in ,

Penjahat Pencari Mati

Saya nggak habis pikir bagaimana hukum bisa memberi dampak pada orang yang melakukan aksinya untuk mencari mati. Mereka bertujuan untuk mati, lho, bukan melakukan aksi yang beresiko kematian.

Kalau kita berbicara penjahat seperti begal, rampok dan maling, mereka adalah pelaku kejahatan dengan resiko kematian. Sedangkan, mereka, para penjahat kemanusiaan yang tergabung dalam kelompok teroris itu, mereka beraksi dengan tujuan mati. Nilai-nilai hidup apa yang bisa mengubah pandangan seseorang yang sedang mencari mati?

Kita nggak membicarakan orang-orang dengan pemikiran radikal. Kita sedang membicarakan orang-orang dengan pemikiran radikal dan prilaku ekstrimis. Beda, lho, radikal dan ekstrimis itu.

Radikal adalah sebuah pemikiran yang mendasar, sedangkan ekstrimis adalah prilaku yang melampaui batas hukum ketika membela sesuatu. Misalnya, melakukan kekerasan bahkan membunuh untuk apa yang dia bela.

Ketika keduanya, radikal dan ekstrimis itu, berpadu pada satu orang, jadilah dia teroris atau para penjahat kemanusiaan yang mencari mati.

Saya sebut mereka sebagai penjahat kemanusiaan karena mereka nggak segan-segan untuk melukai, bahkan membunuh orang-orang yang berbeda pandangan. Tindakan diluar batas hukum sepertinya sudah menjadi hal yang biasa.

Lalu, apakah orang yang sudah biasa bertindak diluar batas hukum bisa untuk kita batasi dengan koridor hukum? Saya rasa tidak.

Okelah mereka bisa kita batasi dengan hukum, tapi bukan hukum yang ada sekarang. Setidaknya harus ada aturan hukum baru yang mengatur mengenai ini. Aturan hukum mengenai penanganan terorisme yang tentunya sesuai dengan masalah-masalah yang berkembang sekarang ini.

Apakah negara kita sudah memiliki ini? Tentu sudah, tapi, baru berbentuk draft dan masih dibahas di gendung DPR sana. Soal penyelesaian, sepertinya kita hanya bisa berdoa saja.

Kembali, mereka adalah orang-orang yang sedang mencari mati. Karena, mereka meyakini diri mereka sebagai seorang tentara yang bertempur. Tiada kematian yang lebih mulia daripada mati dalam pertempuran. Itulah jalan menuju surga menurut mereka. Dan surga adalah satu-satunya yang mereka mau.

Bagaimana mungkin logika perang yang mereka yakini bisa dibatasi oleh hukum? Dimana-mana, dalam logika perang, hanya ada membunuh dan dibunuh. Nggak juga ada yang namanya HAM (Hak Asasi Manusia). Mereka menganggap “musuh-musuh” mereka bukan manusia dan layak untuk dibunuh.

Nggak masuk akal rasanya mendudukkan orang seperti mereka dengan logika-logika normal. Apalagi mengancam mereka dengan tindakan hukum. Rasanya udah nggak mempan. Lah, mereka datang cari mati, je, dihukum mati juga mereka senang.

Lihat deh para pelaku Bom Bali yang sumringah ketika dijatuhi hukuman mati. Nggak akan kita temukan penyesalan di wajah mereka. Malah mereka bangga karena merasa sedang dalam perjalanan menuju surga.

Apalagi dengan UU (Undang-Undang) penanganan terorisme yang ada sekarang. Dimana seseorang hanya bisa ditangkap setelah melakukan aksinya. Tambah senang mereka. Mereka hanya akan ditangkap ketika aksinya gagal. Ketika berhasil, apa yang mau ditangkap, mereka sudah jadi mayat, je.

Artinya, berhasil atau enggaknya sebuah aksi teror, akan selalu ada korban. Bagaimana mau mencegah adanya korban kalau pelakunya hanya bisa ditangkap setelah beraksi? Setelah mereka beraksi, selalu ada korban, kan.

Gimana nggak ada korban, mereka seperti Jailangkung, je. Datang tak diundang pergi tak diantar. Tiba-tiba, tanpa permisi langsung beraksi. Coba kalau mereka permisi dulu, minta ijin dulu sebelum beraksi, kan orang bisa siap-siap untuk kabur. Karena mereka seperti Jailangkung inilah maka korban nggak terelakkan. Dengan kondisi seperti ini, fungsi UU nya untuk apa, dong?

Yang paling masuk akal untuk mencegah jatuhnya korban, ya, dengan menangkap mereka sebelum melakukan aksinya. Sederhananya, seperti menangani orang “sakit jiwa”. Bawa mereka ke rumah sakit jiwa sebelum mengamuk di jalanan. Eh, bukannya mereka, para teroris itu, adalah orang sakit jiwa, ya?

Saya nggak yakin kalau pendekatan humanis akan memberi dampak pada mereka. Program seperti deradikalisasi dan lain sebagainya hanyalah buang-buang waktu semata. Gimana nggak buang-buang waktu. Lha, wong, mereka bertindak atas dasar keyakinan.

Mungkin nggak sebuah keyakinan itu diubah? Mungkin aja, kalau orangnya mau berubah, tapi, ada berapa banyak dari kelompok tersebut yang mau berubah? Sedikit sekali bahkan mendekati nol.

Mereka sendiri sudah terdoktrin pada ideologi yang tertutup alias nggak akan menerima hal lain diluar apa yang mereka yakini. Bagaimana bisa kita percaya kalau mereka akan membuka diri dan berubah keyakinan? Bukankah ini namanya buang-buang waktu?

Mungkin kita memang terlalu naif hingga percaya bahwa mereka masih memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Sama seperti percayanya kita bahwa kejahatan nggak akan bisa diubah dengan kejahatan. Itu kalau kita ngomongin kejahatan, lho, ya. Tapi, ini, kita sedang membicarakan soal terorisme. Soal kejahatan luar biasa. Kejahatan yang dilakukan oleh orang sakit jiwa.

Atau, mungkin benar juga bahwa ada orang-orang yang sedang melanggengkan terorisme itu. Ada orang-orang yang butuh terorisme tetap ada di dunia ini. Untuk apa? Nah, itu saya belum tau. Nanti deh saya tanya pada mereka yang tau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + nine =

Leave Out All The Rest

Cadar