasa menunjukkan latar belakang seseorang. Ada pengaruh lingkungan dalam setiap kata yang dipilih dan diucapkan seseorang. Beberapa daerah memang menggunakan bahasa kasar sebagai bahasa pergaulannya sehari-hari. Tapi, ada beberapa daerah lainnya juga yang berbahasa kasar hanya untuk mengekspresikan kemarahan atau ketidaksukaannya. Semua kembali pada latarbelakang dimana orang tersebut tumbuh dan bergaul.

Yang cukup mengkhawatirkan saya adalah betapa lumrahnya orang yang menggunakan kata kasar dalam pergaulan di internet. Entah itu di sosial media maupun game online. Seolah kata kasar menjadi bahasa keseharian mereka. Untuk orang yang nggak terbiasa berkata kasar, saya sering membayangkan wajah penuh kemarahan ketika membaca kalimat atau komentar tersebut. Entah orangnya memang beneran sedang marah atau enggak.

Eh, ekspresi marah yang sering terlintas di kepala saya adalah seorang bapak-bapak dengan kumis tebal dan runcing, muka merah padam dan mata melotot. Nggak enak banget membayangkan wajah itu setiap saat komentar yang dipenuhi kata kasar tersebut melintas. Nggak percaya? Coba, deh, sekali saja. Dijamin, anda akan segera logout dari akun sosial media anda untuk kembali menyehatkan pikiran dari hantu om-om berkumis tebal itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 8 =

Togelers Juga Manusia

Radio