in

PeeR (Pekerjaan Rumah)

Waktu kelas 2 SD (sekolah dasar) di lombok dulu, saya pernah dihukum keliling kelas. Maksudnya, saya dan kalau tidak salah 3 orang kawan saya harus berkeliling dari kelas 1 hingga kelas 6. Kami berkeliling sambil satu-satu menyebutkan alasan tidak membuat pekerjaan rumah (PR). Penyebabnya sudah tentu karena saya dan kawan saya tidak mengerjakan PR. Yang menghukum saya demikian adalah wali kelas waktu itu. Eh, tapi, anak SD di tahun 89-an itu nggak punya guru terpisah. Jadi, setiap mata pelajaran diajarkan sekaligus oleh wali kelasnya. Kecuali, pelajaran agama. Istilahnya, satu guru semua ilmu, kecuali ilmu agama.

Entah apa yang ada di benak saya ketika itu. Yang saya tahu saya tidak merasakan dampak apa-apa dari hukuman tersebut. Saya merasa sedang diperkenalkan ke seluruh kelas. Istilah kekiniannya, saya dibuat terkenal di semua kelas. haha. Mungkin karena saya nggak tau bahwa hukuman itu bisa mempermalukan siswa. Mungkin karena saya menjalani proses hukuman itu dengan beberapa teman makanya saya jadi merasa biasa saja.

Semua proses yang biasa saja itu kemudian berubah setelah negara api menyerang. haha. Bukan negara api sih, tapi ketika memasuki sebuah kelas dimana di kelas tersebut guru agama sedang mengajar. Kebetulan juga yang sedang mengajar tersebut adalah guru agama Hindu. Namanya kalau nggak salah Pak Wayan Sudirja. Blio adalah kawan bapak saya. Mereka sering bertemu di pura. Hampir setiap purnama-tilem mereka bertemu. Karena merasa berkawan, akhirnya batang sapu bulu yang ada di dekat blio melayang ke pantat saya. Nggak terlalu keras, tapi memalukan.

Pak Wayan Sudirja adalah guru yang baik. Cara bicaranya pun cukup lembut. Haluslah. Susah menemukan lelaki yang berbicara halus begitu. Menurut saya, blio bukanlah orang yang emosional. Bukan seorang guru yang mudah marah. Yang mendorong blio melayangkan pukulan itu adalah rasa tanggung jawab. Blio merasa bertanggung jawab atas kebandelan saya waktu itu. Seorang guru agama dan seorang kawan dari bapak saya adalah 2 tanggung jawab yang berat. Blio harus mempertanggung jawabkan moral ajaran agama yang diajarkannya ke sekolah dan bapak saya.

Eh, sebelum lupa, waktu itu, murid agama Hindu kurang lebih ada 10 siswa di seluruh kelas. Jadi, guru agama selalu ingat siapa anak siapa. Karena, rerata mereka selalu bertemu di pura setiap purnama-tilem atau kalau ada upacara di pura. Kebetulan juga, di lombok cuma ada satu pura. Dunia yang begitu kecil. Cukup untuk membuat anak-anak seperti saya kesulitan. Karena, apapun yang terjadi di sekolah akan selalu sampai ke telinga orangtua kami. Penyebabnya adalah tanggung jawab itu tadi.

Tahun itu, tahun 89-an, memukul dengan penggaris atau batang sapu bulu adalah hal yang biasa. Sudah menjadi hal yang lumrah anak yang dipukul oleh gurunya disekolah, selanjutnya dipukul juga dirumah. Ini biasa terjadi. Saya sering sekali kena pecut sebatang lidi oleh bapak saya. Yang pernah merasakan ini, sangat tahu pedihnya. Apalagi jika dirasakan ketika seumuran anak SD. Banyak yang bilang kalau kena pecut lidi segepok lebih nyaman daripada hanya sebatang. Sebatang lidi itu pedih masbro. Lebih pedih dari harus merelakannya karena nggak direstui orangtua. #ea.

Mungkin karena waktu itu belum ada Komnas Perlindungan Anak. Atau, mungkin juga karena orangtua ketika itu bukanlah orangtua yang menye-menye. Jadi, ketika salah, konsekuensinya ya pukulan itu. Lebih parah lagi, saya pernah dilempar gunting oleh bapak saya. Tau kan, gunting yang tajam itu? Kalau saja saya tidak pandai berkelit, mungkin saya sudah almarhum. Karena, mungkin gunting yang tajam itu menancap di punggung saya. Saya tahu gunting itu menancap, karena, saya temukan di tanah dalam keadaan menancap. Entah apa penyebabnya bapak saya melakukan itu, Saya lupa. Yang pasti, sih, saya melakukan kesalahan.

Mungkin, kalau itu terjadi sekarang ini, bapak saya akan keluar masuk penjara karena melakukan kekerasan terhadap anak. Atau, mungkin, kalau itu terjadi sekarang ini, media online yang haus clickbait itu akan memberitakannya dengan judul “Seorang bapak tega melempar gunting ke anaknya, ini penyebabnya”. haha. Dijamin, bapak saya sudah terkenal karena viral. Apalagi, sekarang ini ada banyak yang suka menyebarkan berita macam ini, tanpa peduli latar belakang dari peristiwanya.

Saya adalah salah satu anak yang malas buat PR (pekerjaan rumah). Saya lebih memilih untuk bermain, entah itu ke lapangan atau kemana saja daripada membuat PR. Beban terberat ketika itu adalah PR. Mungkin, hingga sekarang, PR masih menjadi beban berat seorang siswa. Dari istilahnya saja sudah memberatkan. Pekerjaan rumah, kenapa harus dinamakan pekerjaan? Bukankah ini namanya eksploitasi anak? Anak yang harusnya sekolah kok disuruh bekerja dirumah. Tanpa digaji pula, lalu, kalau nggak dikerjakan dihukum.

Kalau mau lebih halus, harusnya diistilahkan belajar dirumah (BD). Jadi masih nyambung istilahnya antara siswa dan belajar dirumah. Tidak ada yang menyangkut pekerjaan dan gaji, apalagi eksploitiasi terhadap anak. Dan, seharusnya itu optional atau bebas memilih. Yang ingin pintar ya belajar dirumah, kalau enggak ya silahkan, semua kembali kepada anak itu sendiri. Untuk anak seperti saya, sudah jelas pilihannya adalah bermain dirumah, tetap saja disingkat menjadi BD.

Logikanya jadi lucu, ketika di sekolah harus belajar, kenapa di rumah juga diharuskan belajar?. Kalau memang belajar ya disekolah aja atau dirumah aja, kan? Kalau di rumah pun harus belajar juga, lalu kapan anak-anak bisa bermain? Padahal, dunia anak itu adalah dunia main, betul?

Tapi begini, jaman dulu tentu berbeda dengan jaman sekarang. Saya merasa beruntung pengalaman itu pernah saya alami. Jadi, saya tau baik yang keras maupun yang lembek adalah cerminan dari kasih sayang, cerminan dari tanggung jawab. Bukan hanya guru yang keras saja yang merasa bertanggung jawab terhadap siswanya, guru yang berlaku lembek atau lembut juga bertanggung jawab pada siswanya. Hanya implementasinya saja yang berbeda. Tidak lantas semua terkotak jadi hitam dan putih. Satu benar satu salah. Nggak begitulah logikanya. Semua memiliki latar dan pemikiran sendiri dalam mempertanggungjawabkan profesinya.

Sama seperti Pak Wayan Sudirja, juga bapak saya. Keduanya nggak ingin saya mempermalukan diri atau menganggap dipermalukan di depan umum itu baik. Mereka merasa bertanggung jawab atas bagaimana sikap saya terhadap lingkungan ketika itu. Karena, kalau sikap saya buruk, bukan hanya akan mempermalukan mereka, tapi, saya juga akan mempermalukan diri saya sendiri.

Memalukan itu pedih lho, lebih pedih daripada kena pecut sebatang lidi tadi. Jadi lebih baik kena pecut sebatang lidi daripada nanti saya sering mempermalukan diri saya di hadapan lingkungan. Itulah kenapa mereka bersikap keras pada saya. Menjadi anak bandel itu memalukan ketika itu. Beda dengan sekarang, semakin bandel semakin keren. Makanya banyak yang membuat seolah diri bandel, padahal hati hello kitty. haha.

Ada sebentuk pengertian tentang moral dan tanggung jawab yang mereka ajarkan ketika itu. Dimana, setiap manusia, mulai dari anak maupun dewasa memiliki sikap moral dan tanggung jawab yang harus mereka jalani. Nggak ada seorangpun yang bisa lari dari itu. Apapun bentuknya, haruslah dijalani.

Ada resiko yang harus ditanggung ketika melakukan kesalahan. Toh, resiko itu juga agar lebih baik dan lebih hati-hati. Mungkin, kalau saja mereka nggak merasa bertanggung jawab atas sikap saya itu, mereka akan membiarkan saya melakukan apa saja. Mau jadi apa saja terserah. Terserah dalam pengertian benar-benar tidak peduli. Setidakpedulinya dia dengan apa yang kamu lakukan untuknya, karena sudah ada orang lain yang memenuhi hatinya saat ini. #ea.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − five =

Batu Yang Sarat Pesan Spiritual