in ,

Majalah Porno

Saya mengenal yang namanya majalah porno mulai kelas 3 SMP, sekitar tahun 95-96. Perkenalannya secara nggak sengaja melihat dompet kawan saya yang isinya gambar perempuan bule telanjang. Selidik punya selidik, ternyata gambar itu adalah potongan dari majalan porno yang kawan saya dapatkan dari kakaknya.

Majalah porno yang beredar diantara kawan saya ketika itu nggak utuh. Semua hanya berupa sobekan-sobekan halaman saja. Mungkin agar mudah disembunyikan dalam lipatan buku atau dompet.

Mungkin juga untuk meminimalisir resiko agar nggak ketahuan dari si pemilik majalah itu sendiri. Karena, mengambil majalahnya secara utuh akan memperbesar resiko ketahuan. Bukan cuma ketahuan oleh pemilik majalah, tapi ketahuan juga oleh guru di sekolah.

Hukuman yang diterima ketika ketahuan oleh guru di sekolah enggaklah terlalu berat. Cuma panggilan terhadap orang tua. Tapi, panggilan terhadap orang tua inilah yang sebenarnya paling ditakuti oleh siswa pada jaman itu. Karena, kenakalan yang diketahui orang tua itu berdampak langsung pada hidup dan mati kami para siswa. Ngeri rasanya membayangkan. Siswa sekarang nggak perlu ikut membayangkan, nggak akan kuat, Biar kami saja.

Jaman itu, istilah skorsing masih belum begitu populer. Selama 3 tahun bersekolah, saya belum pernah mendengar ada anak kena skorsing. Yang paling sering saya dengar adalah orang tua siswa yang dipanggil sekolah karena kenakalan anaknya.

Skorsing jarang sekali dijadikan sebagai hukuman. Mungkin, karena skorsing dirasa nggak menimbulkan efek jera ketika itu. Malah, kawan-kawan saya senang sekali kalau diberi skorsing. Bagi mereka skorsing sama dengan ijin untuk libur. Mereka bukannya takut, malah tertawa kegirangan.

Kembali pada majalah porno.

Sebenarnya, ketika itu, Peredaran lembaran majalah porno diantara kawan-kawan saya hanyalah sebagai bagian dari pencarian pengakuan saja. Sederhananya, siapapun yang memiliki sobekan majalan porno tersebut di nobatkan sebagai lelaki sejati dengan segala atributnya.

Otomatis pula, pemilik sobekan majalah tersebut akan menjadi incaran kawan-kawan dari segala penjuru kelas. Mirip seperti gula yang mengundang semut dari antah berantah untuk datang. Bukan untuk apa, tapi sekedar untuk membuktikan kebenaran adanya sobekan majalah tersebut.

Kami meyakini, tiada sah sebuah pengakuan tanpa bukti yang valid. No pict hoax kalau istilah jaman sekarang ini. Pembuktian itupun kami lakukan beramai-ramai. Otomatis pula, kami melihat gambar porno itu beramai-ramai.

Karena melihat gambar porno dalam keramaian jadinya malah ketawa-ketawa, nggak ada birahi sedikitpun. Jadi, kalau ada orang yang bilang majalah porno menimbulkan birahi, saya rasa orang itu belum pernah liat majalah porno dalam keramaian. Kalau nggak percaya, coba saja lihat majalah porno di pasar, atau di pusat keramaian lainnya, saya yakin nggak akan muncul yang namanya birahi.

Beda halnya dengan melihat gambar porno dalam kesendirian di dalam kamar. Saya rasa semua sudah paham apa yang terjadi. Bisa dipastikan sedang berlangsung Cabang Olahraga Lima Jari. Yang nggak ngerti artinya, silahkan ditanyakan pada laki-laki yang ada disekitar anda. haha.

Pembicaraan gambar porno ketika itu juga bukan soal birahi lagi. Tapi, soal eksistensi, soal keberanian, soal keingintahuan, soal siapa laki-laki sejati. Keliru jika melihat peredaran gambar porno ketika itu sebagai hal yang menyangkut birahi. Saya lebih melihat pada percampuran antara rasa ingin tahu yang tinggi dan penunjukkan eksistensi dan keberanian.

Yang pasti, angka kehamilan usia remaja ketika itu terbilang sangat rendah dibandingkan dengan sekarang ini. Paling tidak cuma itu yang saya tau untuk bisa mengukur angka hubungan seksual remaja ketika itu.

Mungkin saya salah menghubungkan antara birahi, pornografi dan angka kehamilan remaja. Tapi, setau saya, gambar porno ketika itu hanyalah sekedar gambar porno. Jangankan untuk mencoba melakukan hubungan seksual, untuk sekedar onanipun masih belum tau caranya.

Atau, jangan-jangan kami yang ada di jaman itu masih belum terlalu berani untuk menjelajah perihal seksual kecuali hanya sebatas melihat gambar porno saja. Nggak seberani anak-anak sekarang yang masih kecil sudah banyak tau perihal hubungan seksual.

Jadi, kalau disimpulkan, permasalah seksual remaja jaman sekarang bukanlah sekedar masalah pornografi. Permasalahannya ada pada keingintahuan yang tinggi dan keberanian mereka untuk mencobanya.

Tanpa kesadaran akan akibat atau tanpa sedikit menanam ketakutan perihal hubungan seksual sejak dini, saya rasa masalahnya hanya akan berputar-putar disitu-situ saja. Semua hanya akan kembali pada sensor nggak jelas tentang hal-hal yang berbau pornografi tanpa pernah mau jujur dan menggali lebih dalam tentang masalah yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − fifteen =

Gay-Gay-an

Tolol Tingkat Dewa