in

Nonton Joker, Biasa Aja

Beberapa hari ini media sosial sedang seru membahas kesadaran atas kesehatan mental. Iya, kesehatan mental yang memang diderita oleh sebagian orang di sekitar kita. Bukan gila lho ya, tapi gangguan yang terjadi pada mental seseorang karena dipicu oleh beragam hal. Bisa itu sebuah peristiwa, lagu, film, dan banyak lainnya.

Kebetulan, yang sedang ramai dibahas adalah gangguan yang terjadi karena film yang baru saja tayang, Joker. Beberapa orang yang menonton film tersebut mengalami depresi ketika menonton. Ada yang keluar keringat dingin, gelisah, gemetaran dan lain sebagainya. Bahasa kerennya, sih, ke-trigger, tapi menurut saya, lebih tepat dikatakan sebagai depresi. Karena, orang-orang yang kesehatan mentalnya terganggu memang akan mengalami depresi ketika ada hal-hal yang memicu. Itu sebabnya penderita dalam taraf mengganggu kehidupan sehari-hari diberi obat anti depresan.

Joker sendiri dalam film ini digambarkan sebagai seorang penderita gangguan kesehatan mental. Mungkin karena itu pembahasan mengenai kesadaran akan kesehatan mental yang lebih banyak muncul, terutama di Indonesia. Sedangkan, di negaranya sendiri, di Amerika sana, pembahasan yang ramai adalah perihal mempertontonkan kekerasan atau penembakan di tempat umum.

Banyak pihak yang menyayangkan ditampilkannya adegan penembakan di tempat umum dan membuat pelakunya, Joker itu sendiri, terlihat heroik. Adegan-adegan seperti ini dikhawatirkan ditiru banyak orang, terutama bagi para “violent loners” disana. Dikhawatirkan pula film ini memicu trauma dari keluarga korban. Karena, di Amerika sana, ada banyak sekali kasus penembakan yang dilakukan oleh para “violent loners” di tempat umum.

Mungkin banyak yang belum tahu kalau “violent loners” adalah orang yang selain menderita gangguan kesehatan mental, juga memiliki kecenderungan psikopat. Bisa dilihat dari sikap-sikap anti-sosial mereka. Para “violent loners” inilah yang sering sekali menjadi pemberitaan terutama ketika ada kejadian seperti penembakan masal, pembunuhan dan lain sebagainya.

Kembali ke kesehatan mental, Joker memiliki kecenderungan psikopat. Itu pijakan prilaku yang dijadikan dasar untuk cerita film ini. Tanpa kecenderungan psikopat, Joker, nggak akan membunuh, paling cuma duduk, berdoa dan menunggu keajaiban datang seperti yang banyak terjadi pada film Disney.

Perspektif baik dan jahat yang dibangun media sosial itu sebenarnya keliru penempatannya. Joker bukanlah dinarasikan sebagai orang baik berubah jahat, melainkan orang yang dikecewakan oleh lingkungannya yang kemudian menjadi psikopat. Nggak semua orang dengan gangguan kesehatan mental memiliki kecenderungan psikopat. Nggak semua. Prilaku psikopat nggak akan muncul kalau orangnya nggak memiliki kecenderungan itu. Untuk lebih jelasnya sebaiknya memang memeriksakan diri ke psikiater.

Jadi, ya sudahlah, nggak perlu membangun narasi orang baik berubah jahat atau sebaliknya. Penempatan narasi itu keliru ketika dikenakan pada film ini. Yang ada adalah orang perlu sadar bahwa orang dengan gangguan kesehatan mental itu ada. Mereka perlu teman untuk mendampingi atau untuk sekedar didengarkan.

Banyak yang menganggap orang dengan gangguan kesehatan mental itu lebay. Ini yang juga sering memicu kekecewaan pada diri seseorang. Seorang kawan pernah bercerita kalau dia mengalami depresi berat dan ketika mencoba berbicara pada keluarga atau kawannya malah di bilang lebay dan terlalu mengada-ada. Sikap itu membuatnya sangat membenci keluarga dan kawan-kawannya. Tapi, untungnya, kawan saya itu menemukan lingkungan yang bisa mendengarkan dan mengerti apa yang terjadi hingga sekarang dia bisa melewati banyak fase depresinya dengan lebih baik.

Sekali lagi, Joker menarasikan kalau orang dengan gangguan kesehatan mental itu ada dan prilaku psikopat seseorang bisa dipicu oleh kekecewaan yang dialaminya terhadap lingkungannya. Kebanyakan memang prilaku psikopat terpicu oleh kekecewaan dan kemarahan seseorang. Mereka, para psikopat itu, nggak punya rasa takut ataupun bersalah ketika melakukan perbuatannya. Karena, dalam pikiran mereka, mereka merasa melakukan hal yang benar.

Tapi, Bagaimanapun juga, lingkungan dan kehidupan akan selalu mengecewakan seseorang. Nggak mungkin tidak. Dan banyak hal-hal sederhana yang bisa membuat orang dengan gangguan kesehatan mental menjadi depresi. Hanya, masalahnya, ada orang yang menemani atau nggak. Itu saja. Sangat dianjurkan untuk orang yang merasa memiliki gangguan kesehatan mental untuk menemui psikiater untuk memahami kondisi yang sebenarnya daripada hanya berasumsi sendiri.

Filmnya sendiri biasa saja menurut saya. Nggak ada yang spesial kecuali aktingnya Joaquin Phoenix yang begitu total. Saking totalnya, blio menjelma lebih Joker daripada Joker itu sendiri, ini menurut saya, lho ya, entah menurut yang lain.

Suasana film yang memang dikemas sangat “gelap”, mirip seperti suasana yang dibangun film horor, sih. Mungkin seperti yang pernah digambarkan Rizal Mantovani untuk filmnya Jaelangkung, horor yang atmospheric. Karena, dari awal sampai akhir film memang terasa banget atmosfer “dark”-nya.

Secara penokohan, Joker menurut saya memang mencerminkan kondisi kehidupan beberapa orang yang ada di kota besar. Lingkungan yang nggak bersahabat, kehidupan yang sangat keras, dan kondisi mental seseorang yang terganggu karena bully dan kekecewaan yang diterimanya. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × three =

Hidup Lebih Hidup

Bebas