in

Menanam Jagung

Waktu kelas dua SMP, bapak pernah mengajak saya untuk menanam jagung. Kebetulan waktu itu di sawah sedang tidak boleh menanam padi. Jadi, semua petani di desa memanfaatkan lahannya untuk bertanam kedelai, jagung dan tanaman lain yang tidak memerlukan terlalu banyak air.

Bapak saya adalah seorang petani pemula. Blio bertani karena terpaksa. Ada banyak faktor yang melatar belakangi keterpaksaan itu. Pertama, karena hibahan warisan sawah dari buyut yang tidak ada pengelolanya. Kedua karena beasiswa yang saya terima ketika SMP masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Ketiga, karena saya sebentar lagi memerlukan biaya yang cukup besar untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Keempat, karena omelan ibu saya tiap hari karena banyaknya waktu luang yang bapak punya.

Pekerjaan utama bapak saya sebagai penjahit pakaian, tapi karena di desa nggak terlalu banyak orang yang memerlukan jasanya, makanya blio banyak memiliki waktu luang. Waktu luang yang selalu dimanfaatkan untuk tidur. Berkali-kali juga blio mencoba mencari oderan dari garmen atau teman-temannya, tapi ya namanya juga di desa, tetap saja orderan datang dan pergi.

Kecuali saat kenaikan kelas. Bulan-bulan dimana orderan seragam sekolah sedang ramai. Saking ramainya, bahkan untuk tidurpun nggak sempat. Tapi, orderan itu hanya datang setahun sekali. Berkah yang datang pada keluarga saya ketika orang tua lain ngomel karena biaya seragam sekolah anaknya.

Kembali ke soal menanam jagung.

Saya ingat waktu itu kalau bapak saya sangat bersemangat untuk menanam jagung karena tergiur dengan keuntungannya. Banyak orang di desa yang juga bertanam jagung karena tergiur dengan harganya yang lumayan tinggi ketika itu. Kabar mengenai harga tinggi ini sebenarnya hanyalah gosip belaka, tapi seperti kabar-kabar lainnya di desa, kebanyakan memang akan dipercayai begitu saja.

Menanam jagung nggak seperti apa yang dilukiskan oleh lagu “menanam jagung” yang sering kita nyanyikan ketika SD. Menanam jagung nggak perlu mencangkul yang dalam. Menanam jagung hanya perlu membuat sedikit lubang pada lahan yang sudah dikeringkan. Lubangnya juga nggak perlu terlalu dalam, cukup beberapa centimenter agar bibit jagung punya ruang dalam tanah.

Saya adalah tukang buat lubangnya, sedangkan bapak saya adalah tukang isi bibitnya. Jarak tanam dan jumlah bibit tiap lubangnya sudah diperhitungkan secara seksama ketika itu. Maklumlah, yang namanya petani pemula bapak saya selalu menanyakan berbagai aspeknya ke hampir semua yang menurutnya bisa dipercaya.

Singkat cerita, semua lahan sudah penuh dengan bibit jagung, dan beberapa hari berikutnya ketika bibit sudah mulai menampakkan tunas, tibalah waktunya untuk memberi pupuk. Seperti sebelumnya, proses pemberian pupuk ini pula telah melalui perhitungan yang seksama atas informasi yang diterima bapak dari sumber-sumber yang dipercayanya.

Dua hari berikutnya, saya melihat bapak begitu bersemangat berangkat ke sawah untuk menengol tunas jagungnya. Tapi, naas, begitu sampai di sawah dilihatnya semua tunas jagung itu mati kering. Mirip seperti rumput yang sudah tua dan mengering. Bapak saya ngomel-ngomel sendiri melampiaskan kekesalannya ketika itu. Miriplah seperti orang marah-marah sama angin.

Selidik punya selidik, ternyata penyebab matinya tunas jagung ketika itu karena salah cara pemupukan. Tunas jagung harusnya dipupuk dengan pupuk yang sudah dilarutkan dalam air, dan jumlah pupuknya juga tidak terlalu banyak. Tapi, yang bapak saya lakukan adalah menumpuk pupuk yang belum dilarutkan ke tunas jagung lebih banyak dari yang di informasikan.

Menurut blio, dengan jumlah pupuk yang lebih banyak maka tunas jagung akan lebih cepat tumbuh dan lebih subur. Logika standar petani pemula, sih. Tapi, apa yang dilakukan bapak justru menyebabkan tunas jagung overdosis pupuk dan mati.

Seperti kebiasaannya, bapak menyalahkan semua orang yang memberinya informasi yang nggak lengkap. Blio ngomel-ngomel dan marah-marah dengan angin, dan apapun itu yang menyebabkan kegagalannya. Hingga akhirnya buyut saya memberi tahu kalau belum terlambat untuk menyiram air yang banyak pada tunas jagung untuk menyelamatkan tunas-tunas yang belum mati.

Beberapa bulan kemudian jagung sudah bisa dipanen. Hasilnya memang nggak sebanyak yang diharapkan, tapi tetap bisa menghasilkan.

Saya teringat cerita ini ketika seorang kawan bercerita tentang kondisi usahanya yang mulai redup dan dia terjebak pada bayang-bayang kegagalan.

Jika saya umpamakan tunas jagung adalah usaha yang baru tumbuh. Pupuk adalah modal yang bisa menyuburkan tunas tersebut, dan air adalah modal lain yang juga mampu menyuburkan tunas tersebut. Mirip seperti logika yang digunakan bapak saya, dia berpikiran sama. Dia menebar pupuk terlalu banyak. Dia juga melangkah dengan informasi yang kurang lengkap hingga usahanya dalam kondisi kurang baik seperti sekarang ini.

Jika dulu tunas jagung yang ditanam bapak bisa diselamatkan dengan air. Sepertinya usaha kawan saya ini juga bisa diselamatkan dengan air. Hanya saja, sekarang lagi musim kering. Dimana-mana dia nggak bisa menemukan air untuk menyelamatkan tunas-tunas lain yang belum mati. Alhasil, sekarang kawan saya kebingungan untuk menemukan air.

Disadari atau enggak, cerita tunas jagung bapak saya dan kegagalan usaha kawan saya memiliki satu benang merah yaitu ketidak sabaran. Mereka berdua ingin hasil yang cepat dan besar dari apa yang mereka lakukan tanpa memberi waktu usahanya untuk berproses. Proses adalah keharusan dalam setiap usaha. Membiarkan diri dan usaha berproses adalah sebaik-baiknya cara untuk belajar dan mengerti suatu usaha. Tanpa itu, ya ujungnya usaha bisa terbakar dan mati. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 15 =

Takut Sekolah

14 Jam Denpasar-Malang