in

Pemburu ABG

De Poyok tengah mengemudikan mobil barunya. Dia hendak menjemput pacarnya yang ketika itu baru saja pulang sekolah. Kelas 3 SMA tepatnya. Sedangkan De Poyok sendiri adalah seorang pria mapan dengan umur 30an. Usia yang lebih pantas menjadi om dari pacarnya. Kalau bukan om ya bapaknya.

Sudah hampir 2 bulan mereka menjalin cinta. Berbicara cinta jaman sekarang, apalagi antara 2 orang dengan jarak umur yang begitu jauh, tentu nggak akan lepas daripada berbicara seks dan uang. Itulah jalinan yang terjadi diantara keduanya. De Poyok memerlukan seks, sedangkan Luh Mawar memerlukan uang untuk membiayai gaya hidupnya.

Luh Mawar bukanlah nama sebenarnya. Tapi, saya sebut saja begitu agar cerita ini terasa seperti cerita-cerita skandal cinta pada umumnya. Cerita dimana hubungan dua insan dilandasi uang dan seks.

Luh Mawar, seorang pemudi setengah kota. Dia tinggal di daerah yang bisa disebut bukanlah desa ataupun kota.

Disebut desa karena mayoritas penduduknya bertani. Bisa juga disebut kota, karena penduduknya sudah mengadopsi budaya pop yang pada umumnya tumbuh di kalangan masyarakat perkotaan.

Sudah bukan rahasia lagi kalau sebagian besar penduduk di desa tersebut bersaing secara terselubung perihal gaya hidup. Mereka memboyong istilah sosialita ke desa. Jadilah mereka hidup dalam gaya sosialita tapi dalam batas desa.

Sebagian besar dari mereka sudah memiliki gajet keluaran terbaru. Belum lagi perihal eksistensi di jagat maya. Mereka seolah berlomba menjadi yang paling eksis di media sosial. Pagi, siang, malam ambil photo kemudian update status agar eksistensi di media sosial tetap terjaga.

Luh Mawar bukanlah bagian dari mereka yang hidup dalam lingkungan sosialita desa. Orang tuanya nggak mampu untuk membiayai gaya hidup seperti itu.

Keterbatasan ini membuat Luh Mawar harus menelan ludah ketika kawan-kawannya memamerkan photo-photo liburan atau photo makanan yang bahkan mengeja namanya saja mereka masih kesulitan.

Hingga suatu hari Luh Mawar bertemu dengan De Poyok. Lagi-lagi kalimat ini hanya untuk mengesankan kalau cerita ini mirip seperti cerita skandal cinta pada umumnya.

Pertemuan Luh Mawar dan De Poyok terjadi secara tidak sengaja. De Poyok yang memang seorang pemburu ABG untuk dipacari sedang kebetulan berada di lingkungan sekolah Luh Mawar. Tujuannya nggak lain adalah mencari ABG yang mau dipacari.

Luh Mawar sendiri bukanlah perempuan yang ingin ditemui De Poyok. Ada perempuan lain yang sudah diajak janjian. Tapi, setelah beberapa jam menunggu, perempuan yang ditunggu De Poyok nggak juga datang.

Daripada perjalanannya sia-sia, De Poyok akhirnya mencoba-coba berkenalan dengan siapapun yang ditemuinya. Kebetulan, yang pertama kali ditemuinya adalah Luh Mawar. Darisanalah kedekatan De Poyok dan Luh Mawar berawal.

De Poyok mendekati Luh Mawar dengan menawarkan makan siang di restaurant dimana para sosialita desa sering berkumpul. Tempat yang hanya bisa dilihat Luh Mawar lewat media sosial para sosialita desa.

Mendapat tawaran tersebut, tentu saja Luh Mawar tertarik dan tanpa pikir panjang mengiyakan ajakan perkenalan dari De Poyok.

Perkenalan itu diakhiri dengan diantarnya Luh Mawar pulang oleh De Poyok. Tentu dengan bertukar nomor handphone sebelumnya.

Hari-hari kemudian berlanjut dengan mereka berdua saling bertukar pesan pendek. Seperti pria pemburu pada umumnya, De Poyok sangat mampu mebuai Luh Mawar dengan menawarkan banyak hal yang ada dalam angan-angan Luh Mawar.

Hadiah pertama yang diberikan De Poyok pada Luh Mawar pada pertemuan mereka berikutnya adalah sebuah gajet, sebuah telephone pintar. Tentunya gajet yang sedang populer saat itu. Sebuah gajet yang hanya dilihat oleh Luh Mawar tanpa pernah menyentuhnya sama sekali.

Mendapati hadiah ini, Luh Mawar merasa sangat gembira. Luh Mawar merasa mimpinya seolah jadi nyata.

Kegembiraan ini tentu tidak disia-siakan oleh De Poyok. Dia menimpali kegembiraan Luh Mawar dengan ajakan untuk berpacaran.

Dalam kegembiraan itu tentu tanpa pikir panjang Luh Mawar mengiyakan ajakan De Poyok untuk berpacaran. Jawaban ini yang kemudian membawa Luh Mawar berduaan dengan De Poyok dalam sebuah kamar hotel. Iya, sebuah kamar hotel dimana mereka berdua bercinta untuk pertama kalinya.

De Poyok menyebut ini dengan istilah Malam Pertama. Meskipun terjadinya siang menuju sore, tetap saja disebut begitu. Dan meskipun juga Luh Mawar bukanlah yang pertama untuk De Poyok, tetap saja dia mengistilahkannya dengan malam pertama.

Semenjak saat itu, De Poyok dan Luh Mawar rutin melakukan hubungan seksual di hotel yang sama.

De Poyok sudah nggak memberi Luh Mawar hadiah lagi, melainkan De Poyok memberikan Luh Mawar uang saku sehabis mereka berhubungan. Bukan saja uang saku, sesekali De Poyok juga memberi Luh Mawar uang lebih untuk keperluan lain semisal beli pakaian atau aksesoris.

Keadaan ini sudah berlangsung 2 bulan lamanya. Hingga hari ini, saatnya De Poyok menjemput Luh Mawar disekolahnya.

Seperti biasa, setelah rutinitas seksual mereka selesai, Luh Mawar menerima uang saku dari De Poyok.

Dengan sedikit terbata kemudian Luh Mawar bilang kalau dia sudah seminggu terlambat datang bulan.

Sebagai pemburu, tentu De Poyok nggak mau bertanggung jawab. Karena sejak awal hubungan mereka hanya atas dasar uang dan seks semata. Dan, De Poyok membenarkan diri dengan telah membayar jasa yang ditawarkan Luh Mawar. Bentuknya tentu saja uang saku yang diberikan De Poyok setelah mereka berhubungan seksual.

Luh Mawar merasa sangat malu setelah tau kalau De Poyok memperlakukannya hanya sebagai PSK bukan sebagai pacar. Hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dibenaknya sebelumnya. Sementara dia juga nggak bisa berbuat apa-apa.

Luh Mawar nggak tau apa yang harus dia lakukan dengan keterlambatan datang bulannya. Dia nggak berani menceritakan keadaannya siapapun, bahkan pada orang tuanya. Dalam kebingungannya, Luh Mawar hanya bisa membiarkan semuanya berjalan sambil mencoba menutupi keadaannya.

Nggak sampai 1 bulan berlalu, Luh Mawar sudah nggak bisa lagi menyembunyikan keadaannya. Tanda-tanda kehamilannya sudah diketahui oleh orang tuanya.

Mau nggak mau, Luh Mawar memang harus menceritakan semua kejadian yang dialaminnya kepada orang tuanya. Dan, tindakan yang pertama kali dilakukan oleh orang tuanya adalah mencoba menghubungi De Poyok untuk mengetahui kejadian dari kedua belah pihak.

Nggak ada cara untuk Luh Mawar dan kedua orang tuanya untuk menghubungi De Poyok. Karena, semua akses Luh Mawar untuk menghubungi De Poyok sudah diblok.

Nggak ada lagi jalan yang bisa ditempuh oleh kedua orang tua Luh Mawar untuk meminta pertanggung jawaban selain melaporkan semua kejadian itu ke kantor polisi terdekat.

De Poyok sekarang sedang jadi buronan atas tuduhan persetubuhan dengan anak dibawah umur. Meski yang mereka lakukan adalah suka sama suka, tetap saja seorang anak dibawah umur seperti Luh Mawar dilindungi oleh undang-undang.

Nggak ada alasan apapun yang bisa membenarkan perbuatan De Poyok dimata hukum. Dia tetaplah orang yang bersalah karena telah bersetubuh dengan Luh Mawar apapun alasannya.

Hingga cerita ini diturunkan, belum diketahui keberadaan De Poyok. Kalimat penutup ini hanya agar cerita ini terkesan seperti sebuah berita kriminal agar orang-orang tau bahwa menyetubuhi anak dibawah umur adalah perbuatan kriminal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 8 =

Pura-Pura Mabuk

SMS Nyasar