in

Ribet Ribut Melali

Jakarta – Bandung itu perjalanan yang sangat mudah dan menyenangkan ketika saya menjalaninya sendiri. Nggak banyak argumentasi dan macam-macam babibu. Perjalanan yang seharusnya ditempuh 2 jam ya akan dijalani selama 2 jam, kecuali ada halangan macet atau peristiwa lain ketika di jalan. Cepat, praktis dan nggak banyak beban.

Berbeda dengan ketika melakukan perjalanan bersama pasangan. Perjalanan yang harusnya ditempuh 2 jam bisa saja jadi 3-4 jam karena didahului oleh 1-2 jam diskusi dan omong kosong. Tau, kan, artinya omong kosong? Iya, omongan yang penuh kekosongan tapi menghabiskan banyak sekali energi untuk melakukannya.

Pernah, kami yang mendaku backpaker ini merencanakan perjalanan dari Bali ke Bandung kemudian pulangnya naik kereta dari Bandung ke Jogjakarta. Dari Jogjakarta baru kemudian balik lagi ke Bali. Energi sudah mulai terkuras semenjak kami berangkat dari Bali. Dimulai dengan perdebatan tentang pilihan maskapai penerbangan.

Saya yang cuma remah-remah ini menganggap semua maskapai sama. Justru, sebagai backpacker sedjati, saya memilih maskapai termurah. Tapi, dia adalah backpacker image alias backpacker yang apa-apa dicari informasinya melalui media sosial atau mbah google. Dia nggak akan mau naik Lion Air karena menurut berita, Lion Air pernah nabrak sapi. Belum lagi pemberitaan ini itu soal Lion Air yang cenderung negatif. Dia hanya bisa percaya pada Garuda Indonesia yang notabene harga tiketnya jauh lebih mahal dari maskapai yang lain. Setelah perdebatan panjang, akhirnya diputuskan naik Garuda, karena dia mengancam nggak akan ikut kalau nggak naik Garuda.

Perdebatan berikutnya adalah, dimana harus tinggal setelah sampai di Bandung. Saya memilih hostel yang baik tapi murah, sedangkan dia memilih hotel yang mahal nggak apa-apa asal bagus. Dua standar mengenai tempat tinggal ini sebenarnya nggak perlu terjadi kalau budget kami memungkinkan. Tapi, berhubung budget yang agak ngepas, saya lebih memilih untuk nggak terlalu menghabiskan banyak budget untuk tempat tidur. Toh bakalan di hotel cuma buat tidur aja, waktu akan banyak habis buat jalan-jalan dan menikmati suasana.

Dia berpikiran berbeda. Tempat tidur haruslah nyaman, karena disanalah tempat kita beristirahat. Belum lagi soal kamar mandi yang harus dilengkapi air panas, bila perlu harus ada bathubnya. Dan kembali akhirnya kami memilih hotel bintang 3 yang rate perharinya lumayan karena dia mengancam akan segera pulang kalau nggak tinggal di hotel yang dia mau.

Perdebatan berlanjut hingga mau jalan-jalan kemana, makan dimana, makan apa, dan seterusnya dan seterusnya. Semua itu terjadi di Bandung yang notabene kota yang sejuk dan seharusnya nyaman, tapi, kepala saya malah panas dan agak kurang nyaman. Ada yang tau efek kalau suatu benda dipanaskan kemudia seketika didinginkan? Iya, betul. Suatu benda yang panas tiba-tiba didinginkan akan menjadi getas dan mudah hancur. Begitulah yang sepertinya terjadi dengan kepala saya.

Dari Bandung menuju Jogjakarta, kembali moda transportasi menjadi perdebatan yang sengit. Dia memilih untuk naik pesawat dari Bandung ke Jogjakarta. Saya sendiri memilih naik kereta api. Bukan karena apa, tapi karena saya dan dia memang nggak pernah merasakan naik kereta api. Bukankah sebuah pengalaman baru adalah bagian dari berwisata itu sendiri? Bukankah mencoba hal baru adalah bagian dari perjalanan itu sendiri?

Setelah lama berdebat, akhirnya diputuskan naik kereta api. Karena, saya memberinya pilihan, kalau mau naik pesawat, silahkan naik pesawat, tapi saya akan tetap naik kereta. Dia bisa naik pesawat sendiri, kan. Mau diapain juga, saya tetap memilih naik kereta, saya memberinya ruang atas pilihannya dan saya juga memberi ruang atas pilihan saya sendiri. Ternyata dia memilih untuk ikut naik kereta, karena dia nggak berani naik pesawat sendiri.

Dan perdebatan lain berlanjut hingga perdebatan lainnya dan perdebatan lainnya lagi. Nggak heran sih, saya merasakan kelelahan yang sangat sehabis jalan-jalan. Karena saya sendiri nggak menikmati esensi dari liburan itu sendiri. Saya nggak menikmati santai dan nyaman dari liburan itu.

Berbeda dengan kali ini, ketika saya menjalani semua sendiri. Jam 5 pagi berangkat ke airport Ngurah Rai yang ternyata harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sekian ratus meter. Eh, tau nggak kalau Ngurah Rai adalah tempat olah raga pagi yang paling ekstrim. Udah nggak sarapan, dipaksa jalan ratusan meter pula. Tempat parkir motor yang letaknya jauh dari terminal keberangkatannya memaksa semua pengendara motor untuk berjalan kaki. Benar-benar bandara yang nggak manusiawi bagi pengendara sepeda motor.

Nggak perlu ada perdebatan lagi soal maskapai mana yang dipilih. Saya dengan segera bisa memilih maskapai termurah dengan menyampingkan segala pemberitaan yang menyangkut maskapai tersebut. Saya bukan sultan, je. Jadi semua saya sesuaikan saja dengan budget yang saya miliki. Nggak perlu ribet dan ribut lagi. Cus, berangkat ke Jakarta.

Begitu juga dengan Jakarta-Bandung, Rencananya saya menggunakan kereta api karena memang kangen rasanya naik kereta api. Tapi, apa mau dikata, kereta Jakarta-Bandung cuma tersedia pagi. Saya juga nggak bisa tahan untuk di Jakarta terlalu lama karena memang nyetresin. Akhirnya pilihan jatuh pada travel. Karena, cuma travel yang tersedia 24 jam dan berangkat tiap jam. Biayanyapun terbilang murah. Nggak perlu ada perdebatan tentang keselamatan dan lain sebagainya, cuma perlu menunggu dan berangkat dan sampai di Bandung. Secepat itu dan sesederhana itu.

Nggak banyak perdebatan membuat semua perjalanan jadi ringan dan menyenangkan. Termasuk ketika mau makan di pinggir jalan atau mau makan di restaurant. Nggak perlu pertimbangan dan babibu yang panjang. Semua tinggal dijalani saja dan disesuaikan dengan budget saja. Eh, iya, satu lagi. Saya bisa berlama-lama duduk atau ngopi di tempat yang saya mau. Entah itu Ciwalk, Braga, maupun yang lainnya. Saya nggak harus membatasi waktu agar sempat berbelanja, karena saya nggak suka belanja, je. Tau sendiri kan gimana kalau jalan-jalan sama pasangan, waktu untuk berbelanja menjadi sebuah keharusan dan prioritas diatas waktu nongkrong dan menikmati suasana.

Seminggu di Bandung terasa kurang banget. Saya belum sempat menikmati ngopi sambil menikmati senja di Cikapundung, belum juga menikmati Lembang dan yang lainnya. Lain kali, ketika ada waktu libur dan ada budget saya pasti akan kembali lagi. Sendiri tentunya, biar nggak ribet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 − one =

Hantu Perempuan

Ndas Bedag