in

Pura-Pura Mabuk

Bapak saya adalah orang yang galaknya minta ampun. Jika sekarang orang mengenal hadiah tempeleng sebagai hadiah paling kejam, mereka belumlah mengenal galaknya bapak saya. Dia adalah seorang bapak yang bisa melempar anaknya dengan gunting. Iya, gunting untuk memotong kain itu. Gunting yang terbuat dari baja asli dan cukup berat.

Minimal, kalau nggak menancap, ya, lebam terkena lemparan gunting itu. Tapi, untungnya bapak saya bukanlah seorang yang jago lempar-melempar. Karena itu lemparannya meleset. Seandainya saja bapak saya seorang bullseye, mungkin saya sudah almarhum sekarang ini. Atau, paling tidak di punggung saya ada bekas luka akibat gunting yang menacap.

Mungkin, dimasa sekarang ini sudah nggak ada lagi tipe bapak yang seperti itu. Tapi, di jaman itu, tipe bapak seperti bapak saya ada banyak. Saya pernah melihat sendiri seorang kawan sepermainan yang dipukuli bapaknya pakai sebatang lidi. BIsa dibayangkan perihnya. Ah, itu belum seberapa. Masih ada lagi yang lebih perih. Tulang kering yang ditendang sepatu PDL. Tapi, itu cerita lain.

Lain waktu, bibir saya pernah merah padam karena dibejeki cabai oleh bapak saya. Nggak masalah kalau diisi gula merah dan ada buahnya. Eh, itu rujak ya namanya. haha. Nah, bayangkan sendiri kalau anda dibejeki beberapa buah cabai rawit langsung di bibir. Kebayang perihnya. Apalagi saat kejadian itu saya baru berusia 9 tahun. Usia dimana memakan masakan pedas saja belum pernah.

Sebabnya sangat-sangat sepele. Bapak saya menyimpan setoples arak yang berisi rendaman janin kijang dan gingseng. Minuman itu katanya untuk obat sakit pinggang. Memang sih, minuman itu dikeluarkan hanya sekali-sekali saja. Tempat penyimpanannyapun tersembunyi. Saya hanya melihat bapak meminumnya beberapa kali saja. Sayapun cuma ingat kalau warnanya agak kecoklatan.

Entah apa yang ada di pikiran saya ketika itu. Mungkin karena keisengan dan kenakalan saya saja. Maklumlah, namanya juga anak kecil. Dimana kreatifitas dan jahilnya nggak ada batasannya. haha. Saya mencampur sesendok kecap manis dalam segelas air kemudian mengaduknya. Jadilah segelas air itu mirip dengan arak yang bapak saya minum.

Tentu nggak akan apa-apa kalau saya hanya meminum campuran kecap tadi dan diam saja. Tapi, namanya juga lagi iseng. Saya meminumnya di depan bapak saya dengan lagak seperti orang mabuk yang saya lihat di TV. Gambarannya persis seperti Jacky Chan yang sedang mengeluarkan jurus mabuk. Sempoyongan kesana kemari.

Hasilnya ternyata diluar dugaan saya. Bapak saya langsung menyambar gelas yang saya pegang. Saya diseret keluar kemudian diguyur air. Bapak saya spontan mengira saya sedang mabuk. Saya sendiri gelagapan dan nggak bisa ngomong apa apa. Gimana mau ngomong, saya kaget, je.

Ibu saya datang ngomel-ngomel memarahi saya. Saya sendiri nggak jelas mendengar apa yang ibu saya katakan. Nah, ketika ibu saya ngomel inilah bapak saya datang menyerang tiba-tiba. Derita yang saya kira sudah cukup sampai disana ternyata masih ada lanjutannya. Bapak saya datang membawa beberapa buah cabai dan langsung membejekannya ke bibir saya.

Situasi itu adalah situasi yang begitu dilematis. Ingin rasanya berteriak, tapi, semakin membuka mulut, cabai yang semula hanya di bibir bisa masuk ke mulut, dan semakin pedaslah rasanya. Kalaupun diam, perihnya bibir yang terkena cabai itu rasanya udah nggak tertahankan lagi. Ingin rasanya melawan, tapi apalah daya, saya hanyalah seorang anak kecil yang tenaganya nggak seberapa.

Bapak saya menghentikan siksaannya sesaat kemudian setelah ibu saya menarik tangannya dari bibir saya. Ibu kemudian membawa saya ke dapur dan memberi saya air gula untuk mengurangi rasa pedasnya.

Setelah semua mereda, barulah ibu saya menanyai saya tentang minuman itu. Sayapun menjelaskan kalau minuman itu hanyalah campuran air dan kecap. Bapak saya hanya diam saja setelah mencicipi minuman itu. Eh, bukannya diam karena apa, tapi, diam karena malu bercampur menyesal.

Seperti bapak-bapak galak dan ego bejibun pada umumnya. Bapak saya nggak meminta maaf. Jangankan meminta maaf, ngomongpun enggak. Yang ada dia membelikan saya beberapa bungkus wafer Superman. Saya sih senang-senang saja dikasi wafer Superman, enak, je.

Dengan segera kejadian itu terlupakan dan bapak saya nggak pernah lagi meminum minuman itu didepan saya. Sayapun kapok berlagak mabuk lagi. Jangankan berlagak mabuk, melihat minuman kecoklatanpun rasanya saya teringat perihnya bibir saya yang dibejeki cabai tadi.

Jika sekarang banyak yang ngeprank dan gagal. Saya rasa mereka harusnya belajar dulu siapa yang mau diprank. Jadi nggak asal prank dan mengabaikan resikonya. Atau, paling enggak, buat prank yang berkualitas dikitlah. Nggak asal prank, gitu. Malu, tau. Saya yang 9 tahun saja sudah bisa ngeprank yang berani dan berkualitas. Harusnya sekarang ini prank yang dihasilkan lebih baik.

Tapi, sayang sekali prank pertama saya gagal. Seandainya saja berhasil ketika itu. Mungkin saya bisa jadi prankster senior sekarang ini. Tentu, dengan kualitas prank yang lebih dari apa yang ada di youtube sekarang ini. Waktu kecil saja kualitas prank saya sudah begitu, gimana kalau sekarang ini, sudah pasti nggak murahan dan kacangan seperti kebanyakan yang beredar di youtube.

Mungkin, saran saya, sebelum ngeprank orang lain dengan resiko dua kali lipat, ada baiknya mencoba prank tersebut terlebih dahulu pada orang terdekat. Pada bapak sendiri, misalnya. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + fourteen =

Cadar

Pemburu ABG