in ,

Kulit Itu Penting

Babi, daging yang katanya paling enak sejagat raya itu, ternyata nggak enak-enak amat jika dibandingkan dengan rasa kulitnya. Banyak warung babi guling yang justru memajang kulit babi sebagai penarik pelanggan. Bukan banyak lagi, hampir semua warung babi guling memajang kulit sebagai daya tarik. Karena, nikmat dan kriuknya kulitlah yang mampu mengundang pelanggan untuk makan disana.

Nggak jarang orang membatalkan untuk makan hanya karena tidak tersedianya kulit. Nggak jarang juga, orang memesan kulit dengan porsi khusus, entah itu porsi double, atau tambahan satu porsi kulit yang harganya setara dengan satu porsi nasi plus daging.

Di rumah saya, ketika hari Sugihan tiba, kulitlah yang pertama kali habis. Eh iya, Sugihan itu adalah hari dimana kami biasanya mengguling babi untuk persembahan. Sugihan berasal dari kata Sugi atau membersihkan. Seperti kebanyakan upacara umat Hindhu Bali pada umumnya, pembersihan yang dimaksud adalah pembersihan diri kita sendiri dan alam lingkungan.

Sugihan datang enam bulan sekali tepatnya seminggu sebelum hari raya Galungan dan dirayakan selama 2 hari. Secara pawukon Sugihan sendiri jatuhnya pada Kamis Wage Wuku Sungsang, sedangkan Sugihan Bali jatuh pada Jumat Kliwon Wuku Sungsang. Hari pertama disebut Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba yang berarti membersihkan alam lingkungan. Hari kedua disebut Sugihan Bali. Bali sendiri berasal dari bahasa sanskerta yang berarti kekuatan dalam diri. Jadi, Sugihan Bali bearti membersihkan kekuatan dalam diri kita sendiri.

Entah sejak kapan dan darimana tradisi menghaturkan babi guling ini berasal. Keluarga besar saya sudah melakukannnya sejak dulu. Saya coba cari di internet, pun saya coba bertanya ke orang-orang di sekitaran saya, nggak ada satupun yang tau kenapa harus babi guling. Kenapa bukan kambing guling, misalnya. Sekali-sekali upakara di Bali dibuat nggak melulu perihal babi, gitu.

Seperti keluarga Bali pada umumnya, keluarga besar saya adalah penganut Bhakti. Mereka hanya mengambil ajaran bhaktinya saja, tanpa mengambil pusing tentang sejarah, makna dan hal-hal rumit lainnya. Lebih sederhananya, apa yang ada mereka jalankan saja tanpa merasa perlu mempertanyakan. Eh, tulisan ini kan harusnya membahas soal kulit, kenapa jadi nyambung ke hal lain, sih. Duh, efek nulis kurangan kopi, nih.

Kembali, ketika Sugihan, atau hari apapun dimana ada babi guling di keluarga saya. Yang pertama ludes adalah kulitnya. Semua anggota keluarga adalah penggemar kulit, apalagi yang sudah digoreng. Renyahnya seperti krupuk, tapi rasanya, maknyus. Eh, kecuali kakek dan nenek saya, sih. Mereka sekarang sudah jadi mantan penggemar kulit. Berhubung gigi mereka sudah nggak ada, rasanya, untuk mencerna kulit mereka cukup kesulitan.

Dari babi, kita pindah ke ayam. Siapa yang nggak setuju kalau kulit ayam yang dikasi tepung lebih lezat daripada daging ayamnya. Saya rasa semua setuju. Eh, ada lho tragedi 2 orang sampai bermusuhan dan diem-dieman lebih dari seminggu hanya karena kulit ayam tepung siap saji yang dia sisakan untuk disantap terakhir malah diambil oleh kawannya.

Beneran, saya adalah saksi sekaligus pelaku dalam kejadian ini. Korbannya adalah kawan saya sendiri. Sebab itu, kawan saya menyimpan trauma tersendiri ketika makan ayam siap saji bersama saya. Dia lebih memilih menjauh atau memegang erat-erat kulit ayamnya daripada mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu.

Dari ayam, kita pindah ke buku. Apa sih yang dilihat orang pertama kali ketika membeli buku? Tentu sampulnya. Oke, kita nggak usah ngomongin soal membeli, deh. Kita ngomongin yang lebih sederhana. Ketika berbagai macam buku dijejerkan dalam satu rak. Apa yang dilihat orang untuk setidaknya mengambil buku tersebut dari rak? Tentu sampulnya, bukan. Diperlukan satu sampul yang baik dan bagus oleh sebuah buku untuk dilihat kemudian diambil dan seterusnya dibaca.

Kalimat bijak “Don’t judge the book by it’s cover” jadi keliru penempatannya jika ditelaah lebih dalam. Bagaimana tidak, orang sering salah kaprah mengartikan kalimat ini. Kebanyakan orang memandang isi lebih penting daripada sampul. Tapi, orang lupa, tanpa sampul yang baik, buku itu nggak akan pernah dilihat orang. Kalau nggak pernah dilihat orang, bagaimana isinya bisa sampai. Jadi, sebaik apapun isinya, diperlukan juga kulit atau sampul yang baik agar orang tertarik untuk membaca buku itu.

Begitu juga dengan keseharian kita. Nggak salah sih kalau ada sebagian orang yang menomorduakan penampilan. Yang keliru adalah, ketika orang tersebut merasa direndahkan karena penampilan. Disadari atau tidak, kebanyakan orang sudah sangat pelit dengan waktu. Mereka nggak mau menyediakan sedikit waktunya untuk mengenali kita. Mereka merasa cukup untuk mengenali hanya dari penampilan saja. Itulah kenapa, kebanyakan dari mereka sudah merasa berhak menjustifikasi hanya berdasar penampilan saja. Keliru jika kita menanggapi penilaian macam begini dari mereka.

Analogi yang sama juga digunakan oleh para politisi. Mereka paham kalau nggak banyak orang yang memiliki waktu untuk mengenali masing-masing dari mereka. Itulah sebabnya, bagi para politisi, citra itu penting. Citra seperti kulit babi yang gurih yang dipajang warung babi guling tadi.

Citra inilah yang mereka gunakan untuk memikat para pemilih. Mereka cukup paham bahwa kebanyakan orang akan percaya hanya dengan citra yang mereka tawarkan. Seperti halnya kebanyakan orang percaya dan membeli babi guling hanya karena melihat renyahnya kulit yang ditampilkan. Padahal, orang nggak benar-benar tahu kalau kulit yang tampilannya renyah itu bisa keras seperti batu, atau bisa juga alot seperti karet.

Berharap orang nggak menilai kita hanya dari penampilan rasanya seperti berharap politisi untuk berhenti mencitrakan diri. Sama juga seperti berharap warung babi guling berhenti mengiming-imingi kita dengan renyahnya kulit yang mereka pajang. Rasanya nggak mungkin akan terjadi.

Eh, tapi, kita kan sudah tau kalau para politisi itu hanya pencitraan semata. Kok, masih juga banyak yang percaya? Kita juga sudah tau kalau menilai orang itu nggak hanya sebatas penampilannya, tapi kok masih banyak yang lebih mempercayai penampilan? Kita juga sudah tau kalau kebanyakan kulit yang dipajang pada warung babi guling nggak serenyah penampakannya, tapi kok masih juga banyak yang percaya?

Saya memiliki kecurigaan lain, jangan-jangan banyak dari kita yang lebih senang menikmati imajinasi kita sendiri atas sebuah pencitraan dan penampilan hingga kita mengabaikan hal lain. Seperti halnya kita begitu menyukai cita rasa kulit babi guling yang renyah hingga lupa kalau nggak semua kulit itu renyah. Sepertinnya kita semua memang lebih mudah untuk percaya pada imajinasi kita sendiri daripada meluangkan sedikit waktu untuk mengenali dan menarik kesimpulan atas suatu hal. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve + 3 =

Miskin Ulian Tajen

Bermain Perempuan