in ,

Pariwisata Bali Untuk Siapa?

“Buat apa anda tinggal di Bali kalau profesi anda tidak bersinggungan dengan pariwisata?” Kata seseorang terhadap saya. Padalah saya bukanlah pekerja pariwisata. Bersinggungan pun tidak.

Tampaknya, industri pariwisata terlalu mencengkram Bali begitu kuat. Hingga, setiap orang yang ada di Bali di stigmakan kalau bukan wisatawan ya pelaku industri pariwisata. Paling tidak, apa yang mereka lakukan bersinggungan dengan pariwisata. Mulai dari hulu hingga hilirnya.

Mungkin juga, orang tadi adalah pelaku pariwisata yang sedari dulu bergelut di dunia pariwisata. Jadi dunia yang dia tahu hanyalah pariwisata. Tanpa kenal dunia lain. Wajar sih kalau dia berkesimpulan begitu, karena, memang hanya itu yang dia tau.

Disadari atau tidak, banyak orang yang memandang pariwisata Bali dari sudut pandang yang keliru. mereka memandang pariwisata hanya terkait pada hotel, villa, tempat wisata, transportasi dan yang sejenisnya. Padahal, nggak akan ada pariwisata Bali tanpa alam dan budayanya. Logikanya sederhana, apa yang menarik wisatawan untuk datang ke Bali selain alam dan budayanya? Jawabannya jelas nggak ada.

Coba saja telusuri, orang datang ke Bali bukan karena mewahnya hotel, kok. Mereka nggak datang ke Bali untuk mencari segala macam atraksi sirkuit, kasino atau entah apalah itu yang hendak dibangun. Apalagi kalau ada yang bilang pembangunan pulau reklamasi untuk pariwisata Bali, sudah pasti tidak. Mereka nggak mencari itu di Bali. Bahkan, mereka nggak perlu jauh-jauh ke Bali untuk mencari itu. Di negara mereka sudah ada banyak dan lebih bagus. Mereka kesini untuk alam dan budayanya. Itu saja.

Villa, hotel, atraksi kesenian, pertunjukan, dan semua yang dilihat orang sebagai pariwisata sekarang ini sebenarnya hanyalah aksesoris. Semua itu hanyalah fasilitas tambahan hanya agar orang nyaman ketika datang ke Bali. Sajian utamanya tetaplah alam dan budaya Bali itu sendiri.

Jadi, berbicara pariwisata itu sebenarnya lebih tepat jika kita kita berbicara alam dan budaya Bali. Dan berbicara mengenai alam dan budaya Bali, lebih tepat jika kita membicarakan semua manusia yang hidup di Bali saat ini. Bukan hanya mereka yang hidup di dunia pariwisata saja.

Saya memandang pariwisata sebagai buah dari pohon yang ditanam oleh orang-orang Bali terdahulu. Ibaratnya kopi atau cengkeh dan komoditas lainnya. Orang terdahululah yang menanam untuk dipetik oleh anak cucunya hari ini. Begitu juga dengan pariwisata Bali. Orang terdahulu yang menanam pohon pariwisata untuk hasilnya dipetik hari ini.

Akarnya adalah alam dan adat istriadat Bali. Dari akar ini tumbuhlah batang pohon yang berupa budaya. Cabang, ranting dan daunnya adalah kesenian baik itu seni pahat, lukis, seni tari maupun kesenian lainnya. Bukankah itu semua yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bali?

Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin pohon tersebut bisa tetap tumbuh dan terpelihara jika setiap orang hanya memperebutkan buahnya saja? Bukankah pohon hanya akan terus berbuah jika dipupuk dan disirami dengan baik? Apa jadinya jika pohon tersebut hanya dipetik buahnya saja tanpa dipupuk dan disirami? Tentu pohon tersebut akan kering. Sudah tentu pula pohon tersebut tidak akan berbuah lagi. Begitu juga yang akan terjadi dengan pariwisata Bali jika semua orang hanya memperebutkan buahnya saja tanpa ingat menyirami akarnya.

Kalau mau diklasifikasikan, para penyiram pohon pariwisata Bali kebanyakan adalah orang-orang yang nggak bersinggungan sama sekali dengan pariwisata. Mereka bahkan nggak mendapatkan manfaat secara langsung dari pariwisata itu sendiri. Mereka adalah orang-orang yang sehari-harinya memang menjalankan adat dan tradisi Bali. Bukan, bukan karena ingin dibilang melestarikan budaya Bali, tapi karena memang itulah keseharian mereka.

Kalau dibilang pariwisata mempengaruhi ekonomi Bali, secara global mungkin, iya. Secara yang bisa dihitung oleh angka-angka statistik, iya. Tapi, Untuk orang-orang seperti saya, kawan-kawan saya, bahkan keluarga saya, termasuk kakek saya nggak bisa dimasukkan dalam hitungan global ini. Karena, mereka sama sekali nggak bersinggungan dengan pariwisata secara industri. Saya rasa, banyak pula orang yang nggak terkena pengaruh yang katanya ekonomi Bali secara global ini karena mereka memang nggak hidup dari pariwisata.

Buktinya adalah, beberapa kali ada gonjang-ganjing pariwisata Bali, mereka tetap begitu saja. Mulai dari peristiwa Bom Bali, hingga yang kemarin terjadi karena bencana meletusnya Gunung Agung, tidak sama sekali berpengaruh banyak pada mereka. Terutama untuk orang-orang disekitar yang saya kenal. Naik turunnya kondisi pariwisata tidak membawa hidup kami pada naik dan turun, tetep begini saja.

Secara ekonomi pengaruh erupsi Gunung Agung cuma satu ke kami, harga arak naik dan stok nya yang makin langka. Yang bikin agak terganggu adalah ketidakpastian stok. Karena, kalau nggak ada arak, kami dipaksa untuk membeli beer yang harganya lebih mahal dan kadar alkoholnya lebih sedikit. Otomatis biaya yang kami keluarkan jadi lebih mahal. Jika biasanya kami bisa menikmati malam mingguan dengan 2 botol arak seharga 50 ribu untuk bertiga atau berempat. Sekarang kami harus membeli beer 1 krat dengan harga 300 ribuan hanya untuk menikmati efek mabuk yang sama.

Melihat kondisi sekarang ini, sulit rasanya untuk menyatukan pariwisata sebagai industri dan Bali sebagai komoditas industrinya. Bagaimana mungkin bisa, kalau sebagai industri pariwisata memaksa orang bekerja dengan aturan yang ketat dan jadwal libur yang minim, sedangkan, mereka juga dituntut untuk menjalankan tatanan adat istriadat Bali.

Banyak yang mengeluhkan beratnya jadi orang Bali, karena mereka dituntut untuk menjalankan adat istriadatnya, sedangkan pekerjaannya nggak memberikan keleluasaan untuk itu. Lebih enak jadi orang lain dimana mereka hanya memetik buah dari pariwisatanya tanpa harus ikut menjalankan adat istriadatnya.

Jadi, sebenarnya pariwisata yang katanya industri dan pemasukan utama Bali itu hadir untuk siapa? Adakah dari sekian banyak dampak kehadiran pariwisata itu memberi manfaat lebih besar kepada kehidupan para orang yang menjalankan tradisi dan budaya Bali?

Atau industri pariwisata hanya bermanfaat untuk segelintir orang yang datang dan memetik buahnya saja? Hal ini perlu untuk kita tanyakan, mengingat, industri pariwisata telah mencengkram dan mengeksploitasi Bali terlalu jauh. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × four =

Sekolah Bukanlah Koentji

Valentine