in

Meja Bundar

Kaum elite, namanya juga kaum elit pastilah berduit. Kalau nggak berduit namanya kaum melilit. Ya, melilit teman yang berduit. haha. Dunia kaum elit memang tidak bisa lepas dari yang namanya kehidupan malam. Mulai dari miras, obat, hingga perempuan. Jakarta undercover mengupas ini dengan baik. Tapi, kehidupan malam bukanlah milik kaum elit semata. Golngahwah (golongan menengah kebawah) juga memiliki kehidupan malam. Isinya sama, hanya saja kemasannya berbeda.

Perumpamaan yang paing mirip menggambarkan ini adalah nasi goreng. Jika nasi goreng dijual di restauran maka harganya bisa mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu, sedangkan nasi goreng yang dijual di warung pinggir jalan harganya nggak lebih dari 15rban. Padahal, sejauh yang saya tau, nasi goreng itu isinya sama. Bahan utamanya nasi itu.

Begitu juga dengan kehidupan malam. Jika kaum elit menikmati malam dengan diskotik, private villa atau hotel berbintang. Kaum Golngahwah menikmati malam di warung remang, homestay atau jika kepepet maka semak bawah bintang pun jadi.

Pembeda keduanya hanyalah biaya. Puncak-puncak nikmat yang dicari sebenarnya sama. Mabuknya sama. Nikmat esek-eseknya juga sama. Jika kaum elit mabuk dengan alkohol impor, maka kaum Golngahwah mabuk dengan alkohol lokal.

Tentu, alkohol impor lebih mahal dari alkohol lokal. Lebih higienis, belum tentu. Lebih aman, belum tentu. Lebih baik, belum tentu juga. Lalu apa yang menyebabkan harganya mahal? Karena impor itu. Label membuat mereka lebih mahal. Belum lagi para pemabuk gengsian yang seolah mengatakan bahwa mabuk dengan alkohol impor lebih enak daripada alkohol lokal. Padahal tujuan mereka hanya memamerkan kemampuannya membeli minuman mahal. Kalau soal mabuknya sih sama. Nggak sedikitpun beda.

Kalaupun mau dibandingkan, alkohol lokal lebih nendang daripada alkohol impor. Dari segi kadar alkoholnya pun, yang lokal lebih tinggi kadar alkoholnya. Jadi, kalau untuk mabuk, alkohol lokal lebih segera memabukkan daripada alkohol impor. Tapi, kalau hanya ingin bergaya dan berlama-lama, jangan sesekali mencoba alkohol lokal. Karena, dijamin, bakalan segera ditendang habis hingga sempoyongan dan pingsan. haha.

Di salah satu sudut warung remang itulah saya meminum tuak. Alkohol lokal murah meriah. hanya 12000 rupiah per botol 600ml. Meski murah, jangan sesekali menganggap remeh minuman ini. Rasanya yang sedikit asam dan manis sering membuat kita nggak sadar kalau kita sudah mabuk. Pelan tapi pasti, minuman ini menghujam saraf sadar kita. Eh, ini bukan bahasa lebay, tapi ini realita. Bahwa minuman ini banyak digemari ya karena ini. Murah, enak, dan memabukkan.

Jika di cafe atau club ada waitres. Maka di warung remang juga ada lho waitressnya. Hanya saja, penampilannya nggak semulus waitress yang ada di diskotik mahal. Maklum saja, harga makeup mereka berbeda. Juga, biaya perawatan tubuh dan kulit mereka jelas jauh berbeda. Belum lagi pakaian, parfum, wewangian dan susuk yang mereka gunakanpun nggak seimbang.

Susuk? ya susuk yang berupa jarum mistis bin goib itu. Rerata pekerja malam menggunakan susuk untuk menarik minat pelanggan. Sebelum merantau, mereka memasang susuk agar jalannya dipermudah. Mereka tidaklah jadi semakin cantik melainkan mereka terlihat lebih menarik. Karena orang cantik itu belum tentu disukai, sedangkan orang menarik itu banyak yang suka.

Bisik-bisik yang beredar, kalau sesiapapun yang sudah terkena pengaruh dari susuk tersebut akan susah untuk lupa. Ini jadi masuk akal ketika banyak mas-mas yang kemudian meninggalkan istrinya untuk bersama mereka. Atau mas-mas yang ketika memiliki uang lebih memilih menghabiskan uang tersebut di warung remang daripada diberikan ke keluarga. Itu penjelasan mereka, sih.

Kalau dilihat-lihat, apalagi kalau dalam remang. Baik itu perempuan yang bekerja di cafe, club atau warung remang, mereka sama cantiknya. Kecenderungan lelaki sepertinya memang begitu. Semakin remang, semakin mabuk, semakin cantiklah perempuan terlihat. Atau jangan-jangan ini memang pengaruh dari susuk yang mereka pasang tadi?

Rumornya sih mereka kebanyakan didatangkan dari tempat yang sama. Biasanya dari daerah jawa timur, paling mentok daerah jawa tengah. Kalaupun ada yang dari jawa barat. Tempatnya bukan di warung remang, tapi di cafe remang.

Beda lho warung remang dengan cafe remang. Jika warung remang banyak menyediakan minuman lokal. Cafe remang sedikit berada diatasnya. Mereka menyediakan bir, dan beberapa minuman impor. Tapi, hati-hati berbelanja minuman impor di cafe remang. Karena, mungkin minuman yang mereka jual adalah minuman KW1. Cafe remang lebih mirip diskotik, tapi dengan kemasan lebih murah. Biasanya cafe remang dikunjungi oleh bos-bos umur 50 tahunan yang masih doyan perempuan 20an. Ada juga OKB atau maklar tanah yang baru dapat deal. Ada juga kelas pekerja yang baru saja gajian.

Kembali, di sebuah meja bundar, di sudut warung remang itu saya duduk. Ditemani seorang waitress yang tugasnya hanyalah menuangkan minuman. Selain menjaga agar gelas nggak sampai kosong, juga untuk merayu agar saya membeli minuman terus. Istilah kekiniannya adalah, jangan kasi kendor. Paksa minum terus. haha.

Semakin banyak minuman yang dipesan, semakin untung warung tersebut, semakin untung pula si waitress. Mereka dibayar menggunakan hitungan botolan. Sekitar 3000an per botol. Jadi, semakin banyak botol yang laku, semakin banyak pulalah uang yang mereka dapatkan. Mereka nggak dibayar bulanan. Satu-satunya tumpuan penghasilan mereka, ya, itu, botolan tadi.

Pekerjaan mereka tidaklah mudah. Selain menuangkan minuman, mereka kadang diharuskan untuk ikut minum. Belum lagi kalau ada pelanggan yang nakal. Mereka harus rela dipegang sana-sini. Toh dengan bayaran atau tipping yang tidak seberapa. Tiping yang tidak lebih dari sekitaran 20-25 ribu.

Jam kerja mereka bisa semalam suntuk. Dari jam 3 sore hingga jam 4 pagi. Itupun belum tentu dapat uang, karena belum tentu ada pelanggan yang datang. Apalagi musim hujan, bisa dipastikan nggak ada orang yang datang kesana. Dengan semua tantangan itu, penghasilan mereka rerata tidak lebih dari 50 ribu per harinya. Itupun harus dipotong makan dan rokok. Saat sedang beruntung, ketika ada orang dengan uang lebih, biasanya mereka bisa mendapat hingga 150 ribu rupiah sehari.

Kalau ada orang yang bilang mereka bekerja enak atau jual diri. Saya tidak sependapat. Karena, menurut saya, mereka memeras keringat untuk bertahan semalam suntuk demi mendapatkan uang. Saya pernah mencoba untuk hidup seperti mereka. Datang ke warung tersebut jam 3 sore kemudian minum disana lalu pulang ketika mereka pulang. Tidak lebih dari satu minggu saya tumbang dan harus ke dokter karena badan saya nggak kuat.

Saya cukup mengerti apa yang sedang mereka jalani. Saya yakin, jika dibayar lebihpun saya nggak akan bisa bekerja seperti mereka. Kalaupun ada yang mau, saya rasa tidak lebih karena keterpaksaan. Karena tidak ada pilihan lain. Sedangkan ada tanggung jawab yang mereka pikul untuk mereka hidupi. Nggak banyak yang mengerti hal seperti ini. Nggak sebanyak orang yang melabeli mereka dengan ini dan itu yang nggak layak saya sebutkan disini. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 8 =

Ribet Masalah Nama

Ayu