in

Nikmat Ngerokok di Ngurah Rai

Bisa merokok di sebuah ruangan yang agak lega di sebuah bandara adalah kenikmatan yang langka. Apalagi ketika ada sebuah cafe di dalam bandara yang mengijinkan pengunjungnya merokok. Iya, merokok. Sambil ngopi, icip-icip makanan dan ruangan ber-AC. Benar-benar sebuah kenikmatan yang langka.

Rasanya, dari semua bandara yang pernah saya singgahi, saya cuma menemukannya di terminal keberangkatan internasional Ngurah Rai saja. Eh, saya lupa, di bandara Ahmad Yani Semarang juga ada. Tapi, untuk yang di Semarang, tempatnya hanya terhubung dengan area merokok saja. Bukan berbentuk cafe yang khusus untuk perokok, bukan juga ruangan ber-AC.

Saya menemukan tempat ini secara nggak sengaja. Ceritanya ketika itu saya mencari ruangan merokok. Dan, seperti biasa, Ngurah Rai hanya menyediakan tempat merokok yang berada di ujung entah dimana. Perlu menanyai beberapa orang hanya untuk mencari petunjuk dimana tempat merokok itu berada.

Beruntunglah saya karena nggak jauh dari terminal keberangkatan ada sebuah cafe yang menyediakan ruang merokok. Nama cafenya TRS Dinner. Letaknya nggak jauh dari terminal keberangkatan. Nggak sejauh ruang merokok yang disediakan bandara yang notabene belum bisa saya temukan tempatnya.

Eh, ini bukan review berbayar atau sejenisnya. Ini hanya sekedar pengingat bagi perokok yang singgah di Ngurah Rai bahwa sekarang ada yang memperhatikan kenyamanan kita sebagai perokok. Kenyamanan ditengah gencarnya semua tempat menyingkirkan para perokok.

Sudah bukan rahasia lagi kalau bandara adalah tempat yang paling tidak manusiawi memperlakukan para perokok. Lihat saja ruangan merokok alakadarnya yang mereka sediakan. Baru belakangan saja ada beberapa tempat yang seolah menyediakan ruangan yang lebih baik. Tapi, kalau dilihat lebih jauh, yang mereka lakukan adalah penyingkiran secara halus.

Perokok dianggap seolah pesakitan yang harus disingkirkan jauh-jauh. Lihat saja dimana mereka memposisikan tempat merokok. Jauh, sangat jauh sekali, bahkan untuk menemukannya saja begitu sulit. Apalagi, belum tersedianya fasilitas yang sama dimana kita bisa mendengar panggilan ketika pesawat

Tapi, semua begitu berubah dengan adanya TRS Dinner. Cafe ini menghapus semua perasaan tersingkirkan itu. Merokok, ngopi dan makan sudah bukan lagi dalam ruangan pengap dan sempit. Bukan lagi tempat yang jauh dan susah ditemukan. Bukan lagi ruangan terbuka yang panas.

TRS Dinner membuat merokok lebih nyaman dalam ruangan ber-AC dan dekat dengan terminal. Tempatnya sangat mudah ditemukan dengan kopi dan camilannya terasa begitu nikmat. Tempat ini seolah menghapus hubungan nggak baik antara perokok dan bandara selama ini.

Sama seperti ruang merokok yang nggak pernah kosong, maka begitulah pula kondisi cafe ini. Selalu ada orang yang datang dan pergi. Tempat lainlah yang justru terlihat sepi. Mungkin ini adalah satu bukti bahwa perokok adalah segmen pasar tersendiri yang selama ini nggak diperhatikan.

Banyak yang tau kalau perokok mengutamakan kenikmatan merokok diatas kopi, camilan, atau ruang ber-AC. Maka dari itulah banyak dari perokok yang justru nggak peduli untuk singgah di tempat manapun yang disediakan kalau tidak diperbolehkan merokok. Dimana disediakan ruangan yang nyaman untuk merokok, kesanalah kami merapat.

Sebab itu, jika ingin ramai dengan pengunjung, rangkulah kami para perokok. Niscaya, keuntunganlah yang akan didapatkan. Dimana para perokok dikucilkan, disanalah kerugian akan datang. Percayalah… Percayalah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × three =

Naik Angkot ke Singapura

Ruang Untuk Cerita Baru