in ,

Radio

Di lemari saya masih ada sepotong celana jeans rombeng. Mungkin lebih tepat dibilang celana belel. Celana yang dulunya panjang saya potong pendek. Sengaja bekas potongannya nggak saya rapikan agar terlihat keren, setidaknya menurut saya. Mereknya Lois, celana jeans kelas menengah. Dibawahnya sedikit dari Levi’s dan Lea, tapi diatasnya merek lain, kalau dihitung dari popularitas dan harga.

Saya mendapatkan celana ini secara gratis sebagai hadiah dari sebuah kuis di radio. Hardrock Radio Bali, tepatnya. Salah satu radio yang setiap hari saya dengarkan di tahun 2003-an. Radio ini juga salah satu yang rajin mengadakan kuis. Hampir setiap hari ada kuis dengan hadiah yang menarik. Tergantung sponsornya juga, sih, sebenarnya.

Di tahun 2003-an itu, Hard Rock Radio Bali punya seorang penyiar kece. Namanya Rani Marunduh. Soal orangnya, jangan tanya saya, soalnya nggak pernah ketemu. Rani kece karena dia bisa membuat pagi, setidaknya kalau jam 9 masih dihitung pagi, lebih gimana gitu. Susah untuk saya deskripsikan, tapi kalau mau disusun sebagai sebuah kalimat mungkin kalimatnya begini. Rani itu jorok tapi lucu plus centil, baik dan suka sekali memancing imajinasi pendengar. Begitu kira-kira.

Pada tahun itu, meski MP3 mulai merambah telinga banyak orang. Tapi, menurut saya, MP3 masih belum bisa mengalahkan radio sebagai hiburan utama. Paling nggak, untuk saya sendiri radio masih merupakan hiburan utama. Maklum saja, sebagai seorang pekerja komputer, nggak ada hiburan lain yang bisa saya nikmati selain melalui pendengaran saja. Mata harus fokus ke komputer dan badan juga nggak bisa kemana-mana selain didepan komputer.

Gawai yang beredar di pasaran ketika itu paling nggak dilengkapi oleh 2 fitur yaitu pemutar musik dan radio. Adapun video formatnya cuma 3gp. Video dengan kualitas nggak jelas, dan isi videonya juga kebanyakan nggak jelas. Mungkin karena itu kata 3gp sekarang ini jamak digunakan sebagai pengganti ketidakjelasan itu. Nggak percaya? Coba deh cari di google dengan kata kunci 3gp. Lihat sendiri apa yang muncul. Eh, ini untuk 18 tahun keatas ya. Buat yang belum cukup umur, jangan coba-coba, bisa fatal akibatnya. haha.

Saya masih ingat waktu itu menggunakan N-gage keluaran Nokia. Sebuah gawai yang diperuntukkan untuk bermain game. Bukan game online, tapi game-game offline seperti Sonic, Tetris, Super Monkey Ball dan lain sebagainya. Adapun game yang cukup berfaedah ketika itu cuma Dungeon and Dragon, itupun dengan berbagai keterbatasan. Meski gawai tersebut diperuntukkan bermain game. Tapi, fitur yang sering saya gunakan, ya, radio itu. Mungkin, karena waktu saya kebanyakan dihabiskan di depan komputer itu tadi.

Nggak banyak penyiar radio yang bisa seperti Rani Marunduh. Pada tahun itu, Rani Marunduh tergolong berani. Beberapa joke yang dia sampaikan memang terkesan vulgar. Eh, kalau untuk segmen dewasa bisa dibilang vulgar nggak sih? Soalnya, joke-joke yang dia lontarkan itu sebenarnya hanyalah joke harian pada umur dan kelompok tertentu. Saya nggak tahu kalau joke semacam itu diperbolehkan atau enggak untuk frekuensi publik semacam radio.

Kisaran tahun itu, radio seperti menemukan masa kejayaannya. Ada beberapa stasiun radio baru yang berdiri pada tahun itu. Mendengarkan radio juga begitu menyenangkan dengan kuis dan acara-acara yang terbilang cukup seru. Paling tidak, saya sebagai pendengar turut merasakan keseruan acaranya. Yang paling sering saya ikuti, ya, kuis-kuisnya itu. Susah lho untuk ikut kuis-kuis di radio. Bukan karena apa, tapi karena banyak yang mencoba ikut kuisnya.

Kuis radio biasanya diadakan via telepon. Untuk bisa ikut kuisnya paling nggak harus mendengarkan radionya trus langsung menelepon ketika kuis itu berlangsung. Line telepon yang disediakan cuma satu saja. Tau kan apa yang terjadi ketika banyak orang menelpon? Ya, benar, nada tuut.. tuut… terus.

Eh, ketika itu, radio juga mengkhususkan diri pada segmen pendengarnya, lho. Seingat saya ada Kuta Radio yang menggelorakan semangat Dugem dengan lagu-lagu Up Beat ketika sore menjelang malam. Apalagi ketika jumat malam. Mereka siaran langsung dari tempat Dugemnya langsung. Saya pernah melihat mereka siaran langsung di Kama Sutra di tepi pantai Kuta ketika itu.

Hard Rock Radio Bali sendiri mengkhususkan diri pada segmen anak muda pekerja. Mungkin istilahnya sekarang ini adalah Buruh Kerah Putih. Lagu-lagu yang diputar ketika itu juga lagu sekitaran top 40. Beberapa juga lagu populer yang nggak terlalu upbeat. Mungkin lebih ke Pop, R&B dan beberapa lagu dengan irama Jazzy.

Beda lagi ketika kita membicarakan Menara FM Bali. Radio ini mengkhususkan diri pada segmen penggemar House Musik. Padahal House Musik sebenarnya beda dari apa yang beredar di pasaran. Tapi kebanyakan orang menyebutnya sebagai House Musik. Menurut seorang kawan saya yang juga seorang DJ, jenis musik yang diputarkan oleh Menara FM itu namanya Funky Koplo atau ada juga yang menyebutnya dengan Funky House.

Musik jenis ini seringnya dimainkan di tempat seperti Akasaka yang kemaren sempat heboh itu. Dulu, ada satu tempat yang sering saya datangi yang juga memutarkan musik jenis ini, namanya Musro. Letaknya berdampingan dengan Discover Shopping Mall saat ini. Masih di areal Discovery Kartika Plaza hotel itu. Musik jenis ini juga merupakan musik wajib yang diputarkan di kafe remang, termasuk juga warung remang, dan segala yang berbau remang lainnya.

Oh, iya, ada satu lagi, Radio Gema Merdeka. Radio yang sering saya dengarkan ketika malam. Seingat saya, ketika kelas 3 SMP dulu, di radio ini ada acara curhat yang membacakan problematika cinta para pendengarnya. Saya lupa nama acarannya. Saya mendengarkan bukan karena curhatnya. Tapi, karena cuma pada acara ini yang memutarkan lagu Classic Rock. Lagu-lagu dari band seperti Duran-Duran, Gun’s N Roses, Def Lepard. Atau dari musisi seperti Bryan Adams, Rod Stewart, Sting, dan lain-lain. Lagu-lagu yang enak sekali buat menemani malam menjelang tidur, bahkan sampai ketiduran.

Saya mungkin adalah satu dari sekian banyak pendengar yang melewati masa-masa boomingnya sandiwiara radio yang legendaris itu. Ceramahnya Kiyai Zainuddin MZ yang juga legendaris itu. Hingga masa kejayaan radio dengan musik-musik dan acara yang lebih up to date. Hingga sekarang ini dimana radio seperti kehilangan pendengarnya. Bahkan, mungkin kehilangan perangkatnya. Beberapa kali saya mencoba mendengarkan radio online, tapi belum menemukan radio yang stabil untuk didengarkan. Mungkin, karena jaringan intenet yang belum mendukung, atau yang lainnya.

Sekarang ini saya malah melihat radio sudah tergantikan oleh JOOX, Spotify, dan penyedia layanan streaming lainnya. Mungkin karena dukungan perangkat, atau mungkin karena sebab lainnya, saya juga kurang tau pasti. Tapi, satu hal yang nggak bisa disediakan oleh penyedia layanan streaming yaitu keseruan itu. Radio itu seru, lho. Seru berkirim salamnya, seru menelpon untuk request lagunya, yang paling seru adalah menelpon untuk kuisnya.

Mungkin, suatu hari nanti radio akan kembali pada era kejayaannya. Mungkin juga radio akan semakin ditinggalkan banyak pendengarnya. Tapi, satu yang pasti, radio adalah salah satu hiburan yang nggak bisa digantikan oleh hiburan jenis lainnya. Karena itu tadi, radio punya ciri khasnya sendiri. Punya keseruannya sendiri yang tentu hanya bisa dirasakan oleh sebagian orang. Salah satunya adalah saya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + six =

Kata Kasar

Leave Out All The Rest