in

Kehilangan

Saat tersulit dalam sebuah perjalanan ada kehilangan. Dan takdir yang menyertai sebuah perjalanan adalah kehilangan. Karena itu setiap perjalanan terasa sangat sulit. Semakin hari, semakin banyak bagian dari diri kita yang menghilang. Mulai dari benda, waktu, hingga hubungan atau relasi yang kita miliki. Semua menghilang dengan sendirinya tanpa bisa kita atur atau kehendaki.
Seorang kawan pernah berkata bahwa kehilangan adalah dampak dari memiliki. Kita nggak akan merasa kehilangan kalau kita tidak merasa memiliki. Kalimat yang terlalu mudah untuk dimengerti. Saya rasa kita semua sangat mudah memahami kedua kalimat itu. Contohnya ketika kita kehilangan benda-benda yang kita miliki seperti jam, atau perhiasan, tentu logika untuk merasa tidak memiliki sehingga kita nggak merasa kehilangan sangat mudah untuk diimplementasikan.
Bagaimana dengan keluarga? Saudara? Pacar? Teman? Tentu nggak semudah itu mengaplikasikan logikanya.
Logika saya sulit untuk mencerna dan menerima bahwa saya tidak memiliki keluarga, atau tidak memiliki hubungan atau teman. Apalagi ketika direnungi lebih jauh, sulit untuk saya menerima kalau saya tidak memiliki badan.
Cukup lama untuk saya belajar, banyak kejadian yang harus saya lalui untuk bisa sampai pada satu pengertian bahwa, kehilangan bukanlah perihal memiliki atau tidak. Kehilangan adalah perihal keterikatan kita pada hal-hal yang kita senangi. Tentu nggak semua hal yang kita miliki kita senangi, bukan? Coba sesekali amati, ketika hal yang kita tidak senangi menghilang, adakah rasa kehilangan itu? Kemudian, coba amati ketika hal-hal yang kita senangi menghilang, tentu rasa kehilangan itu muncul dengan sendirinya.
Setiap kita, diberikan pilihan untuk menyenangi atau tidak menyenangi sesuatu. Sering kita sebut ini sebagai prefrensi, ada juga yang menyebutnya dengan selera. Entah itu benda atau perihal hubungan. Pilihan-pilihan atas kesenangan inilah yang melahirkan keterikatan kita pada hal-hal yang kita miliki. Bukan cuma hal yang kita miliki, pada banyak kejadian, ada orang yang menyenangi hal-hal yang tidak mereka miliki hingga secara tidak sadar merekapun terikat pada hal-hal yang tidak mereka miliki itu.
Dalam satu proses belajar, saya mencoba membagi-bagikan cincin dan permata yang sangat saya sukai. Berat rasanya di awal, perlu sekitar 3 harian untuk bisa benar-benar melepas dan memberikan semua yang saya sukai itu ke keluarga saya. Ada perasaan lega setelah saya membagi-bagikan perhiasan itu. Bukan rasa kehilangan yang muncul melainkan perasaan lega.
Dari sini saya belajar kalau untuk tidak merasa kehilangan dengan menganggap semua hal biasa-biasa saja, hingga seiring waktu, keterikatan pada kesenangan itu tidak muncul. Semua jadi terlihat seperti biasa-biasa saja. Ada ya sudah, nggak ada pun ya nggak apa-apa. Pemahaman ini kemudian saya terapkan pada hubungan dan seterusnya. Kecenderungan untuk menganggap semua hal biasa saja ternyata bukan saja melahirkan ketidak terikatan tapi juga melahirkan ketidak inginan pada hal-hal yang sama sekali tidak saya butuhkan. Lebih jauh lagi, menganggap semua hal biasa-biasa saja ikut mengubah pandangan saya mengenai merek, label atau apapun yang disematkan orang pada suatu hal. Melihat semua biasa-biasa saja memberi saya kejelasan tentang banyak hal termasuk pada tidak mengejar pilihan atas dasar kesenangan.
Perlahan, semua hal tentang kehilangan itu memudar. Perlahan juga rasa sakit karena kehilangan itupun menghilang hingga setahun belakangan saya sama sekali tidak merasakan kehilangan. Meski saya tahu ada banyak yang telah hilang, tapi saya sama sekali tidak merasakan kehilangan itu. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen + 8 =

Selamat Jalan Lord Didi