in

Perubahan

Saya bingung mencari sebuah buku gambar yang saya inginkan. Mutar-muter kesana kemari tapi belum mendapatkan apa yang saya inginkan. Cuma ada 2 jenis buku gambar yang tersedia di pasaran. Pertama buku gambar ukuran A4, yang kedua adalah buku gambar yang lebih besar dari A4.

Yang saya cari adalah buku gambar dengan ukuran setengah dari A4. Tepatnya seperti buku tulis, hanya saja, tidak berisi garis-garis sehingga saya bisa menggunakannya untuk menggambar.

Pikiran saya sederhana. Dengan ukuran yang hanya sebesar buku tulis, maka akan lebih mudah saya bawa kemana-mana. Tapi, keinginan saya yang sederhana itu, tidak sesederhana realisasinya. Tidak sesederhana tujuan saya semula. Bahkan, karena saking sederhananya, hampir tidak mungkin untuk diwujudkan.

Setelah lama menunggu dan akhirnya tak kunjung menemukan. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi menunggu. Saya memilih untuk membuat sendiri buku gambar yang saya inginkan. Berbekal kertas A4 yang saya lipat jadi 2 dan saya lipat tengahnya, kemudian saya jahit sendiri dengan menggunakan benang dan jarum seadanya. Akhirnya saya mendapatkan buku yang saya inginkan. memang tidak sebagus buku hasil membeli, tapi, sangat sesuai dengan apa yang saya perlukan. Sangat sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Bukan hanya kali ini saja, beberapa waktu yang lalu saya mengalami hal yang sama ketika mencari soft case untuk laptop saya. Beberapa toko yang saya datangi tidak menyediakan soft case yang sesuai. Entah itu kebesaran, atau kekecilan, nggak ada yang sesuai dengan ukuran laptop saya. Hampir semua penjual mengatakan bahwa soft case untuk ukuran laptop saya memang tidak diproduksi. Jadi, hampir tidak mungkin saya memiliki soft case yang pas untuk laptop saya.

Seperti buku gambar tersebut, pilihan saya hanyalah menunggu atau membuat. Tapi, untuk urusan soft case, saya tidak bisa membuatnya. Karena, bahan untuk soft case tidak dijual bebas di pasaran. Atau, mungkin saya tidak tahu dimana penjualnya. Saya juga bukan orang yang mampu menerima berbelanja secara online sepenuhnya. Saya lebih percaya dengan berbelanja secara konvensional. Belanja dimana penjual dan pembelinya bertemu secara langsung. Dan, barang yang ditransaksikan bisa saya pegang secara langsung.

Kalaupun dipaksakan menggunakan kain biasa, soft case tersebut jadi nggak ada gunanya. Karena menurut saya, tujuan menggunakan soft case adalah untuk melindungi laptop itu sendiri. Disadari atau tidak, semaksimal apapun kita berusaha melindungi laptop kita, selalu saja ada benturan yang tidak kita sadari. Kadang, ketika di dalam tas pun laptop bisa berbenturan dengan benda lain, semisal tembok, lantai, meja, dan lain sebagainya. Untuk mengantisipasi inilah soft case itu diperlukan.

Tapi, tidak hanya itu pilihan yang saya miliki. Perihal soft case ini, saya memiliki pilihan lain. Yaitu, membeli kemudian memodifikasi yang ada. Maksudnya, saya membeli soft case yang kebesaran tadi, untuk saya modifikasi agar sesuai dengan ukuran laptop yang saya punya. Saya sebenarnya sedang bertaruh. Jika saja soft case tersebut tidak bisa dimodifikasi, maka rugilah saya. Tapi, untungnya, orang tua saja adalah penjahit yang keren. Terutama ibu saya. Dia berhasil memodifikasi soft case yang saya beli hingga sesuai dengan ukuran laptop saya.

Dua pengalaman itu membuat saya teringat pada Gandhi dengan kutipannya yang terkenal itu, ”Be the change that you wish to see in the world”. Kutipan ini muncul dari satu fragmen sederhana tentang seorang ibu yang meminta blio untuk berbicara pada anak lelakinya perihal memakan gula. Tentu dalam cerita itu blio tidak serta merta memberikan saran atau menasehati anak lelaki itu. Blio malah meminta si ibu untuk kembali 2 minggu berikutnya.

Setelah 2 minggu, si Ibu dan anak pun kembali menemui Gandhi dan meminta hal yang sama. Dan setelah itu blio kemudian memberikan nasehat perihal memakan gula tersebut kepada anak lelaki tadi.

Setelah pembicaraan dan nasehat perihal memakan gula tersebut selesai, si ibu kemudian bertanya, kenapa dia harus kembali 2 minggu berikutnya. Kenapa tidak dia berikan saja nasehat itu 2 minggu sebelumnya, pada kedatangan mereka pertama kali. Gandhi kemudian menjawab, 2 minggu yang lalu, blio masih memakan gula, blio tidak bisa mengajarkan anak lelaki itu perihal tidak memakan gula kalau blio sendiri tidak menjalaninya sendiri.

Segala perubahan, nasehat atau tindakan yang akan memberikan dampak pada masyarakat luas selayaknya memang dimulai dari dirimu sendiri.

Terlalu naif rasanya untuk merubah dunia, tapi yang bisa kita lakukan adalah melakukan perubahan-perubahan kecil di sekitar kita. Tidak semua hal di dunia ini yang sesuai dengan apa yang kita mau. Pilihan yang kita miliki adalah membuat atau memodifikasi yang sudah ada agar sesuai dengan yang kita mau. Bukan dimulai dari hal-hal besar yang ada di dunia, tapi dimulai dari lingkungan sekitar kita. Segala hal kecil di sekitar kita bisa kita ubah agar sesuai dengan yang kita inginkan. Sesuai dengan apa yang ideal menurut kita.

Seperti halnya buku gambar dan soft case tadi. Keduanya tidak tersedia secara ideal untuk keperluan saya. Keduanya perlu untuk saya modifikasi agar sesuai dengan apa yang ideal menurut saya. Begitulah menurut saya dunia ini bekerja. Kita bisa menunggu perubahan itu untuk diwujudkan, atau kita bisa melakukan sesuatu untuk perubahan itu sendiri. Bisa dimulai dari hal-hal kecil disekitar kita. Bisa dimulai dari apa yang bisa kita ubah, kecil sih, bukankah hal besar itu dimulai dari yang kecil?

Kebanyakan orang memilih untuk bercerita banyak tentang apa yang ideal menurut mereka. Tanpa berusaha untuk memberi contoh selain hanya dari cerita belaka. Mereka tidak sadar bahwa perubahan memerlukan contoh. Layaknya membeli barang, perangkat, atau apapun yang kita inginkan. Setiap toko selalu memberikan contoh kepada calon pembeli agar para pembeli bisa melihat dan merasakan langsung. Dengan melihat dan merasakan langsung, pembeli bisa teryakinkan akan kualitas barang tersebut. Dengan contoh, orang bisa melihat bentuk nyata daripada sekedar cerita abstrak belaka.

Kebanyakan orang memang perlu untuk melihat apa yang bagus menurut mereka. Kebanyakan orang akan meniru apa yang bagus menurut mereka. Dari sanalah perubahan itu bisa terjadi. Memulainya tetap saja dari diri kita sendiri. Hanyalah dengan percontohan ini, perubahan menjadi keniscayaan. Mungkin inilah yang dimaksudkan Gandhi dengan “Be the change that you wish to see in the world”, dengan mengubah diri kita terlebih dahulu untuk dicontoh orang lain. Untuk ditiru orang lain. Jadi, masihkah kita menunggu? atau mencoba mewujudkan perubahan itu dari sekitar kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − fifteen =

Sendiri

Golkar dan Intimidasi