in

Naik Angkot ke Singapura

Dulu, saya pernah mendengar ungkapan numpang ngerokok di Singapura. Tentu ungkapan itu keluar sebagai becandaan ketika dia mengkhayal menjadi orang kaya. Dan sekarang, saya benar-benar mengalaminya. Benar-benar numpang ngerokok di singapura. Eh, bukan cuma numpang ngerokok saja, tapi numpang makan sekali, juga numpang kencing sekali.

Perjalanan ini terasa sebagai perjalanan yang paling unik. Karena, mulai dari keberangkatan, petugas imigrasi memandang aneh ketika saya jawab “balik ntar malam jam 8,” ketika mereka menanyakan berapa hari saya tinggal disana.

Wajar sih mereka memandang aneh, karena jarang ada orang pulang-pergi seperti saya. Terlebih orang dengan penampilan seperti saya. Hanya memakai baju kaos, celana panjang, dan tas canvas. Bukanlah penampilan kebanyakan orang yang mungkin sering lalu lalang ke luar negeri untuk urusan bisnis.

Keanehan ini nggak cuma berlaku di imigrasi Ngurah Rai saja. Tapi, berlaku juga di Changi. Saya ditanyai macam-macam. Bahkan saya harus melengkapi form tujuan. Padahal, untuk orang yang datang hanya beberapa jam, saya nggak memesan hotel tempat menginap. Jadi nggak tau mau kemana. Terlebih lagi, di Changi saya dijemput oleh kawan saya disana. Dan, saya sendiri nggak tau kawan saya tinggal dimana, jadi apa yang harus saya isikan?

Akhirnya terbersitlah ide untuk mengisi kontak kawan saya disana, dengan daerah tujuan sembarang saja yang saya tau. Kemudian, saya coba tunjukkan tiket pulang-pergi yang saya beli sebelumnya. Dengan 2 kali bolak-balik antre di imigrasi Changi, akhirnya saya bisa lewat.

Dulu, ketika ke Singapura untuk pertama kalinya, saya nggak mengalami keribetan ini. Semua berjalan mulus dan lancar tanpa ada bermacam pertanyaan dari petugas imigrasi. Bahkan, tanpa ada pertanyaan satupun, baik itu dari keimigrasian Ngurah Rai maupun dari Changi. Semua lancar tanpa hambatan.

Mungkin, benak mereka berpikir kalau saya orang aneh dengan tampang nggak mampu yang gaya-gayaan pulang-pergi ke luar negeri. Kalau bukan orang gila, mungkin ada urusan lain-lain. Urusan lain-lain untuk orang dengan penampilan seperti saya bisa berkonotasi negatif. Dari sinilah kewajaran prasangka mereka muncul. Atau, mungkin saja keimigrasian sekarang sudah mulai berbenah dan semakin memperketat siapapun yang lalu lalang antar negara.

Menurut saya lebih bagus sih kondisi yang diberlakukan sekarang ini. Lebih tertib. Jadi, orang-orang nggak bisa lalu-lalang seenaknya. Terutama untuk orang-orang yang hendak berbuat kejahatan. Paling tidak, dengan lebih tertib bisa meminimalisir penjahat antar negara untuk berpindah seenaknya.

Karena makin tertib, jadinya nggak ada pilihan lain bagi orang-orang sekarang ini kecuali bekerja sama dan memenuhi syarat-syarat yang diminta. Dan yang terpenting adalah terbuka dengan tujuan dan didukung dengan surat dan bukti yang dimiliki. Memang agak ribet awalnya, tapi demi ketertiban bersama, saya rasa nggak ada ruginya.

Eh, tapi, sebenarnya keanehan itu bukan cuma dari petugas imigrasi saja, saya sendiri pun merasakan agak aneh memperlakukan pesawat seperti angkot. Nggak ada bedanya, kan. Angkot pulang-pergi hitungannya jam, pesawat juga pulang-pergi hitungannya jam. Jadi serasa naik angkot berbentuk pesawat. haha.

Dari awal, perjalanan seperti ini terlihat menyenangkan. Terlihat wow dan keren banget. Tapi, yang lupa saya bayangkan adalah capeknya. Capek bukan sembarang capek, tapi capek pakai banget.

Bayangkan saja ketika harus bolak-balik bertanya ke petugas tuna ramah di bandara Ngurah Rai hanya untuk menemukan tempat check in. Sudah petunjuk jalannya minim, petugasnya nggak jelas pula. Hasilnya, saya harus mengelilingi satu ruangan yang ada tempat check in-nya. Sialnya, tempat check in yang saya cari ada di lantai yang lain. Wuasu bener bandara satu ini.

Untuk yang ingin berangkat kemanapun melalui bandara Ngurah Rai, saya sarankan untuk menyiapkan tenaga ekstra dan meluangkan waktu untuk berjalan kaki. Sekalian juga mempersiapkan diri untuk ketersesatan. Entah siapa yang mendesain bandara ini, tapi dari beberapa bandara yang pernah saya kunjungi, cuma Ngurah Rai yang paling menjengkelkan.

Entah karena saya yang kurang mengerti atau gimana, saya selalu tersesat di bandara ini. Mulai dari keberangkatan domestik maupun internasional, ujungnya adalah ketersesatan. Yang saya tau adalah karena petugasnya yang kurang informatif dan petunjuk yang disediakan sangatlah minim. Kalau saja ada ulasan mengenai bandara, saya yang pertama akan memberi bintang 1 pada bandara Ngurah Rai.

Tapi, seberapa kesalpun saya dengan bandara ini, nggak ada pilihan lain selain cuma menerima saja. Nggak ada bandara lain, je. Mungkin begitu juga dengan situasi mereka yang setiap hari komplain dengan instansi pemerintahan. Seberapa kesalpun, tetap saja harus dijalani. Nggak ada pilihan lain, je. Jika saja ada pilihan lain, nggak akan laku pelayanan semacam ini.

Tapi, terlepas dari capek dan kekesalan yang terjadi. Perjalanan ini membuat saya mengerti kalau pulang pergi ke luar negeri itu nggak enak sama sekali. Nggak seperti yang di khayalkan orang kebanyakan. Naik angkot dalam bentuk pesawat ke Singapura itu sangat melelahkan. Jangan, kalian nggak akan kuat, biar saya saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × 1 =

Tolol Tingkat Dewa

Nikmat Ngerokok di Ngurah Rai