in ,

Ngartis Sosmed

Ada kriteria baru untuk Ngartis di Sosmed. Namanya haters. Asal sudah punya haters, entah itu sedikit maupun banyak, bisa dibilang seseorang itu sudah Ngartis di Sosmed. Bagaimana tidak, cuma Ngartis, toh, yang punya haters.

Yang nggak Ngartis nggak akan punya haters. Tanpa haters mereka adalah orang biasa. Sama seperti kebanyakan dari kita yang menggunakan Sosmed untuk bersenang-senang. Namun, ketika haters mulai menebar komentar di Sosmed mereka, otomatis, secara sah, mereka naik kasta menjadi Ngartis Sosmed.

Tapi, ini ada tapinya. Kebanyakan Ngartis Sosmed gagal mendefinisikan apa atau siapa yang tergolong sebagai haters. Asal komentar yang nggak mereka sukai atau nggak sesuai dengan keinginan mereka sudah otomatis dilabeli haters.

Banyak dari mereka yang hanya ingin mengoreksi turut dilabeli haters. Padahal, mengoreksi, kan, nggak sama dengan membenci. Atau, jangan-jangan ada arti lain dari haters yang belum masuk kamus, atau mungkin cuma saya yang belum paham perkembangan arti dari kata haters.

Label sebagai haters ini adalah bagian dari keseharian mereka yang suka mengoreksi beberapa kesalahan kata. Terutama mereka yang suka gatal dengan ejan yang salah, keminggris yang blepotan, hingga ragam kalimat yang gagal terjemahan.

Saya bukan orang yang gatal dengan ejaan yang salah, bukan, saya juga bukan “grammar nazi”. Saya hanya orang yang kadang suka usil sama para Ngartis Sosmed yang sering memajang kalimat gagal terjemahan.

Eh, iya, kalimat gagal terjemahan itu adalah kalimat yang diketikkan dalam bahasa indonesia kemudian di diterjemahkan dengan google translate. Tanpa cek dan ricek, langsung hasil terjemahan tersebut dipasang sebagai status di Sosmed mereka.

Padahal, meski banyak yang bilang google translate itu canggih bin cerdas, sering lho ada terjemahan yang nggak sesuai dengan EYD (Ejaan yang Ditenseskan). Ditambah lagi dengan si empunya status yang nggak paham dengan bahasa inggris tapi ingin terlihat cerdas dengan menggunakan bahasa inggris.

Ada juga kata yang masuk dalam gagal terjemahan. Kata tersebut berasa dari bahasa inggris tapi dituliskan seenaknya. Kata gagal terjemahan inilah yang banyak beredar di kalangan para Ngartis Sosmed. Kata-kata tersebut misalnya, Cash dituliskan case, withdraw dituliskan welldraw, debt collector dituliskan dept kolektor, peace dituliskan pace, dan sederet kata lain yang kadang memancing keuslian saya untuk berkomentar.

Pada salah seorang yang tersebut sebagai salah satu Ngartis Sosmed, saya pernah menemukan sebuah status begini: “Sekali-sekali Axis di Facebook”. Tentu, status tersebut disertai dengan 10 photo yang hanya menampilkan wajah si empunya status dengan berbagai macam gaya. Eh, emang wajah seseorang bisa bergaya? bukannya segituan aja?

Mungkin, ini mungkin lho ya, ada beberapa orang yang yang melihat wajah berbeda dari tiap sudutnya. Dan mereka ingin orang lain juga melihat setiap sudut wajah tersebut. Tapi, bukannya foto tiap sudut itu nggak penting-penting amat buat dilihat orang? Lah, kalau mau jadi model, penting buat di foto dari berbagai sudut. Apalagi kalau mau jadi Ngartis Sosmed. Hukumnya wajib untuk foto wajah dari berbagai sudut dan berbagai macam filter. Sekaligus buat nutupin kalau nggak punya konten juga, sih. #eh.

Kemudian, karena keisengan saya, saya mencoba berkomentar pada status tersebut. Saya hanya ingin mengoreksi kata “axis” yang sebenarnya maksudnya adalah “exist” yang berarti hadir atau ada. Eh, nggak taunya, si empunya status nggak terima dan akhirnya berujung pada saling berbalas komentar.

Saya: “Exist mbak, bukan axis. Kata itu berasal dari bahasa inggris yang artinya hadir atau ada.
Dia:”Sukak2 aku dong, ini kan wall ku, terserah aku mau nulis apa”.
Saya:”Oke mbak, selamat ngenglish”.
Dia:”Siapa yang bahasa inggris, aku nggak ada pake bahasa inggris”.
Saya:”Ya udah, terserah mbak deh. Btw sukak itu di Tabanan berarti keselek lho mbak”.
Dia:”Sukak2 aku dong, ngapain kamu ngurusin”.
Saya:”Oke mbak, selamat keselek”.

Saling balas komentar itu berujung pada pemblokiran aku saya. Eh, cerita nggak berhenti sampai disana. Karena kekepoan saya yang agak berlebih, saya coba masuk ke akun facebook saya yang lain hanya untuk melihat apa kelanjutan pemblokiran yang dia lakukan.

Kecurigaan saya benar, dengan segera si empunya status menuliskan sebuah kalimat begini, “Ini wall saya, terserah saya mau menuliskan apa. Haters harap menjauh, atau saya blok”. Duh, semenjak itu saya resmi menyandang status sebagai haters.

Si Ngartis Sosmed nggak paham kalau mengoreksi adalah salah satu bagian dari sayang. Mereka nggak tau kalau mengoreksi itu pekerjaan berat, kalau bukan atas dasar rasa sayang, nggak akan orang sibuk-sibuk mengoreksi. Mending tidur aja, je.

Saya punya kecurigaan lain. Mungkin, sekali lagi, ini cuma mungkin lho ya, kalau para pendaku Ngartis Sosmed hanyalah orang-orang yang menjajaki popularitas dengan aliran haters. Artinya, mereka yang populer karena sering menyebut haters dalam setiap kalimatnya, padahal punya juga enggak.

Bisa juga Ngartis Sosmed semacam ini disebut dengan populer tanpa prestasi. Eh, mereka punya prestasi, lho. Prestasinya dalam bidang paling sering menyebut haters hanya agar punya haters, padahal, enggak.

Mungkin juga, Mereka sengaja menyebut semua orang sebagai haters hanya seolah agar mereka punya haters. Ketika punya haters, mereka memancing simpati orang-orang yang nggak paham persoalan. Hanya karena simpati dan kebanyakan orang memang sedang kepo terhadap masalah orang lain, akhirnya dipencetlah itu tombol like, share dan subscribe. Semakin banyak orang yang klik like, share dan subscribe, semaking tinggilah drajat seorang Ngartis Sosmed.

Nggak masalah, sih, sebenarnya, orang yang populer dengan cara apapun. Yang masalah adalah, kadar popularitas seseorang menentukan seberapa pendapatnya didengar atau tidak. Karena, pendapat seseorang seharusnya didengar karena keahliannya dan detail pengamatannya atas suatu topik. Bukan karena popularitasnya.

Logikanya jadi rancu ketika popularitas menjadi acuan. Jadinya, ya, itu, nggak perlu banyak membaca atau berdiskusi, cukup dengan banyak-banyak nyebut haters aja orang bisa populer. Kemudian, karena populer, akhirnya bisa cuap-cuap sembarangan dan diengarkan oleh banyak orang pula. Itu sebuah kerancuan bin kekacauan namanya. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 15 =

Dedarinan

Hantu Perempuan