in

Koin

Saya adalah penyuka dompet minimalis. Istilah kerennya adalah Slim Wallet. Menurut saya, dompet jenis ini yang paling pas untuk digunakan sehari-hari. Paling pas rasanya jika masuk saku belakang. Nggak besar dan nggak tebal, tapi pas.

Jadi, kalau ada yang menyindir tuan berkantong tebal, bukan saya orangnya. Dompet saya nggak bisa ditebalkan. Mau diisi kertas sekalipun, nggak akan terlihat tebal. Yang ada, saking pas-nya ukuran dompet saya, malah terlihat seperti nggak bawa dompet.

Karena dompet ini ukurannya minimalis. Secara otomatis, nggak bisa diisi uang terlalu banyak. Paling banyak bisa diisi 20 lembar uang kertas dan 4 buah kartu. Pernah sekali waktu saya paksakan untuk membawa lebih banyak uang. Eh, malah dompetnya yang rusak.

Pernah saya mencoba mengganti dengan dompet yang lebih besar, hanya agar muat lebih banyak. Tapi, malah saya yang nggak nyaman. Lagian, untuk apa juga bawa uang banyak-banyak. Toh, mesin ATM sudah ada dimana-mana. Jadi, lebih aman rasanya jika membawa uang seperlunya saja. Eh, ini cuma alasan aja, soalnya saya nggak pernah punya uang banyak untuk dibawa. haha.

Dompet ini juga nggak ramah koin. Malahan, sangat anti dengan koin. Memaksakan koin untuk masuk berarti harus siap-siap untuk mengorbankan entah dompetnya atau kartunya. Tergantung mana yang sedang lemah dalam pertarungan dengan koin saat itu. Kartu ATM saya beberapa kali menjadi korban pertarungan ini. Hingga saya rasa lebih baik mengorbankan koin daripada ngurus ATM ke bank. Meski tellernya segar dan ramah, ribetnya nggak sebanding.

Sebab inilah saya jarang sekali menyimpan koin. Kembalian belanja yang berupa koin sering saya abaikan. Saya tidak begitu menggubris dimana mereka tergeletak. Kadang di atas meja, kadang di laci, kadang diatas TV, kadang pula di kolong ranjang, dimana-mana. Saya merasa nggak ada pentingnya menyimpan koin. Lebih banyak masalahnya daripada manfaatnya.

Itu dulu, semua berubah ketika dia datang membawa perih yang tak bertepi. Ciyee… Ini cuma kalimat kamuflase untuk mengganti kalimat “setelah negara api menyerang”, karena kalimat itu sudah terlalu mainstream. Asuoook. Semua berubah ketika transferan mandeg. Kejadiannya sekitar tahun 2009 lalu. Saat saya sedang berusaha untuk hidup merantau di Jogja.

Sebagai pekerja freelance, hidup saya tergantung dari transferan. Bukan tergantung dari banyaknya pekerjaan. Karena, dalam dunia yang saya geluti transferan adalah koentji. Meski persyaratan untuk berjalannya sebuah project adalah deposit. Seringkali pelanggan meminta sample dulu. Artinya kita kerjakan dulu baru mereka mau membayar. Sample juga bukan sembarang sample, melainkan, sample setengah jadi. Hitungannya, saya kerjakan dulu setengah baru mereka bayar setengah.

Itu kalau mereka setuju. Seringkali juga mereka memutus kerjasama ditengah jalan. Artinya, project sudah setengah jalan, mereka tinggal bilang batal dan pupuslah sudah kerjasama itu. Semudah itu? Iya, semudah itu. Lah, kenapa harus sulit, mereka kan belum mengeluarkan apa-apa, jadi nggak sulit buat mereka membatalkan. Tinggal bilang batal, titik.

Kejadian yang paling sering adalah, pembayaran yang tidak tepat waktu. Karena kesibukan si pemilik, seringkali project bisa terbengkalai hingga 3 bulan lamanya. Sample sudah disetujui, giliran ditagih deposit, malah si pemilik hanya pehape. Janjinya besok, bisa molor hingga 1 minggu kemudian. Pernah juga janjinya besok malah datangnya 3 bulan kemudian.

Waktu itu, saya sedang menangani sekitar 2 project yang nilainya bisa untuk membiayai hidup selama 3 bulan. Jadi, dalam pikiran saya, setelah semua project ini selesai, saya punya 3 bulan dana cadangan. Selama 3 bulan itu, saya akan cari project lagi untuk keperluan lain. Menurut saya, Inilah yang disebut masa stabil dalam hidup seorang freelancer.

Tapi, sayang sekali. Bayangan indah itu sirna begitu saja ketika ada kabar bahwa pemilik project mendadak harus pulang ke negaranya. Ketika saya tanyakan berapa lama, dia bilang untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Ini adalah mimpi buruk. Terlebih lagi, uang yang saya miliki hampir habis karena saya gunakan untuk bersenang-senang bersama kawan. Saya terlalu meyakini uang project akan ditransfer segera. Menurut saya, masa inilah masa kelam seorang freelancer.

Usaha untuk menghemat saya mulai. Pertama yang saya lakukan adalah berlangganan di burjo depan. Kedua adalah menahan diri dan mulai mengurangi rokok. Yang terakhir adalah nggak kemana-mana. Diam di kost dan membuang semua niat untuk bepergian. 3 Cara itu berhasil menghemat pengeluaran saya selama 2 minggu. Malang sungguh malang, hingga minggu ketiga project baru belum ada, sedangkan project yang sedang berjalan masih pending dan uang yang saya punya telah habis.

Harapan berikutnya untuk saya bisa hidup adalah dengan menghubungi kawan. Kebetulan juga beberapa kawan saya adalah orang-orang dengan karir mapan. Jadi, untuk meminjam uang sepertinya tidaklah masalah. Kembali, nasib naas itu datang. Setelah menghubungi beberapa kawan, semuanya mengaku sedang tidak memiliki uang karena berbagai alasan.

Sampai di titik ini saya sudah mulai was-was. Bingung mikirin gimana caranya bisa punya uang untuk bertahan hingga ada uang masuk. Was-was karena kebutuhan pokok seperti makan, minum dan rokok sudah tidak memungkinkan untuk saya beli.

Perihal rokok mungkin masih bisa di negosiasi, karena bisa saja saya meminta sebatang dua batang rokok kawan. Tapi, perihal makan dan minum? Nggak mungkin rasanya bisa saya batasi. Bisa saja saya makan hanya sekali, pagi harinya saja. Sisanya saya isi perut dengan air putih saja. Bisa. Dan itulah yang saya lakukan selama 2 hari. Hingga tiba hari ketiga dimana saya sudah tidak ada uang untuk membeli makan lagi. Nggak mungkin rasanya saya mengisi perut dengan air seharian.

Pada saat inilah saya nggak sengaja membuka laci meja dan menemukan beberapa koin yang masih tersisa. Pencarian koinpun saya mulai. Saya menelusuri semua pelosok kamar untuk menemukan koin yang tercecer. Ketika saya kumpulkan ternyata koin tersebut bisa saya gunakan untuk makan setidaknya 3 hari. Tapi, masih dengan pola sekali makan paginya, siang dan malamnya cuma minum air. Perihal rokok masih tetap setia dengan meminta sebatang dua batang dari kawan.

Koin yang selama ini saya sia-siakan terasa sangat berguna. Koin yang tidak pernah saya gubris keberadaannya tiba-tiba menjadi hal yang sangat penting bagi saya. Koin yang sering saya anggap hanya menimbulkan masalah karena merusak kartu ATM ternyata menjadi sangat bermanfaat. Sedangkan kartu ATM yang selama ini saya anggap lebih penting malah nggak bisa digunakan sama sekali. Karena memang nggak ada isinya. Dijual juga kartu ATM itu nggak bisa. Apalagi untuk membeli makan, tambah nggak bisa lagi.

Kartu ATM itu lebih banyak menemani saat saya memiliki uang, saat lagi kosong, dia abai. Berbeda dengan koin, dia ada ketika diperlukan. Dia tetap menunggu hingga suatu saat nanti saya akan memerlukannya. Benar-benar koin yang setia dan baik hati.

Saya sering sekali abai terhadap hal-hal kecil seperti koin. Seolah-olah saya tidak akan membutuhkannya lagi. Padahal, pada saat tertentu dia datang sebagai penyelamat. Begitu juga dengan hal lain dalam hidup saya. Hal yang sering saya anggap remeh ternyata menjadi penting pada satu saat tertentu.

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Abai terhadap hal-hal kecil akan membuat kita abai terhadap hal-hal besar. Seorang kawan pernah menasehati saya bahwa kita sebaiknya memperhatikan hal-hal kecil yang ada dalam hidup kita. Karena, semua hal-hal besar itu terjadi dari hal-hal kecil. Contohnya ya koin itu.

Dari sini saya sadar dan nggak akan menyianyiakan koin itu lagi. Saya memilih untuk membeli sebuah tempat yang saya khususkan untuk menyimpan semua koin yang saya punya. Hingga suatu hari nanti bisa saya ambil saat sedang membutuhkan.

Belum masuk ke hari ke 3, ternyata ada yang menghubungi saya untuk sebuah project baru. Kebetulan juga, pemilik project adalah kawan saya. Jadi, soal deposit masih bisa saya minta di awal. Di titik ini saya merasa diselamatkan oleh kawan saya. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 + fourteen =

Multilevel Marketing

Hari Raya Kemenangan