in

Multilevel Marketing

Sekitar tahun 2009-2010 lalu, saya pernah diajak seorang kawan saya untuk ikut MLM (Multi Level Marketing). Nama MLM nya saya rahasiakan, sebenarnya bukan rahasia juga sih, karena, sepertinya semua orang sudah tahu. Terutama orang-orang terdekat saya juga sudah pernah saya ceritakan tentang ini.

Saya ikut MLM ini karena kebetulan ketika itu keuangan lagi cekak dan saya dalam posisi tanpa pekerjaan. Yang saya pikirkan ketika itu adalah mencari pekerjaan apapun yang bisa menghasilkan uang. Semua kemungkinan akan saya coba untuk menyambung hidup. Selama itu adalah pekerjaan yang baik dan menghasilkan uang. Maklum saja, ketika itu hidup sebagai pekerja freelance sedang dalam masa terendahnya. Terlebih lagi, saya sedang belajar merantau ketika itu, sedang belajar hidup di Jogja, negeri yang belum sepenuhnya saya kenali.

Jika sekarang banyak yang mempersepsikan “buruk” tentang MLM, saya rasa mereka keliru. Karena, nggak semua orang ikut MLM hanya karena iming-iming “cepat kaya” seperti yang banyak digembar gemborkan selama ini. Ada juga, kok, yang ikut MLM karena memang nggak ada peluang lain. Ada juga yang ikut karena hanya MLM yang terdekat yang bisa menghasilkan uang untuk menyambung hidup. Saya sendiri adalah pelaku sekaligus saksinya.

Saya berpikir realistis. Saya jual produk, setiap produk yang laku saya dapat bonus. Jadi, saya hanya memikirkan untuk menjual produknya dan mendapatkan bonusnya. Nggak pakai hitungan macem-macem yang ribet itu. Waktu itu, saya bisa menjual 1 produk selama kurang lebih 2 hari. Dan bonus setiap produk yang laku adalah 100 ribu. Jadi dalam perhitungan saya, paling tidak, 100 ribu bisa saya gunakan untuk bertahan selama 3-4 hari. Sisanya saya kumpulkan untuk bayar kost per bulannya. Sesederhana itu.

Nggak mudah, lho, untuk bisa menjual produk MLM. Ditengah semua orang yang mepersepsikan negatif atas MLM ini. Saya harus bertemu sekian banyak orang untuk memperkenalkan produknya. Ibaratnya, apapun produknya, asal berisi kata MLM sudah pasti buruk. Orang sudah tidak peduli lagi dengan produknya. Mereka lebih peduli pada kata MLM yang menyertainya.

Padahal, MLM sendiri hanyalah sistem pemasaran. Tidak berkaitan sama sekali dengan kualitas produknya. Orang gagal membedakan keduanya. Mungkin lebih tepatnya, orang gagal fokus atas keduanya. Orang lebih fokus pada MLM yang merupakan sistem pemasarannya daripada produknya sendiri. Padahal, kalau memang produknya bagus, mau itu dipasarkan secara konvensional, MLM, atau sistem pemasaran yang lain, tetap saja akan bagus. Begitu juga dengan produk yang nggak bagus, mau dipasarkan dengan cara apapun, produknya tetap saja nggak bagus.

Kegagalan fokus masyarakat atas MLM sebenarnya disebabkan oleh oknum anggota MLM itu sendiri. Mereka lebih menekankan pada sistem MLM yang menawarkan kekayaan sesaat daripada produk yang berkualitas. Coba saja amati cara seorang anggota MLM menawarkan produknya. Mereka pasti menawarkan kekayaan dan bonus yang tinggi pada calon konsumennya. Ditambah lagi dengan banyaknya anggota MLM yang gagal dan merasa tertipu.

Kawan yang menawarkan saya produk ini juga berpriaku yang sama. Dia lebih banyak membicarakan tentang bonus yang tinggi dan testimoni orang-orang yang kaya mendadak karena ikut MLM ini. Sedikit sekali dia membicarakan tentang produk yang ditawarkannya. Sebagai konsumen, saya lebih banyak diarahkan pada mimpi dan kekayaan daripada manfaat yang akan saya dapatkan ketika menggunakan produknya.

Begitu juga ketika saya diajak untuk ikut training di Surabaya. Pemateri yang katanya pemateri top nasional, Istilahnya ketika itu adalah top leader nasional. Juga melakukan hal yang sama. Yang dia tawarkan adalah mimpi-mimpi dengan jumlah uang yang fantastis. Yang dibicarakan adalah penghasilan dengan jumlah milyaran perbulan. Siapa yang nggak ngiler dengan tawaran ini.

Yang saya pahami, mereka hanya ingin merekrut orang dengan menanamkan mimpi akan indahnya hidup kaya raya. Sekaligus, mereka juga menanamkan ketakutan akan kemiskinan yang dialami banyak orang. Tentu, hal-hal emosional seperti ini sanggup menggugah banyak orang. Terutama orang-orang yang memiliki impian dan ketakutan yang sama. Tapi, siapa sih yang nggak bermimpi untuk kaya raya? Saya rasa semua orang memimpikan itu. Siapa pula yang tidak takut miskin? Semua orang pastinya takut untuk jatuh miskin.

Satu yang nggak pernah para perekrut itu pahami adalah dampak dari kegagalan atas buaian mimpi itu. Orang-orang yang dikecewakan karena mereka gagal menggapai mimpi mereka. Jika perekrutaannya berdasarkan emosi, maka kekecewaannya akan dilampiaskan dalam emosi pula. Mereka yang gagal inilah yang menyebarkan testimoni buruk dari MLM itu sendiri. Coba saja bandingkan, ada berapa anggota MLM yang gagal dan yang berhasil. Saya rasa 80-90 persen lebih anggota MLM yang gagal. Bayangkan juga, suara 90 persen orang yang gagal dengan 10 persen orang yang berhasil. Lebih keras mana suaranya?

Kita belum membicarakan tentang orang terlibat dalam money game yang juga sering dianggap MLM oleh kebanyakan orang. Lengkaplah sudah buruk segala buruk yang melekat pada MLM ini.

Setiap orang yang pernah memasarkan produk pasti tau susahnya menjual produk yang sudah kadung memiliki image buruk. Entah dari produknya sendiri, perusahaan penyedianya, sistem pemasarannya dan banyaknya testimoni buruk atas produk tersebut. Rasanya seperti menjalankan sebuah misi yang mustahil. Saya harus menemui sekitar 10-15 orang per hari hanya untuk bisa menjual 1 produk.

Kita belum bicara banyak hal yang menjadi tantangan di jalan. Belum lagi ketika bertemu teman di jalan. Tau sendiri gimana rasanya ketika kawan melihat kita berjualan. Nggak, mereka nggak akan memberi semangat atau motifasi positif. Mereka hanya akan tertawa geli melihat kita. Bukan menertawakan dalam pengertian menghina. Tapi, yah, begitulah seorang kawan.

Saya rasa, jika ada pilihan pekerjaan lain, saya akan mejalani pekerjaan lain tersebut. Itu kalau ada. Kalau nggak ada pilihan lain, terpaksa akan saya jalani. Hanya untuk menyambung hidup dan menunggu ada kesempatan pekerjaan lain. Bahwa MLM adalah sistem yang nggak baik, iya. MLM terlalu muluk-muluk juga iya. MLM hanya akan memperkaya orang yang merekrut kita juga iya. Jangan lupa juga, banyak dari kita yang tidak memiliki pilihan lain untuk menjalani itu. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − four =

Theist dan Atheist

Koin