in

Leave Out All The Rest

“Apa yang membuat seorang manusia berarti?” Pertanyaan ini sudah berhari-hari mengganggu pikiran saya. Bukan cuma berhari-hari, malahan berminggu-minggu. Eh, lebay banget ah.

Perjalanan mencari jawaban atas pertanyaan itu nggak mudah. Ada berbagai hal yang saya lalui. Hal-hal standar yang dilalui mungkin oleh banyak manusia lainnya. Mulai dari teman yang ternyata pura-pura teman, teman yang ternyata hanya seharga beberapa rupiah saja, dan beberapa kejadian mengecewakan lainnya. Hingga puncaknya, saya merasa menemukan satu orang perempuan yang saya anggap berarti. Tapi, dia hanya menganggap saya sebagai sebuah kesialan dalam hidupnya. Tau kan rasanya dianggap sebagai sebuah kesialan? Rasaanya lebih gimana gitu daripada dianggap remah-remah yang sudah biasa itu.

Pagi ini, saya terbangun dari mimpi buruk dan menemukan jawabannya dari sebuah lagu. Tepatnya, lagu dari Linkin Park yang berjudul Leave Out All The Rest. Lagu ini sudah saya dengarkan sejak rilisnya dan pernah menjadi lagu yang saya putar berulang-ulang seharian penuh ketika berita mengenai bunuh dirinya Tuan Chester Bennington memenuhi seluruh media. Awalnya saya hanya menganggap lagu ini sebagai catatan kematian dari Tuan Chester. Tapi, pagi ini, lagu ini memberi saya jawaban atas pertanyaan itu. Pertanyaan akan arti seorang manusia.

“Reasons to be missed” atau kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti “Alasan untuk dirindukan”. Disadari atau enggak, setiap orang mengejar itu. Mengejar alasan untuk tetap dirindukan oleh orang lainnya. Sebut saja nama-nama tokoh terkenal yang telah memberi manfaat pada banyak orang. Mereka adalah tokoh yang terus-menerus dirindukan. Bukan karena kebesaran namanya, tapi karena manfaat yang telah dia berikan pada manusia lainnya. Tentu kita semua nggak bisa seperti mereka yang terkenal itu. Lagipula, siapa saya yang hanya remah-remah ini untuk bisa menjadi seperti mereka. Terlalu jauh rasanya, terlalu nggak mungkin.

Saya teringat pada cerita seorang kawan yang berlangganan pada sebuah warung makan. Sebut saja warungnya bernama Warung Bu Nyoman. Warung ini menjual makanan khas Bali, apalagi kalau bukan makanan berbahan babi. Tersebutlah Warung Bu Nyoman yang ketika itu baru seminggu buka. Karena baru, warung tersebut sepi pembeli. Namanya juga warung baru. Orang juga masih berpikir untuk makan disana. Takutnya kurang memuaskan.

Kawan saya yang melihat kondisi Warung Bu Nyoman yang begitu sepi, memilih untuk makan disana. Menurut dia, warung sepi itu lebih menenangkan. Nggak terlalu ribet dan ribut. Terlebih, dia bukanlah seorang yang fanatik dengan makanan jenis tertentu. Dia bukan juga orang pemilih kalau soal makan. Menurut dia makan tujuannya hanya untuk kenyang, nggak lebih. Masalah selera, masih relatif dan dia sendiri bilang kalau selera itu nggak datang setiap hari, tapi pada hari-hari tertentu saja.

Beberapa minggu kawan saya menjadi langganan tetap Warung Bu Nyoman. Sampai akhirnya warung tersebut menjadi ramai dan kawan saya sudah nggak makan disana lagi.

Bulan berikutnya, ketika kawan saya makan disana lagi, Bu Nyoman si pemilik warung langsung menghampirinya dan mereka kemudian berbincang. Dari perbincangan itulah akhirnya kawan saya tahu kalau kedatangannya dulu memberi banyak sekali arti buat Bu Nyoman. Terlebih, karena sepinya warung, Bu Nyoman sempat berpikir macam-macam, mulai dari mencari penglaris hingga mendatangi dukun.

Kedatangan kawan sayalah yang meyakinkan Bu Nyoman bahwa warungnya masih bisa laku dan membatalkan niatnya untuk mendatangi dukun. Padahal, kawan saya hanya datang dengan niat sederhana, hanya untuk makan di tempat sepi. Tapi, untuk orang lain, terutama untuk Bu Nyoman, ada nilai yang diberikan kawan saya pada dirinya yang begitu besar artinya.

Saya sering berpikir monumental, berpikir tentang hal-hal besar yang menurut saya bermanfaat bagi banyak orang. Tapi, saya lupa, bahwa hal sesederhana makan di warung bisa memberi arti yang cukup besar pada hidup orang lain. Saya juga sering lupa bahwa sebuah senyuman, mendengarkan cerita orang lain, ngopi bareng sambil berbincang hal remeh bisa memberi arti pada kehidupan orang lainnya. Hal sesederhana itu bisa menjadi alasan orang untuk terus dirindukan.

Kesalahan terbesar saya adalah memandang “arti” itu dari sudut pandang saya sendiri. Padahal, “arti” yang sebenarnya diberikan oleh orang lain. Bukan kita yang memberi arti pada diri kita sendiri. Melainkan orang lainlah yang menilai arti keberadaan kita pada kehidupan mereka. Kita hanya bisa melakukan apa yang menurut kita terbaik. Sisanya, biarlah orang yang menilai entah itu bermanfaat atau enggak bagi mereka. Seperti judul lagu dari Linkin Park, “Leave out all the rest”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − five =

Radio

Penjahat Pencari Mati